Peluang Tekfin Syariah Masih Besar

SOLO—Peluang untuk mengembangkan perusahaan teknologi finansial (tekfin) berbasis syariah terbuka lebar. Hal itu seiring tren gaya hidup islami atau halal yang berkembang di masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) jumlah tekfin peer to peer (P2P) lending syariah yang berizin dan terdaftar hanya delapan dari total 127 tekfin legal. Hal itu disampaikan Penasihat Komite Strategis dan Pusat Riset OJK, Ahmad Buchori, dalam Focus Group Discussion (FGD) Sinergitas Tekfin dalam Konsep Syariah di UNS Inn Solo, Jumat (9/8).
“Tekfin syariah akan semakin berkembang seiring dengan gaya hidup halal masyarakat Indonesia. Perbedaan tekfin syariah dengan umum terletak pada dasar-dasar yang dianut. Syariah menggunakan syariat Islam sebagai dasarnya. Selain itu, merujuk pada regulasi OJK No. 77/2016 tentang layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi dan tidak boleh bertentangan dengan fatwa Dewan Syariah Nasional MUI,” papar dia yang menjadi keynote speaker mewakili Kepala OJK, Wimboh Santoso, dalam acara itu.
Ahmad menambahkan banyak pihak yang telah merintis tekfin syariah. Namun, belum banyak yang terdaftar OJK. Dari 127 tekfin P2P landing, delapan di antaranya merupakan tekfin syariah, antara lain PT Ammana Fintek Syariah, PT Dana Syariah Indonesia, PT Danakoo Mitra Artha, PT Alami Fintek Sharia, PT Qazwa Mitra Hasanah, KPT Syarfi Teknologi Finansial, dan PT Duha Syariah.
Fatwa MUI
Menurut dia, ada sejumlah tantangan tekfin syariah yang mesti dihadapi. Pertama, literasi keuangan masyarakat yang masih rendah. Berdasarkan survei OJK pada 2016, literasi keuangan Indonesia baru 29,7%, sementara inklusi keuangan 67,8%. Pihaknya menargetkan indeks literasi keuangan 35% dan inklusi keuangan 75%.
Kedua, sarana infrastruktur yang belum menunjang. Selain harus mengantongi izin OJK, proses bisnis tekfin syariah mesti sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dewan Pengawasan Syariah dituntut memahami bisnis sekaligus teknologinya. Ketiga, aturan bisnis yang mudah dipahami. “Tantangan ini justru menjadi penyemangat karena potensi tekfin syariah sangat besar,” imbuh dia.
Salah seorang pembicara, anggota Badan Pengelola Keuangan Haji Indonesia, Iskandar Zulkarnain, memaparkan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan 64% masih unbanked sehingga dapat memperbesar target calon pengguna tekfin syariah. Regulasi untuk tekfin syariah masih dalam tahap penggarapan. (Farida Trisnaningtyas)