Eksekusi Putusan Sempat Ditunda Terpidana Pencabulan Anak Dijebloskan Penjara

MADIUN—Tim Kejaksaan Negeri Kota Madiun menangkap terpidana pencabulan anak di bawah umur, Bayu Samodra, 24, dan mengeksekusi sesuai putusan pengadilan, Rabu (28/8). Terpidana kasus pencabulan ini ditangkap saat sedang melihat karnaval Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan Pemkot Madiun.
Pemuda tersebut dieksekusi oleh anggota Reserse Polres Madiun Kota tanpa perlawanan. Saat itu, Bayu sedang melihat Karnaval Kemerdekaan bersama orang tua dan kekasihnya. Bayu selanjutnya dibawa ke Kantor Kejari Kota Madiun untuk menandatangani berita acara pelaksanaan putusan pengadilan.
Kasi Pidum Kejari Kota Madiun, Abdul Rasyid, mengatakan Bayu yang menjadi terpidana dengan vonis lima tahun penjara itu ditangkap anggota Polres Madiun Kota. ”Saat diamankan, terpidana pencabulan ini tidak melakukan perlawanan,” kata Abdul Rasyid seusai proses eksekusi, Rabu.
Terpidana Bayu kemudian dibawa ke Lapas Kelas 1 Madiun menggunakan mobil tahanan milik Kejari Kota Madiun. Saat proses eksekusi, terpidana diantar oleh ayah dan kekasihnya.
Dia menuturkan terpidana kasus pencabulan anak di bawah umur ini baru bisa dieksekusi sekarang meski Mahkamah Agung telah memutus bersalah dan menjatuhi hukuman pidana penjara selama lima tahun pada Desember 2017. Eksekusi belum bisa dijalankan karena di putusan tersebut ada kesalahan redaksional sehingga harus dilakukan pembetulan atau renvoi petikan putusan. MA telah mengeluarkan surat putusan yang telah direvisi pada tanggal 13 Agustus 2019. Sehingga terpidana baru bisa dieksekusi.
Seperti diberitakan sebelumnya, orang tua korban pencabulan di bawah umur asal Kota Madiun hanya bisa menunggu pelaku pencabulan dihukum dan dimasukkan dalam penjara. Hal ini setelah Mahkamah Agung telah mengabulkan kasasi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum Kejari Kota Madiun dan menyatakan pelaku pencabulan itu bersalah dan diganjar hukuman lima tahun penjara.
Dimas, 41, ayah dari korban pencabulan berinisial SF warga Kota Madiun itu menyampaikan kasus pencabulan itu lebih dari dua tahun ditangani penegak hukum. Tetapi, ternyata pelaku pencabulan bernama Bayu Samodra Wijaya, 21, masih bebas berkeliaran. Terlebih rumah Bayu ini hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya.
Dia menuturkan Bayu ini telah mencabuli anak perempuannya yang kala itu berusia sekitar enam tahun. Hingga kemaluan anaknya yang kala itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak terinfeksi. Selain itu, kondisi psikologis anaknya juga sempat mengalami guncangan.
”Saya hanya mempertanyakan, kok sampai lebih dari dua tahun, pelaku tidak segera dieksekusi. Padahal, MA sudah menjatuhi hukuman lima tahun. Tapi kenapa belum dieksekusi,” kata dia saat ditemui di rumahnya, Rabu (21/8).
Dimas menuturkan tiga pekan lalu dirinya telah menanyakan kelanjutan kasus ini ke Pengadilan Negeri (PN) Kota Madiun. Tetapi pihak PN hanya menjawab putusan lengkap dari MA belum turun. Dia menganggap eksekusi terhadap pelaku Bayu ini terlalu lama. Padahal MA telah memberikan vonis.
Sebagai orang tua, Dimas mengaku geram saat melihat pelaku masih hidup bebas dan belum mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya itu.
”Saya juga telah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) untuk mengawal kasus ini. Saya tanya terkait kasus ini sampai mana, tapi katanya memang belum keluar,” ujarnya.
Dimas, menceritakan sebenarnya Bayu mencabuli tiga anak perempuan saat bermain di rumahnya beberapa tahun lalu. Termasuk anaknya yang saat itu berusia 5 tahun. ”Anak-anak sini kan sering bermain di rumah pelaku. Jadi saat bermain itu, pelaku mencabuli para korban,” kata dia, Kamis (29/8).
Selain anaknya, ada dua lagi anak perempuan yang dicabuli pelaku. Namun, hanya dirinya yang sampai melaporkan kasus ini dan meminta agar pelaku dihukum sesuai kesalahannya. Dia mendapat informasi bahwa orang tua kedua korban lainnya tidak jadi melaporkan kasus pencabulan ini karena memiliki hutang budi kepada orangtua Bayu. Dia juga mengaku sempat ditawari uang supaya tidak melaporkan kelakuan pelaku, tetapi ia menolaknya. ”Orang tua pelaku dulu itu kan pimpinan bank dan perusahaan daerah. Ya termasuk orang terpandang. Tapi sekarang sudah pensiun,” kata dia.
Sementara itu, catatan dari Kejaksaan Negeri Kota Madiun, ada tiga anak korban pencabulan dengan pelaku Bayu. Kasi Pidana Umum Kejari Kota Madiun, Abdul Rasyid, mengatakan saat itu ada dua korban lain yang bersaksi perbah dicabuli. Tetapi, akhirnya laporannya dicabut karena ada sesuatu hal. ”Katanya pernah dicabuli. Tapi akhirnya dicabut katanya ada faktor X,” kata dia. (Abdul Jalil/Madiunpos.com/JIBI)