Wawasan Kebangsaan Diusulkan Masuk Materi Perkuliahan

TAMARA GERALDINE

SOLO—Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu, berharap wawasan kebangsaan menjadi salah satu materi perkuliahan, salah satunya di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Dia menyampaikan pentingnya kalangan perguruan tinggi mencegah masuknya paham radikal. Kampus, menurut dia, menjadi pintu penting untuk menerima atau menangkal paham radikal.
“Generasi muda, khususnya mahasiswa perlu adanya materi ini [pencegahan radikalisme]. Para mahasiswa merupakan go­longan yang masih dalam ta­hap pencarian jati diri masing-masing,” kata Ryamizard di akhir kegiatan kuliah umum di halaman Gedung Rektorat UNS Solo, Selasa (13/8).
Ryamizard memberikan se­jumlah materi mengenai paham radikal bagi mahasiswa baru. “Saya memberikan materi me­ngenai masalah wawasan bela negara. Saya ingin bukan hanya mahasiswa UNS Solo, tapi semua lini memperjuangkan eksistensi NKRI.
Semua mahasiswa di Indonesia turut berkontribusi dalam pencegahan radikalisme dan terorisme di Tanah Air. Saya minta mahasiswa tidak terpengaruh dengan paham-paham yang keliru. Saya berharap ke depan ada materi khusus perkuliahan mengenai wawasan kebangsaan. Materi ini diberikan tanpa doktrin yang bisa memicu perpecahan. Virus radikal mulai masuk ke beberapa sektor pendidikan,” kata dia.
Berdasarkan survei, kata dia, sekitar 18% mahasiswa setuju dengan khilafah sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dibandingkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Survei itu menunjukkan terbukanya potensi paham radikal dan terorisme di kalangan anak muda.
“Antisipasi sejak dini perlu dilakukan dengan pendekatan yang sistemik dan strategis melalui jalur dialog dan edukasi. Paham radikal harus dicegah bersama,” kata dia.
Pencegahan diri dari praktik radikal dan negatif lainnya bisa dilakukan dengan penguatan kegiatan edukatif berbasis Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Tidak kalah penting hubungan baik harus terus terjaga di kalangan kampus, baik antara senior-junior, alumni, organisasi, serta orang tua mahasiswa.
Kerukunan dan solidaritas kebangsaan yang terbangun antarsemua elemen menghalangi masuknya paham radikal. “Segala bentuk provokasi dan isu negatif sekecil apa pun yang muncul harus segera diredam dan diluruskan. Ini peran kampus untuk mengantisipasi secara dini. Teknologi informasi yang pesat juga menjadi sarana penyebaran paham radikal,” kata dia. (JIBI)