Kivlan Ajukan Penangguhan Penahanan

JAKARTA—Pengacara Kivlan Zen, Tonin Tachta, mengajukan permohonan penangguhan penahanan kliennya selama persidangan. Kivlan menjalani sidang atas dakwaan kepemilikan senpi ilegal dan peluru tajam.

redaksi@solopos.co.id

”Perihal permohonan penangguhan atau pengalihan penahanan selama pemeriksaan pengadilan yang mulia,” kata Tonin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Selasa (10/9).
Tonin mengatakan akan menyerahkan surat pemohonan penangguhan penahanan dan izin berobat Kivlan Zen. Surat itu juga akan diserahkan kepada jaksa.
”Kami sudah buatkan suratnya, kami serahkan kepada Yang Mulia. Begitu juga tembusannya kepada jaksa,” ujar Tonin.
Atas permohonan itu, Hakim Ketua Haryono mengaku akan mempertimbangkan surat permohonan penahanan dan izin berobat Kivlan Zen. Tapi untuk saat ini Kivlan masih dalam penahanan majelis hakim. ”Sementara masih dalam penahanan oleh majelis,” kata dia.
Seusai sidang tersebut, Tonin menjelaskan alasan mengajukan permohonan penahanan penjara Kivlan Zen. Salah satu alasannya Kivlan Zen sedang sakit. ”Alasan kesehatan dan alasan umur. Itu kan kebijaksanaan dari hakim,” kata Tonin seusai sidang.
Jaksa mendakwa Kivlan Zen atas kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam. Perbuatan Kivlan Zen, menurut jaksa, dilakukan bersama-sama dengan Helmi Kurniawan (Iwan), Tajudin (Udin), Azwarmi, Irfansyah (Irfan), Adnil, Habil Marati, dan Asmaizulfi alias Vivi.
Jaksa menyebut Habil Marati menyerahkan duit total SGD 15.000 dan Rp60 juta kepada Kivlan Zen cs.
Sementara itu terkait persidangan, Tonin Tachta mengaku terkejut ada dua dakwaan yang disampaikan dalam sidang perdana pembacaan dakwaan terhadap Kivlan yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
”Sebenarnya kami kaget dengan adanya dua dakwaan, harusnya tadi hanya ada satu dakwaan perkara juncto 55 dan 56 itu hanya pemberat saja, ternyata itu dipisah,” kata Tonin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa.
Menurut Tonin, kasus yang didakwakan kepada Kivlan Zen merupakan kasus yang berat bagi kliennya yang sudah berusia lanjut itu. Tonin juga mengatakan banyak hal yang dipaksakan dalam kasus Kivlan Zen.
”Yang kami ketahui di masyarakat rencana apa? Membeli senjata untuk membunuh. Tadi pembunuhan tidak ada sama sekali. Jadi senjata untuk apa? Ya tidak ada, jadi sangat banyak celah-celah untuk eksepsi,” kata Tonin.
Karena itu, Tonin dan tim kuasa hukum lainnya mengajukan keberatan atau eksepsi yang dijadwalkan pada 26 September 2019.
Kondisi kesehatan Kivlan yang tidak baik menjadi alasan Hakim Ketua Hariono mengizinkan sidang eksepsi dijadwalkan 16 hari setelah sidang pembacaan dakwaan.
Dalam pembacaan dakwaan yang dilakukan jaksa penuntut umum melakukan dua kali pembacaan dakwaan. Dakwaan pertama Kivlan dijerat pidana dengan Pasal 1 ayat (1) UU no 12/1951 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan pada dakwaan kedua Kivlan dijerat pidana dengan Pasal 1 ayat (1) UU no 12/1951 jo Pasal 56 ayat (1) KUHP.
Kivlan Zen ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus makar dan kasus kepemilikan senjata api untuk rencana pembunuhan tokoh nasional. Atas kedua kasus tersebut, Kivlan ditahan di Rumah Tahanan Militer Guntur, Jakarta Selatan. (Detik/Antara/Solopos/JIBI)