Ekspor Salak Sleman Terus Ditingkatkan

 

SLEMAN—Tahun 2018, volume ekspor salak Kabupaten Sleman mencapai 600 ton yang dikirim oleh eksportir Mitra Turindo dan Prima Sembada. Meski harganya sempat anjlok di pasaran lokal, salak tetap menjadi komoditas unggulan ekspor dari Kabupaten Sleman.
Direktur CV Mitra Turindo Suroto mengatakan untuk 2019 ini, data terakhir per Juli mencatat angka pengiriman salak ke luar negeri sekitar 320 ton. Komoditas yang dikirim masih dalam bentuk buah segar.
”Kalau secara umum, kendalanya relatif tidak ada. Negara tujuan ekspornya antara lain Kamboja, Thailand, dan Tiongkok. Paling banyak ke Kamboja,” kata Suroto, Senin (12/8).
Suroto mengatakan, buah salak yang diekspor disyaratkan merupakan hasil budi daya dari kebun yang telah teregister. Sampai saat ini terdapat kurang lebih 200 hektare lahan budi daya salak yang teregister tersebar di Kecamatan Tempel, Turi, dan sebagian wilayah Pakem.
Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan komitmen untuk tetap menjadikan salak sebagai komoditas unggulan juga terus diupayakan oleh Pemkab Sleman. ”Tetap jadi unggulan bahkan akan ditingkatkan volume ekspornya,” kata Muslimatun.
Sri mengungkapkan, selama ini muatan yang dikirim untuk ekspor tidak bisa maksimal lantaran hanya dititipkan ke pesawat penumpang.
Sri menjelaskan, pihaknya baru-baru ini menerima laporan banyak salak yang busuk karena pengiriman terlambat. Dengan adanya Yogyakarta International Airport di Kulon Progo, dia berharap pengiriman salak bisa lebih maksimal.
Menurut Sri, di bandara baru terdapat fasilitas terminal kargo dan ada pesawat yang khusus diperuntukan mengangkut barang. ”Dengan adanya pengoperasian YIA diharapkan dapat membuka kesempatan untuk memperluas pangsa pasar komoditas ekspor. Di samping itu perlu dipikirkan inovasi produk ekspor agar bisa meningkatkan nilai ekonomisnya,” tutup Muslimatun. (Hafit Yudi Suprobo/Harian Jogja/JIBI)