HUTAN GUNUNG MERBABU TERBAKAR Api Mengarah ke Permukiman

BOYOLALI— Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) belum padam hingga Jumat (13/9) malam.

Imam Yuda S.
redaksi@koransolo.co

Api terdeteksi merambat turun menuju permukiman penduduk di Kabupaten Semarang dan Boyolali. Namun api masih jauh dari kawasan penduduk.
Api yang berasal dari kawasan Dusun Malang, Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, itu menjalar masuk ke wilayah lain. Data terakhir hingga Jumat siang menyebutkan sekitar 225 hektare (ha) lahan terbakar di wilayah konservasi dengan tujuh titik api yang akurasinya cukup tinggi.
Kepala Balai TNGM, Junita Parjanti, mengatakan kobaran api merembet dengan cepat karena angin kencang dan cuaca panas. Tiga titik api di berada di Ampel, Boyolali, satu titik di wilayah Kopeng, Kabupaten Semarang, satu titik di Selo, Boyolali, satu titik di Pakis, Magelang, dan satu titik di Wonolelo, Magelang. Padahal TNGM memiliki luas sekitar 5.700 ha.

“Di Ampel malah merambatnya turun, namun masih jauh dari kawasan permukiman penduduk,” kata Junita ketika ditemui wartawan di kantornya di Boyolali, Jumat (13/9).
Api di lereng gunung Merbabu tidak hanya menghanguskan ratusan hektare lahan. Junita menyebutkan dampak lainnya adalah kemungkinan sumber-sumber mata air rusak. Tercatat dalam kawasan konservasi ini terdapat 39 mata air yang dimanfaatkan masyarakat sekitar, baik di Boyolali, Semarang, maupun Magelang. Sejumlah pipa sambungan yang mengalirkan air ke kawasan permukiman rusak. Saat ini desa-desa yang terdeteksi mengalami gangguan air karena rusaknya sambungan pipa berada di Tuk Teyeng, Pakis, Magelang, dan Tuk Sipendok di Ampel, Boyolali.
Api juga mengancam kawasan konservasi dan merusak ekosistem. TNGM merupakan kawasan konservasi. Di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman seperti akasia, puspa, dan pinus. Wilayah Kecamatan Ampel, Boyolali, yang masuk dalam kawasan konservasi bahkan merupakan habitat elang jawa yang merupakan jenis satwa yang dilindungi. “Keanekaragaman hayati yakni flora dan fauna pasti akan terganggu. Keanekaragaman di Ampel memang sangat tinggi, sementara vegetasi di Selo merupakan yang terpadat,” ujar Junita.  Namun demikian, hingga saat ini BTNGM belum dapat mendata satwa-satwa yang terdampak kebakaran ini.
Upaya pemadaman masih terus dilakukan oleh tim gabungan dari ketiga wilayah tersebut. Pemadaman dilakukan oleh tim BTNGM, sukarelawan, muspika di wilayah setempat, TNI/Polri, mapala, dan masyarakat sekitar. Namun upaya pemadaman masih dilakukan secara manual antara lain dengan membuat ilaran api atau jalur pembatas khusus yang mengelilingi area kebakaran supaya api tidak semakin meluas. Selain ilaran buatan, ada pula pemanfaatan ilaran alami berupa jalan di kawasan hutan.
Selain cuaca, pemadaman terkendala medan yang berat, termasuk tebing curam dan wilayah pegunungan yang terjal. Jaraknya sekitar lima jam dari desa terakhir. Untuk itu, BTNGM mengupayakan bantuan helikopter untuk mengatasi kendala topografi ini. “Dengan sistem water bombing diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman,” katanya Juanita.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menyarankan Pemkab Magelang dan Boyolali meminta bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengatasi kebakaran hutan di Gunung Merbabu. ”Nanti kepala daerah bisa menyatakan darurat bencana dan minta rekomendasi dari Pak Gubernur agar mendapat bantuan dari BNPB. Salah satunya melalui helikopter water bombing,” ujar Kepala BPBD Jateng, Sudaryanto.
Kendati demikian, Sudaryanto menyarankan langkah meminta bantuan helikopter water bombing BNPB itu perlu dilakukan jika pemadaman di Gunung Merbabu tak kunjung berhasil. ”Ya, kalau enggak segera teratasi sebaiknya meminta bantuan water bombing. Daripada semakin meluas dan berdampak buruk bagi warga,” ujar Sudaryanto.
Evakuasi Pendaki
Koordinator Relawan Pencinta Alam (Rempala) Dusun Wonolelo, Desa Ngagrong, Gladagsari [dulu masuk Kecamatan Ampel] Joko Yuwono mengatakan kebakaran hutan juga melanda Desa Ngagrong dan Desa Candisari. “Kami sudah membuat sekat api di hutan,” kata dia kepada Koran Solo, Jumat siang.
Terkait keadaan lingkungan, Joko menyebut meski api mengarah turun namun belum mengganggu aktivitas masyarakat baik mata pencaharian, pendidikan, maupun kebutuhan air. “Saat ini masih aman dan belum ada rencana untuk mengungsi,” imbih dia.
Warga Dusun Genting, Desa Tarubatang, yang juga anggota sukarelawan Merbabu, Sugiyanto, mengatakan belum ada gangguan air yang melanda dusunnya. “Aktivitas masih normal, hanya sudah tidak ada lagi pendaki,” ujar Sugiyanto yang juga memiliki tempat tinggal tepat di kawasan pintu masuk jalur pendakian Selo itu.
Sebelumnya, BTNGM meng-evakuasi belasan pendaki di jalur Suwanting sebelum akhirnya lima jalur pendakian Merbabu resmi ditutup pada Kamis (13/9) lalu. Sebanyak 12 pendaki di jalur Suwanting dievakuasi lewat jalur Selo, termasuk di antaranya dua pendaki asal Singapura. BTNGM juga akan mengecek kondisi kamera CCTV yang dipasang di sabana satu. (JIBI)