BUNGKUS DAGING KURBAN RAMAH LINGKUNGAN Saat Kreneng & Daun Jati Berguna Lagi

Koran Solo/Iskandar
ramah lingkungan: Panitia menyiapkan kreneng sebagai wadah daging kur­ban di Masjid Jami’ Muslim, Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Minggu (11/8).

Candra Mantovani

Puluhan warga menggan­tung beberapa kambing yang sudah disembelih di lorong masuk Masjid Al Fur­­qon, Margorejo, Banjarsari, So­lo, Minggu (11/8). Sebagian lain mempersiapkan sapi yang akan disembelih sebagai hewan kurban.
Di bagian lain terlihat beberapa daging yang sudah dipotong ditata sesuai timbangan yang ditentukan yang kemudian di­bungkus untuk dibagikan ke­pada masyarakat. Uniknya, bukan menggunakan plastik sebagai media pembungkus daging.
Panitia kurban di Masjid Al Furqon menggunakan kreneng (anyaman bambu) dan daun jati sebagai media pembungkus yang digunakan.
Ide menggunakan kreneng dan daun jati sebagai pembungkus daging hewan kurban tak lepas dari peran Pelangi Samudera yang merupakan organisasi pencinta lingkungan yang perhatian dengan kondisi kelautan. Ide tersebut tercetus sebagai salah satu solusi menekan angka penggunaan plastik kresek yang menyebabkan melonjaknya angka sampah plastik ketika Iduladha.
Kreneng yang terbuat dari bam­bu serta daun jati merupakan bahan organik yang diyakini lebih bermanfaat dibandingkan menggunakan plastik sekali pakai seperti kresek. Kreneng yang biasanya digunakan untuk mengemas pisang selain ramah lingkungan juga merupakan bahan yang bisa digunakan kembali.
“Awal ide menggunakan kre­neng dan daun jati karena kami memandang banyak sekali plastik yang digunakan ketika Iduladha. Kami yang fokus terhadap ling­kungan ingin melakukan aksi yang mampu mengubah kebiasaan menggunakan plastik tersebut. Kemudian munculah ide menggunakan kreneng dan daun,” jelas Founder Pelangi Sa­mudera, Retno Tri Astuti, ke­pada Koran Solo, Minggu.
Menerapkan ide tersebut bu­kannya tidak ada kendala, Retno menjelaskan kendala uta­ma sebelum membagikan kreneng dan daun jati adalah sulitnya mencari daun jati di Solo. Namun, hal tersebut bisa teratasi ketika dia diberi tahu di Mojosongo bahan tersebut melimpah.
“Kami sempat berdebat soal daun jati yang sulit didapatkan. Tapi kemudian ada seseorang yang memberitahu saya jika di Mojosongo banyak. Ternyata benar, kami bahkan tidak usah beli dan tinggal mengambil di kebun tersebut,” papar dia.
Saat Iduladha 2019, Pelangi Samudera total men­distribusikan sebanyak 1.500 kreneng dan daun jati kepada tiga masjid di Solo dan Colomadu. Ke depan, me­­lihat antusias masyarakat, pihaknya berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan tersebut dan terus menambah jumlah lokasi dan kreneng serta daun yang dibagikan.
“Intinya, untuk lingkungan, aksi kami tidak akan berhenti saat ini saja. Karena ini awalan dan baru pilot project dan ternyata disambut baik. Kami akan terus menambah terus,” imbuh dia.
Ketua Panitia Kurban Masjid Al Furqon, Maryono, mengatakan di tempatnya terdapat 350 kreneng dan daun jati yang digunakan untuk membagikan daging kurban. Melihat manfaat dari bahan ter­sebut, pihaknya berkomitmen akan terus melanjutkan untuk tidak menggunakan plastik.
“Sempat baca juga kalau dari Kementerian Lingkungan Hidup, untuk tidak menggunakan plastik. Kebetulan ada bantuan dari Pelangi Samudera untuk bahannya. Jadi kami akan terus lanjutkan. Akan kami anggarkan khusus untuk penyediaan kreneng dan daun jati tahun depan,” bebernya.
Di Colomadu, Karanganyar, Masjid Jami’ Muslim Tohudan dan Masjid Nurul Huda Gajahan menjadi pelopor pengemasan daging hewan kurban menggunakan bahan ramah lingkungan. “Kami sengaja mewadahi daging kurban menggunakan kreneng dengan alas daun jati. Selain murah, bungkus tersebut juga sehat,” ujar Ketua Takmir Masjid Jami’ Muslim, Suratman, Minggu (11/8).
Menurut dia keputusan meng­gunakan kreneng yaitu wadah barang dari bilah bambu tipis-tipis dan dianyam, merupakan kesepakatan warga dalam rapat musyawarah. Selain itu kalau menggunakan wadah dari plastik, ujar dia, seperti dikatakan para pemerhati lingkungan akan mencemari lingkungan.
Sigit menambahkan semula wadah yang digunakan diusul­kan menggunakan besek. Teta­pi ternyata harga besek lebih tinggi dibanding kreneng sehingga diputuskan kreneng yang harga satuannya Rp500 tersebut.