REKONSTRUKSI PEMBUNUHAN IBU KEPADA ANAK Ketidakhadiran Suami Jadi Tanda Tanya

Koran Solo/Akhmad Ludiyanto
REKONSTRUKSI: Siti Wakidah, 30, memeragakan adegan meremas punggung anaknya, Fadli Fabian Saputra, 6, dalam rekonstruksi kasus penganiayaan hingga menyebabkan kematian, di kediaman tersangka di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali, Selasa (13/8).

BOYOLALI—Tenang dengan kepala selalu tertunduk. Demikian sikap Siti Wakidah, 30, selama memeragakan 21 adegan rekonstruksi pembunuhan yang ia lakukan terhadap anaknya, Fadli Fabian Saputra, 6. Rekonstruksi digelar Polres Boyolali, di kediamannya di Desa Tanduk, Ampel, Boyolali, Selasa (13/8).

AKHMAD LUDIYANTO
redaksi@koransolo.co

Meski terlihat tenang, Siti mengaku menyesal dan merasa sedih telah membuat anaknya meninggal dunia. Ya, Fadli meninggal dunia pada 11 Juli lalu karena dianiaya Siti Wakidah. “Saya menyesal dan sedih,” ungkapnya kepada wartawan, didampingi petugas Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Boyolali.
Siti mengaku tidak punya niat untuk menghi­lang­kan nyawa sang anak kendati tindak kekerasan telah ia lakukan. Dia hanya merasa kesal karena sang anak rewel, sedangkan Siti juga harus merawat dua anak lainnya yang masih kecil.
Ungkapan itu dikatakannya kepada wartawan seusai menjalani rekonstruksi. “Dia memang sedang tidak enak badan [sehingga rewel],” ujar Siti.
Namun bukannya memberi perhatian lebih kepada Fadli, Siti justru memperlakukan anaknya itu dengan kekerasan. Peristiwa tersebut terjadi antara 8 hingga 10 Juli 2019 saat suami Siti, Iwan, sedang tidak berada di rumah. Siti mengaku mencubit, memukul, bahkan membenturkan kepala anaknya itu ke lemari yang ada di da­lam rumah.
Akibat kekerasan-kekerasan itu, Fadli mengalami luka dalam di bagian kepala dan diperkirakan menjadi penyebab kematian. Bocah tersebut kemudian dimakamkan di tempat asal Siti di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.
Kapolres Boyolali, AKBP Kusumo Wahyu Bintoro, menambahkan Siti melakukan kekerasan itu dengan sadar.
Hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo menyatakan Siti sehat kejiwaan/psikis. “Tersangka ini sehat. Artinya dia melakukan itu de­ngan sadar,” ujarnya.
Disinggung mengenai latar belakang terjadi kekerasan itu, Kapolres mengatakan faktor ekonomi menjadi pemicunya. “Ya karena dia mungkin kesal tidak punya apa-apa, sementara dia harus merawat anak-anak,” imbuhnya di dampingi Kasatreskrim Iptu Mulyanto.
Rekonstruksi menjadi tontonan warga sekitar. Ada yang me­narik perhatian warga saat re­konstruksi. Sejak rekonstruksi di­mulai sekitar pukul 09.50 WIB tersebut, Iwan. Suami Siti tidak terlihat di lokasi. Bahkan hingga rekonstruksi selesai pukul 10.20 WIB, laki-laki ter­sebut tidak menampakkan diri. “Iya, suaminya tidak ada di sini karena alasan pekerjaan,” kata Kapolres.
Polres tidak mempersoalkan ketidakhadiran suami karena berdasarkan pemeriksaan tersangka dan saksi, Iwan memang tidak terlibat dalam kekerasan yang menyebabkan Fadli meninggal. Selain itu, saat kekerasan terjadi Iwan tidak sedang berada di rumah. Sehingga dia tidak memeragakan adegan-adegan dalam rekonstruksi tersebut.
Namun, ketidakhadiran Iwan disayangkan warga yang ikut mengamati jalannya rekonstruksi. Salah seorang tetangga, Yanto, 39, mengatakan semestinya Iwan berada di lokasi untuk memberikan dukungan moril kepada istrinya. “Meskipun tidak mendampingi istri secara langsung [dalam rekonstruksi], mestinya dia menampakkan diri lah,” yang Yanto juga teman kecil Iwan tersebut.
Tetangga lainnya, Budi Utomo, 32, mengatakan hal senada. Menurutnya, musibah yang menimpa keluarganya semestinya menjadi perhatian Iwan. “Heran juga kenapa dia tidak datang,” ujarnya.
Kedua tetangga itu mengatakan bahwa Iwan sebenarnya masih berada di sekitar Ampel, tidak berada di luar kota. Bahkan, mereka mengatakan di tengah-tengah kasus yang sedang membelit Siti Wakidah, akhir-akhir ini Iwan sudah dekat dengan perempuan lain. “Iwan sering kelihatan bersama perempuan lain di Pasar Ampel. Tidak tahu dia siapa dan statusnya bagaimana. Tapi katanya, anak-anak mereka [Iwan-Siti] lainnya kini dirawat juga sama permepuan itu,” kata Yanto diiyakan Budi.(JIBI)