berawal kenalan di bus Nurhayati & Sugimin Sering Kencan di Solo

MENUJU TAHANAN: Terdakwa pembunuhan Sugimin, Nurhayati, berjalan menuju sel tahanan seusai menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Wonogiri, Rabu (14/8).

RUDI HARTONO

WONOGIRI—Nurhayati, 41, mengenal Sugimin, 51, pada 2016 secara tak sengaja. Keduanya berkenalan saat duduk berdampingan di bus dari Kediri menuju Solo. Berawal dari pertemuan itu keduanya menjalin asmara terlarang, hingga Nurhayati hamil dua bulan.
Rangkaian peristiwa itu terdapat dalam dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU), Bagyo Mulyono, pada sidang pertama perkara pembunuhan Sugimin dengan terdakwa Nurhayati dan suaminya, Nurwanto, 42, di Pengadilan Negeri (PN) Wonogiri, Rabu (14/8) siang. Berkas perkara kedua terdakwa terpisah. Pertama JPU membacakan dakwaan Nur­hayati, setelah itu membacakan dak­wa­an Nurwanto.
Aparat Polres Wonogiri mengamankan jalannya sidang.
Petugas mengecek badan pe­ngunjung satu per satu mengguna­kan alat deteksi logam. Petugas juga mengecek barang bawaan pengunjung. Sejumlah warga yang mengaku kerabat Nurwanto turut hadir. Hingga sidang usai, Koran Solo tak mendapat informasi kehadiran keluarga Sugimin. Mayoritas pengunjung merupakan mahasiswa. Majelis hakim hakim yang menyidangkan meliputi Dwiyanto sebagai ketua, Bunga Lilly, dan Anita Zulfiani. Masing-masing terdakwa didampingi tim pengacara.
Dari dakwaan yang dibacakan JPU diketahui saat itu Nurhayati hendak pulang ke Wonogiri dengan menumpangi bus dari Kediri, Jawa Timur. Ibu satu anak itu merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kediri. Saat di bus, dia duduk berdampingan dengan Sugimin yang sebelum meninggal dunia merupakan calon anggota DPRD Sragen dari Partai Golkar. Mereka pun berkenalan hingga bertukar nomor telepon seluler (ponsel).
Dari perkenalan itu keduanya semakin dekat hingga menjalin asmara. Suatu ketika mereka kencan bertemu di Solo lalu melakukan hubungan suami istri di sebuah hotel. Nurhayati bersedia melayani karena Sugimin berjanji akan membukakan cabang usaha konfeksi untuknya. Seperti diketahui, Sugimin merupakan pengusaha konfeksi di Sragen.
Seiring berjalannya waktu keduanya beberapa kali kencan di Solo dan melakukan hubungan suami istri. Dari hubungan itu Nurhayati hamil dua bulan. Perempuan yang saat sebelum menjadi terdakwa merupakan calon doktor tersebut lalu meminta Sugimin bertanggung jawab. Namun, Sugimin tak memenuhinya. Kemudian Nurhayati menggugurkan kandungannya. Pada proses penyidikan sebelumnya terungkap, Nurhayati dan Sugimin pernah menikah siri. Hal itu berarti Nurhayati saat itu poliandri atau memiliki dua suami.
Peristiwa perkenalan hingga Nurhayati hamil tersebut adalah informasi yang belum pernah diungkap penyidik. Pada kesempatan itu JPU menguraikan kronologi ketika Nurhayati memiliki ide meracuni Sugimin menggunakan racun tikus yang dimasukkan dalam kapsul obat diare sebanyak tiga kali, keterlibatan Nurwanto, sampai akhirnya Sugimin dinyatakan meninggal dunia setelah tiba di UGD RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
Niat Nurhayati ingin membunuh Sugimin berawal dari peristiwa pada 3 April saat Sugimin me­minta uang Rp10 juta dan 15.000 amplop yang masing-masing berisi Rp50.000 (Rp150 juta). Saat itu Sugimin sampai me­mukul kepala Nurhayati meng­gunakan ponsel karena Nurhayati tak mau memenuhi permintaannya. Setelah kejadian itu, Nurhayati merencanakan pembunuhan.
JPU mendakwa Nurhayati dengan dua dakwaan, yakni primer Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara, Nurwanto didakwa dengan empat dakwaan, meliputi dakwaan kesatu primer dan subsider sama dengan dakwaan terhadap Nurhayati. Dua dakwaan lainnya, yakni dakwaan kedua primer Pasal 340 KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP dan subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP. “Saya mengajukan eksepsi [tanggapan atas dakwaan],” ucap Nurhayati.
Sementara itu, Nurwanto tak mengajukan eksepsi. Majelis hakim menetapkan sidang lanjutan pada Rabu (21/8) mendatang. (JIBI)