Disbud Gunungkidul Dorong Desa Tulis Sejarah

WONOSARI—Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gunungkidul mendorong 144 desa yang ada di Gunungkidul untuk menulis sejarah berdirinya desa. Berdasarkan data Disbud Gunungkidul tercatat baru ada 56 desa sejak 2017 lalu yang memiliki tulisan sejarah.
Kepala Disbud Gunungkidul, Agus Kam­tono, menyatakan masih ada 88 desa yang belum menuliskan sejarah berdirinya desa. Penulisan sejarah desa tentang kapan lahirnya, siapa saja yang berperan, dan hingga saat ini sudah dijabat kepala desa ke berapa. ”Tujuannya dalam rangka membangun motivasi masyarakat,” ucapnya, Rabu (14/8).
Menurutnya, jika masyarakat dari sebuah sistem yang sama serta psikologi yang sama akan menumbuhkan motivasi sehingga rasa memiliki desa semakin kuat. Hal itu tidak lepas dari budaya gotong royong di Bumi Handayani.
”Buktinya bisa dilihat dari proses upacara adat yang dilakukan seperti Rasulan dan Sa­dranan,” ujar dia.
Agus mengatakan tradisi Rasulan merupakan wujud syukur masyarakat atas melimpahnya hasil alam yang diberikan Tuhan. Sedangkan Sadranan ialah bentuk penghormatan kepada para pendahulunya atas jasa-jasa yang sudah dilakukan di wilayahnya. ”Yang diajarkan seperti cara bercocok tanam ataupun beternak,” imbuhnya.
Diakuinya, kendala untuk menulis sejarah desa tidak hanya berdasarkan cerita perorangan melainkan dari fakta dan data. Di setiap pe­ninggalan desa mempunyai warisan benda atau budaya tak benda. Warisan benda di­upayakan menjadi cagar budaya apabila me­menuhi syarat, sedangkan warisan budaya tak benda dijadikan warisan yakni tingkat nasional atau warisan dunia.
Kepala Bidang (Kabid) Sejarah Bahasa dan Sastra, Sigit Pramudiyanto, menuturkan dalam waktu empat tahun diharapkan semua desa telah membuat sejarah desa. ”Pada 2021 ditargetkan semuanya selesai menulis sejarah,” ujar dia.
Ia menyebut penulisan sejarah desa disebut Dumadining Desa. Dalam buku tersebut berisi selain sejarah juga menggambarkan monografi dan demografi sebuah desa. ”Ka­mi beri pendampingan untuk menulis buku sejarah desa melalui pelatihan dan bimbingan teknis yang diikuti lima orang penyusun selama tiga hari,” katanya. (Rahmat Jiwandono/Harian Jogja/JIBI)