JAMBORE KENDARAAN LISTRIK NASIONAL Mobil Listrik, Nyaman dan Minim Getaran

pusat perhatian: Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menjadi pusat perhatian saat menjajal mobil listrik Lowo Ireng dalam Jambore Kendaraan Listrik Nasional di Sragen, Kamis (29/8).

Koran Solo/Nicolous Irawan
jajal mobil listrik: Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyat­mo (tengah), mencoba menaiki kendaraan listrik sebelum mem­berang­katkan peserta Jambore Kendaraan Listrik Nasional 2019 di Kantor UP3 PLN Solo, Kamis (29/8) malam.

SOLO— Kegiatan Jambore Kendaraan Listrik Nasional singgah di Kota Solo setelah menempuh perjalanan dari Sragen, Kamis (29/8) petang.

BAYU JATMIKO ADI
redaksi@koransolo.co

Jambore dari Surabaya menuju Jakarta itu diikuti oleh beberapa mobil listrik seperti Alap-alap dengan konsep UTV, Kasuari dengan konsep SUV, dan mobil sport Lowo Ireng. Ketiganya merupakan kendaraan listrik buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Mobil tersebut singgah di Solo sambil mengisi daya di Kantor Kantor Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Solo.
Enginer Pusat Unggulan Iptek Sistem dan Kontrol Otomotif (PUISKO) ITS, Yoga Uta Nugraha, menceritakan pengalamannya menempuh perjalanan jauh dengan kendaraan listrik. Sebenarnya perjalanan Surabaya-Jakarta kali ini bukanlah yang pertama. Bahkan untuk mobil Kasuari sudah menempuh perjalanan keliling Indonesia.
Pada Rabu (28/8), perjalanan Surabaya-Jakarta dimulai. Rombongan sempat menginap di Ngawi.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Dari Ngawi, pada Kamis sempat beristirahat di Sragen sebelum akhirnya singgah di Solo. Rencananya pada Kamis malam mereka menginap di Jogja. ”Pada 2014 kami sudah melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Kasuari saat ada program kerja dengan PLN sudah keliling Indonesia,” terang dia.
Bagi Uta, kendaraan listrik tersebut cukup nyaman dikendarai. Menurut dia, mobil ini bahkan lebih nyaman dibandingkan kendaraan bermesin karena tingkat getaran kendaraan yang rendah. ”Bagi saya, yang jelas lebih nyaman tidak ada getaran mesin. Berhenti di lampu merah atau saat jalanan macet juga tidak ada getaran,” tutur dia.
Kendaraan tersebut lebih irit karena tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Untuk mobil jenis SUV dan sport, kecepatan bisa mencapai 130 kilometer (km)/jam. Sedangkan untuk UTV mencapai 70 km/jam.
Anggota rombongan lainnya, Rusli, mengatakan kendaraan tersebut menggunakan baterai litium ion. Sama seperti Uta, dia menilai berkendara dengan mobil listrik lebih nyaman. Dia menyetir Lowo Ireng mulai Sragen hingga Solo. ”Kalau dengan mobil engine, mungkin yang membedakan adalah tarikannya, sebab ini akselerasinya lebih tinggi,” tutur dia.
Dia menceritakan selama di perjalanan, kendaraan listrik mereka menjadi perhatian masyarakat. ”Saat berhenti di jalan, banyak dilihatin,” ujarnya.
Pada Kamis malam, rombongan mobil listrik tersebut dilepas oleh Wali Kota Solo, F. X. Hadi Rudyatmo (Rudy), menuju Jogja. ”Semoga ini memotivasi dan memasyarakatkan kendaraan listrik untuk sarana transportasi. Pemerintah harus menyambut dan memproduksi. Pemerintah pusat harus intervensi memberi peluang generasi muda memproduksi. Jangan hanya berhenti di pameran,” kata Rudy sebelum melepas rombongan mobil listrik itu.
Manajer UP3 PLN Solo, Mundhakir, mengatakan pada akhir tahun ini atau setidaknya awal tahun depan, PLN akan memasang fasilitas isi daya kendaraan listrik di 16 lokasi. ”Sudah kami persiapkan. Lokasinya nanti di Kota [Solo] dan di daerah sekitarnya,” kata dia. Hal itu sebagai bentuk dukungan terhadap kendaraan listrik.
Pada Kamis siang, rombongan sempat singgah di Sragen. Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, sempat menjajal mobil Lowo Ireng. Mobil listrik berupa mobil balap terbuka itu membuat Yuni menjadi pusat perhatian masyarakat.
Yuni menaiki mobil itu dengan kecepatan 30 km/jam, meski mobil itu bisa berjalan dengan kecepatan 100 km/jam. “Kata sopirnya itu jarak tempuh maksimal 150 km setelah di-charge selama empat jam. Jadi bisa Sragen-Semarang dan harus berhenti empat jam untuk isi listrik. Tapi tidak ada polusi dari bahan bakar fosil,” ujar dia.
Yuni melihat masih perlu beberapa perbaikan karena injakan gas terasa berat. Dia menyadari mobil ini masih prototype. (JIBI/Tri Rahayu)