Aspal Plastik bakal Masuk Komponen Lelang

MARIYANA RICKY P.D.

SOLO—Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal untuk pembangunan jalan.
Bahkan, aspal sampah plastik direncanakan masuk dalam salah satu komponen lelang. Uji coba penerapan teknologi aspal plastik pernah dilakukan di salah satu ruas jalan di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Sedangkan pada tahun anggaran 2018, teknologi itu juga diaplikasikan di salah satu ruas jalan di Kecamatan Jebres.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VII Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Akhmad Cahyadi, mengatakan penelitian aspal modifikasi menggunakan polimer (bahan plastik) telah dimulai sejak 2004. Campuran aspal plastik terbukti memiliki kualitas yang baik. Setiap satu ton campuran aspal membutuhkan 3,5 kilogram plastik. Sehingga kebutuhan plastik untuk jalan sepanjang satu kilometer dengan lebar tujuh meter, dan tebal lima sentimeter adalah sekitar tiga ton.
“Cara kerjanya, aspal memiliki kandungan minyak, begitu dicampurkan dengan batu dan agregat dan dihamparkan serta dipadatkan, minyaknya akan menguap. Sehingga yang tinggal di jalan hanya aspal tanpa minyak yang getas dan mudah rusak. Dengan tambahan plastik yang mempunyai sifat elastis maka masih ada cadangan, ketahanan aspal plastik lebih awet,” ungkapnya, kepada wartawan ditemui di Hotel Alila Solo, Selasa (10/9).

Tahun ini, pihaknya menerap-kan teknologi itu di ruas jalan sepanjang satu kilometer di Semarang. Sedangkan, tahun lalu menyasar lima kilometer jalan di Jogja.
Total pada 2019 ini di seluruh Indonesia, teknologi itu diterapkan di sepanjang 22,7 kilometer jalan nasional. Ruas yang tak terlalu panjang dikarenakan pembangunan masih membutuhkan pengawasan.
“Kami masih melakukan evaluasi, baik dari segi infrastruktur maupun mesin pencacah plastik, manajemen pengadaan, dan sebagainya. Termasuk, teknik pencampuran agregat di lapangan dan penggelarannya harus dalam pengawasan tim dari Balai. Tahun depan, panjang jalan akan ditambah,” papar Akhmad.
Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Kementerian PUPR, Sudirman, mengatakan selain sampah plastik, pihaknya juga memanfaatkan karet lateks. Upaya ini untuk meningkatkan harga jual karet rakyat yang dalam beberapa tahun terakhir ini turun drastis.
“Kami hanya mengambil karet dari petani, bukan industri besar. Di Sumatra sudah dimulai, kekuatannya lebih baik dibanding aspal biasa. Penelitiannya sendiri dilakukan pada 2013 lalu,” kata dia. (JIBI)