PENTAS KARYA TRADISIONAL Tembang Pembangkit Semangat via Sunda Manda

Magis suara yang terinspirasi dari kekuatan dolanan tradisional Sunda Manda menghidupkan Teater Besar (TB) di kompleks Pendapa Institut Seni
Indonesia (ISI) Solo, Kamis (8/8) malam.
Sang komposer, Guruh Purbo Pramono, mentransformasi kekuatan permainan anak khas Banyuwangi yang lazim dikenal dengan sebutan engklek tersebut dalam konser musik sakral.
Selama hampir satu jam emosi penonton diajak naik turun. Guruh memperkenalkan karyanya bertajuk Sunda Manda dalam empat repertoar penting.  Pertama berjudul Tekad, kedua Krekat, ketiga Sambat, disusul Sumringah.
Tekad mengartikan sema­ngat menggebu-gebu di awal permainan. Krekat berisi cita-cita yang luhur. Sambat perjalanan ketika jatuh bangun, sementara Sumringah adalah penutup yang berarti Happy Ending.
“Ini seperti perjalanan kehidupan. Dimulai dari semangat, terjatuh, hingga bangkit kembali. Ya terinspirasi dari permainan Sunda Manda yang saya alami juga saat masih kecil,” terangnya saat berbincang dengan Espos, Jumat (9/8) pagi.
Guruh membangkitkan kenangan masa lalunya lewat instrumen musik Banyumasan yang terdiri dari seperangkat gambang calung.
Dikolaborasikan dengan gamelan Jawa, rebab, siter, dan saxophone. Disusul beberapa tembang Banyumasan untuk menyempurnakan sajian musiknya. Sumringah yang ditandai dengan pergantian tembang benar-benar membawa penonton pada puncak bahagia. Semua instrumen dimainkan bersamaan.
Pengunjung yang hampir memenuhi ruang konser seperti diajak berpesta. Apalagi tembang-tembang pembangkit semangat terus digeber para sinden. Ada empat kata yang dibawakan berulang-ulang; Sumringah, Gumregah, Sengkut, Agawe Bungah. (Ika Yuniati)