Rawa Jombor Dikeringkan Budi Daya Ikan Karamba Lesu

KLATEN—Rawa Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat dikeringkan. Salah satu dampak pengeringan itu yakni petani merugi karena lesunya produksi ikan karamba.
Pengeringan dengan membuka pintu air rawa itu dilakukan sejak Mei lalu. Air yang ditampung di rawa tersebut kini menurun drastis dan ditargetkan pada akhir Oktober mendatang kondisi rawa seluruhnya kering.
Kasi Pembangunan dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Klaten, Darminto, menjelaskan pengeringan rawa menjadi agenda sekali dalam tiga tahun. “Jadwal pengeringan tiga tahun sekali itu sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan warga dan petani. Pengeringan dilakukan hingga menjelang musim hujan,” kata Darminto saat ditemui wartawan di Rawa Jombor, Selasa (10/9).
Pengeringan rawa untuk pemeliharaan. Selain itu, air yang dikeluarkan dari rawa bisa membantu irigasi pertanian di wilayah Kecamatan Bayat dan Cawas saat memasuki musim kemarau. “Di sisi lain, pengeringan ini juga membantu budi daya ikan. Kalau tidak dikeringkan, air akan terlalu asam dan berdampak pada pertumbuhan ikan,” urai dia.
Volume air yang ditampung di rawa menurun drastis sejak mulai dikeringkan sekitar empat bulan lalu. Tinggi permukaan air menurun 2 meter hingga 3 meter dibandingkan kondisi normal. Pada kondisi normal tinggi permukaan air di rawa itu berkisar 3 meter hingga 6 meter. Alhasil, sebagian dasar rawa terlihat dan dimanfaatkan untuk lokasi memancing.
Rawa Jombor memiliki luas 198 hektare (ha). Rawa itu mampu menampung air hingga 4 juta meter kubik. Selain untuk mengantisipasi banjir, rawa difungsikan untuk menampung air guna irigasi pertanian. Selama ini, rawa dimanfaatkan warga untuk budi daya ikan mengunakan karamba, pemancingan, serta usaha warung apung. Ada 400-500 warga yang memanfaatkan rawa untuk budi daya ikan karamba, sekitar 30 warung apung, serta sekitar 10 pemancingan.
Menyusutnya air yang ditampung di rawa itu berdampak pada budi daya ikan yakni pertumbuhan ikan terhambat maupun banyak ikan mati. Selain faktor air menyusut, terhambatnya pertumbuhan ikan tersebut lantaran kondisi cuaca yang panas selama musim kemarau. Para petani ikan di Rawa Jombor membudidayakan jenis ikan nila, tombro, serta bawal. Mayoritas petani membudidayakan jenis ikan nila.
Salah satu petani karamba, Edy Cahyono, 52, mengatakan saat kemarau tiba banyak ikan yang mati. Apalagi, saat ada jadwal pengeringan rawa tersebut. “Saat ini saya hanya menghabiskan sisa benih yang sudah ditebar sebelumnya. Mau menebar benih lagi takut karena resiko ikan mati lebih besar,” kata petani karamba asal Dukuh/Desa Krakitan itu.
Edy memiliki enam karamba. Rata-rata luas karamba milik petani Rawa Jombor sekitar 6 meter x 12 meter. Edy mengaku faktor menurunnya volume air serta cuaca itu membuat produksi turun hingga 50 persen. “Satu karamba itu bisa menampung ikan hingga 2 kuintal. Harga jual ikan saat ini Rp25.000/kg. Harga itu menurun dibanding sebelumnya sekitar Rp27.000/kg,” kata dia.
Petani lainnya, Agus Purwadi, 48, mengatakan selama musim kemarau pertumbuhan ikan terhambat. Biasanya, para petani bisa memanen ikan jenis nila setelah dibudidayakan dua bulan hingga tiga bulan. Saat ini, ikan baru bisa dipanen setelah tiga hingga empat bulan dibudidayakan. “Pertumbuhan ikan kurang. Sementara, pasokan pakan harus ditambah agar ikan tetap hidup dan tumbuh. Akhirnya, kebutuhan meningkat,” kata dia.
Agus mengatakan selain faktor cuaca, lesunya pertumbuhan ikan itu lantaran kondisi air yang ditampung di rawa menyusut drastis. Dia mengatakan beberapa waktu lalu ada surat edaran soal rencana pengeringan Rawa Jombor. Hanya, pemberitahuan rencana pengeringan itu dinilai mendadak saat petani sudah telanjur menebar benih. “Seharusnya itu pemberitahuan dilakukan enam bulan sebelumnya. Tetapi, rencana pengeringan ini baru diberitahukan sekitar bulan keenam [Juni]. Pengeringannya itu juga seharusnya dilakukan pada 2020 karena kali terakhir dikeringkan itu pada 2017,” kata dia.
Agus menjelaskan saat ini para petani karamba hanya menghabiskan sisa ikan yang benihnya sudah telanjur ditebar. Dia memperkirakan kerugian yang dialami para petani untuk satu karamba sekitar Rp1,5 juta. (Taufiq Sidik Prakoso)