Jaksa Siapkan Dokter Khusus Kebiri Predator 9 Bocah

MOJOKERTO— Pemerkosa sembilan anak di bawah umur, Muhammad Aris, 21, divonis 12 tahun penjara dan hukuman kebiri. Jaksa menyiapkan dokter khusus untuk mengebiri Aris agar tak melakukan perbuatan serupa. Predator seks anak-anak itu akan mendapatkan suntikan kimia sehingga tak mampu ereksi seumur hidup.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Mojokerto, Jawa Timur, Rudy Hartono, belum bisa memastikan waktu eksekusi kebiri terhadap Muhammad Aris. Rudy menjelaskan penentuan waktu eksekusi kebiri akan menunggu setelah mendapat dokter. ”Kami koordinasi dulu dengan dokter, rumah sakit, tempat, izin pengamanan, banyak prosedurnya. Ini kebiri menyangkut keselamatan,” terang Rudy, Jumat (23/8).
Rudy meminta eksekusi kebiri segera dilakukan. Untuk itu, dia meminta agar jaksa segera mengurus semuanya termasuk mencari dokter dan menyiapkan tempatnya.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
”Kemarin minta jaksanya untuk koordinasi dengan rumah sakit, dokter. Saya minta secepatnya. Dokter urologi kalau enggak salah [dokter spesialis yang mempelajari ilmu tentang sistem saluran kemih],” kata Rudy.
Rudy berharap bisa mendapatkan dokter dari Kabupaten Mojokerto. ”Kalau ada di kabupaten ambil di kabupaten, tapi kalau tidak ada kami ambil dari Surabaya,” kata dia.
Aris divonis bersalah karena memperkosa sembilan anak. Pada 2 Mei 2019, majelis hakim PN Mojokerto menjatuhkan vonis 12 tahun penjara dan pengebirian 2 Mei 2019. Hukuman berat yang diberikan hakim ini menyusul perilaku terdakwa yang sangat kejam, keji, dan tak manusiawi. Seperti yang dialami bocah di sebuah masjid di Mojokerto pada Oktober 2018.
“Vonis 12 tahun yang akan dijalani sudah cukup untuk mengevaluasi perbuatannya. Kalau masih ada tambahan suntikan kimia, tentu jauh lebih berat,” kata ketua majelis hakim Joko Waluyo.
Aris tak hanya menjalani sidang itu. Di wilayah hukum Kota Mojokerto, Aris juga menjalani sidang sejenis. Aris adalah tukang las asal Dusun Mengelo, Desa/Kecamatan Soo­ko, Mojokerto. Sejak 2015, ia mem­perkosa sembilan anak. Modusnya, sepulang kerja ia mencari mangsa, lalu memerkosa korban di tempat sepi.
Ia diringkus polisi pada 26 Oktober 2018. Aksi terakhirnya sebagai predator anak terekam kamera CCTV di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, 25 Oktober 2018. Hakim memutuskan Aris melanggar Pasal 76 D juncto Pasal 81 ayat (2) UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak.
Vonis penjara untuk Aris dari PN Mojokerto lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). JPU menuntut Aris dengan hukuman penjara 17 tahun dan denda Rp100 juta subsider enam bulan kurungan. JPU saat itu tidak menyertakan hukuman kebiri kimia dalam tuntutannya. ”Iya [JPU tidak menyertakan hukuman kebiri kimia], itu putusan tambahan,” ujar Wisnu.
Kendati hukuman penjara lebih ringan, Aris mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur. Para hakim PT pun menguatkan putusan PN Mojokerto.
Hukuman kebiri itu baru kali ini akan diberlakukan. Payung hukumnya adalah Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1/2016 yang lebih dikenal dengan Perppu Kebiri. Perppu itu kemudian ditetapkan menjadi UU No. 17/2016 tentang Perlindungan Anak.
Saat kasus itu dibahas, wakil Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (Persandi), Wimpie Pangkahila, pada 2016 mengatakan pemberian hu­kuman kebiri kimia akan memunculkan berbagai efek sam­ping pada penerimanya, antara lain risiko osteoporosis, anemia, melemahnya otot, gangguan fungsi kognitif, meningkatkan kadar lemak dalam tubuh yang memicu risiko mengidap penyakit jantung hingga stroke. Menurut Wimpie saat itu, penerima suntik kebiri akan cepat tua, kualitas hidup menurun, dan cepat mati.
Pemberian suntikan antitestosteron atau kebiri kimia hanya menurunkan gairah seksual sementara waktu. Jika suntikan dihentikan, hasrat seksual akan kembali muncul. (Detik/Suara/JIBI)