Kedai Kopi Kian Banyak, Booth Semakin Semarak

FARIDA TRISNANINGTYAS

Menjamurnya kafe kopi (coffee shop) di Soloraya membuat mereka harus terus berinovasi. Tak hanya menambah varian kopi yang menjadi menu utama, tetapi kemasan atau tampilan kedai kopi turut dipermak.
Belakangan, para penjual kopi ini membuat booth kopi mobile sehingga mudah dibawa ke mana saja. Beberapa aneka booth kopi unik ini terlihat dalam Coffee Festival yang digelar di atrium The Park Mall pada 12-18 Agustus 2019.
“Booth model gerobak ini sudah ada sejak 2017 lalu. Kami membikin ini agar gampang mobile. Biasanya kami bawa ini dalam pameran atau festival kopi di Soloraya,” ujar Barista Se­nior Sakaw Coffee Bites Roastery, Dwi Se­tyawan, saat ditemui Koran Solo, Selasa (13/8).
Dwi bercerita modifikasi booth mobile Sakaw Coffee ini seiring kian seringnya mereka ambil bagian dalam berbagai festival. Bahkan, kedai kopi yang terletak di Jl. Adisucipto, Colomadu, dan Jl. Lawu Tawangmangu, ini beberapa kali membuka stan di resepsi pernikahan dengan membawa gerobak, baik di gedung konvensional maupun di hotel. Harga yang dipatok untuk bisa mendatangkan ge­robak kopi ini juga cukup ter­jangkau di bawah Rp5 juta atau menyesuaikan jumlah cup pesanan.
Meski gerobak kopi ini hanya berukuran sekitar 1,5 meter x 0,5 meter, tapi bisa membawa aneka perlengkapan membuat kopi lumayan lengkap. Mulai dari satu unit mesin espresso, 2 grinder, teko kopi, aneka alat seduh kopi single origin seperti V60, flat buttom, hingga tempat kopi seperti cup kertas atau pun gelas. Gerobak ini pun bisa dikayuh seperti becak.
“Kami ingin sesuatu yang be­da dengan membikin branding keluar dari kafe. Saat itu kami bawa gerobak ini pertama kali di area car free day [CFD]. Ternyata sambutannya bagus,” imbuhnya.
Namun demikian, karena kedai dimodifikasi dalam bentuk gerobak, maka minuman yang disajikan untuk dijual tak sebanyak di outlet. Begitu juga dengan harga. Satu cup kopi single origin atau pun espresso base untuk Coffee Festival ini hanya Rp15.000. Sementara harga di outlet berkisar Rp18.000-Rp25.000/cup.
Menurutnya, penikmat kopi­nya juga makin beragam. Berbarengan dengan makin tenarnya biji kopi dalam negeri, pembeli ko­pi kini tak hanya menyukai varian espresso base seperti coffee latte, americano, macchiato, dan cappucino, tetapi juga single ori­gin manual brew. Tentu dengan biji kopi asli Indonesia seperti Kerinci, Ciwidey, Aceh Gayo, dan lain-lain.
Sementara Cold and Brew juga memermak booth agar mu­dah dibawa ke acara festival kopi semacam ini sejak tahun lalu. Barista Cold and Brew Solo, Rebecca Yashinta, menilai penampilan booth menjadi salah satu nilai plus dalam branding kafe kopinya. Jika tampilan booth menarik, maka pembeli bakal tertarik untuk menikmati kopi bikinannya.
“Festival atau event kopi juga makin banyak, bisa satu-dua event dalam sebulan kami ikut. Kami juga pernah ikut untuk menyajikan kopi dengan booth ini pada acara sebuah korporasi di hotel. Harganya menyesuaikan jumlah cup yang akan kami sajikan saat acara tersebut,” kata barista yang akrab disapa Shinta ini.
Booth Cold and Brew dari kayu ini memiliki desain simpel, tapi eye catching. Tak seperti gerobak Sakaw yang kerap membawa mesin espressonya, kedai kopi yang berada di Jalan Veteran No 136 Solo ini mengisi booth dengan Cold and Brew Signature yang siap minum atau minuman bikinan khas kafe ini. Sedangkan untuk harga varian minuman hanya Rp20.000 setiap cup.
“Kalau festival seperti ini kami ganti-ganti jualannya. Sebelumnya kami sajikan aneka coffee latte, kali ini kami pilih Cold and Brew Signature,” imbuhnya.
Ketua Panitia Coffee Festival, Jeffry Aditia Jayadi, menambahkan kedai kopi memang dituntut kian inovatif agar tak ditinggal pelanggannya. Maka dari itu, tak hanya coffee shop yang dibuat ciamik, tapi booth pun demikian. Dengan begitu, kafe kopi ini sudah siap jika sewaktu-waktu ikut dalam festival atau event lainnya. (JIBI)