KOMODITAS PANGAN Harga Cabai Meroket Lagi

SOLO—Harga cabai di pasar tradisional di Solo kembali meroket. Harga cabai rawit merah pada Senin (12/8) mencapai Rp81.000/
kilogram (kg).
Bayu Jatmiko Adi
redaksi@solopos.co.id

Hal itu diduga berkaitan dengan lonjakan permintaan pada momentum Iduladha.
Berdasarkan pantauan Koran Solo di laman pantauan harga Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah, Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (Sihati), Senin, harga cabai rawit merah naik 6,6% dibandingkan harga pada Senin (5/8) yang terpantau Rp76.000/kg. Hal yang sama terjadi untuk cabai keriting merah dan cabai merah besar yang naik masing-masing 26,2% dan 32,1% dalam kurun waktu hanya sepekan.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Legi Solo, Sri Handayani, mengatakan harga cabai rawit merah pada Senin adalah Rp80.000/kg. ”Sebelumnya sekitar Rp75.000/kg. Kemungkinan ini karena ada Iduladha sehingga pasokan kurang, padahal permintaan banyak,” kata dia saat ditemui Koran Solo, Senin.
Dia menjelaskan harga hampir semua jenis cabai naik. Harga cabai rawit putih yang sebelumnya Rp29.000/kg naik menjadi Rp33.000/kg. Sedangkan cabai keriting merah dari Rp70.000/kg menjadi sekitar Rp80.000/kg.
Salah seorang konsumen, Susi, mengeluhkan tingginya harga cabai tersebut. ”Susah kalau harga cabai terus naik. Ini sudah mencapai Rp80.000/kg, ada yang lebih,” kata dia kepada Koran Solo. Susi sering berbelanja cabai untuk kebutuhan memasak di rumah. Dia berharap harga cabai bisa turun lagi.
Berdasarkan data harga komoditas pangan di Kantor Pasar Legi, harga cabai rawit merah pada 1 Agustus tercatat Rp75.000/kg. pada 5 Agustus turun menjadi Rp72.000/kg. Sedangkan pada Senin harga naik menjadi Rp80.000/kg. Sementara harga cabai merah keriting pada 1 Agustus sekitar Rp50.000/kg, pada 5 Agustus naik menjadi Rp60.000/kg. Sedangkan pada Senin menjadi Rp72.000/kg.
Inflasi Perdesaan
Wakil Direktur Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menyatakan pemerintah perlu mewaspadai barang bergejolak terutama bahan makanan. ”Kalau diperhatikam inflasi umum sedikit mengalami kenaikan. Januari-Juni itu 1,9. Inflasi inti juga demikian. Problem adalah inflasi barang bergejolak dan harga pangan,” tutur dia.
Dia mengingatkan pentingnya pemerintah mengendalikan laju inflasi di perdesaan. Eko menyatakan inflasi bahan pangan di desa di atas 3,5% yakni sekitar 4,61%. Meski demikian secara year on year (yoy) angka inflasi keseluruhan tercatat 2,98% di perdesaan.
”Jadi bahan pangan di kota dan di desa menghadapi problem yang sama. Padahal orang desa selain jadi produsen juga konsumen terhadap bahan pangan,” uajr dia.
Eko mengingatkan pemerintah harus serius mengantisipasi kemarau panjang sehingga tidak menaikkan angka inflasi di perdesaan. Selain itu, pemerintah perlu menjamin agar kenaikan inflasi tidak menggerus pendapatan masyarakat.
”Secara nominal upah buruh tani naik, buruh bangunan seolah naik namun termakan oleh inflasi. Walaupun nominal naik namun secara riil ternyata turun,” papar dia. Eko optimistis inflasi ambang batas 3,5% bisa tercapai tahun ini. (Gloria F.K. Lawi/JIBI)