KISAH PENJUAL BENDERA dari garut Kejar Untung Rp2 J atau Rugi

Arista Rizki
redaksi@koransolo.co

Hari Kemerdekaan Indonesia tak hanya membangkitkan semangat perjuangan anak bangsa. Momentum yang tahun ini memasuki tahun ke-74 tersebut memunculkan peluang bisnis bagi para pedagang bendera dan aksesorinya.
Demi mengejar keuntungan dari aktivitas belanja bendera jelang peringatan Kemerdekaan, sejumlah warga Garut rela meninggalkan rumah. Seperti yang dilakukan Odik, 48, warga Kecamatan Leuwigoong, Garut. Sudah enam tahun dia mengadu nasib ke Kota Solo untuk berjualan bendera mulai mendekati Agustus.
Dia memilih Solo karena belum begitu banyak orang yang berjualan atau memproduksi bendera dibandingkan kota asalnya. “Di Garut hampir tiap kampung menjahit bendera dan dijual di sana,” kata dia saat berbincang dengan Koran Solo, belum lama ini.
Odik bersama enam kawannya berjualan bendera. Mereka dimodali adik ipar Odik yang juga atasannya, Anton, 40. Odik dan enam temannya berjualan di Solo dan Klaten. Selama sekitar sebulan mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kartasura. Rumah kontrakan itu bersebelahan dengan rumah Sang Bos.
Mereka dibekali sepeda motor dan setiap hari saling antar jemput sesama penjual bendera. “Kami biasanya berjualan mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, kadang lebih pagi lagi,” ujar Odik.
Berjualan bendera merupakan pekerjaan musiman artinya hanya dilakukan ketika menyambut Hari Kemerdekaan. Odik menambahkan bersama teman-temannya memilih berjualan mulai Juli, sementara rekan-rekan lainnya mulai berjualan bendera pada 1 Agustus.
Selama berjualan bendera mereka menghadapi banyak kendala. Salah satunya terkait keamanan. Pedagang bendera yang sama-sama datang dari Garut, Boma, 45, tahun lalu hampir mengalami penipuan saat berjualan bendera di Solo.
“Sekitar tahun 2018, saya pernah didatangi orang berpakaian rapi seperti kerja di bank, motornya ditaruh jauh dari tempat berjualan. Mengajak kerja sama. Katanya ada order 80 rumah belum dipasangi umbul-umbul, [saya] disuruh masang, tapi saya enggak langsung percaya. Saya minta dulu uangnya, tapi dia tidak mau dengan berbagai alasan. Lalu dia pergi, setelah itu langsung saya hubungi teman-teman supaya hati-hati kalau ada orang dengan ciri-ciri seperti itu,” kata dia saat diwawancarai Koran Solo, di seberang D’Tjolomadoe, tempat dia jualan.
Sementara itu, bendera yang dijual mulai Rp25.000/lembar sampai Rp250.000/lembar itu terdiri atas beberapa macam warna dan bentuk. Omzet selama lebih dari sebulan berjualan mencapai Rp6 juta-Rp7 juta. Biasanya Odik dan Boma mendapatkan keuntungan kurang lebih Rp1 juta sampai Rp2 juta selama kurun waktu itu.
Berjualan bendera musiman tak selalu untung. Boma pernah merugi sampai terpaksa pinjam uang kepada atasannya. Selama berjualan bendera dia membutuhkan sedikitnya Rp30.000 per hari untuk keperluan makan, rokok, dan lain-lain. Belum lagi untuk mengirim uang kepada keluarganya di Garut, dia harus pinjam uang dulu kepada atasannya.
Boma berharap tahun ini penjualan bendera lebih baik dibandingkan tahun lalu. Saat tidak berjualan bendera, dia bekerja serabutan, seperti menjadi pekerja di proyek, kuli, ngelas, dan lain-lain yang bisa dikerjakan.
Kehadiran penjual bendera di Soloraya memudahkan pembeli karena mendekati Hari Kemerdekaan masyarakat membutuhkan bendera. Seperti yang disampaikan Anggit, konsumen Odik “Saya membeli bendera untuk dipasang di rumah di Sukoharjo karena habis pindah rumah. Ini inisiatif saya sendiri untuk membeli bendera,” ujar dia.