Tulang Sapi untuk Atasi Patah Tulang

AKHMAD LUDIYANTO

SOLO—Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menemukan bone graft yang merupakan bone filler (pengisi/penyambung tulang manusia) yang rusak atau patah.
Bone graft berbahan tulang sapi ini merupakan jembatan bagi sel-sel pada sisi tulang yang rusak hingga tulang tersebut menyatu kembali.
Dalam kasus patah tulang, seringkali terdapat bagian/serpihan tulang yang terlepas. Sehingga saat tulang akan digabungkan kembali terdapat celah yang akan menghambat penyatuan. Pada saat operasi tulang, celah inilah yang kemudian diisi dengan bone filler tersebut.
Penelitian ini dilakukan Joko Triyono dari Fakultas Teknik (FT) UNS bersama dokter Suyatmi dari Fakultas Kedokteran (FK) UNS, dan dokter I Dewa Nyoman Suci Anindya Murdiyantara, dari RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten.
Joko mengatakan penelitian ini dilakukan sejak 2016, dilatarbelakangi antara lain bahwa semua kasus operasi patah tulang memerlukan material seperti ini dan belum ada produk lokal. Menurutnya, material yang ada sekarang berbahan sintetis dan masih impor dengan harga yang sangat mahal.
“Selain itu, survei 2010 jumlah pasien patah tulang di RS Ortopedi Prof Dr. Soeharso Solo sebanyak 4.537 pasien. Artinya, kebutuhan akan bone graft ini sangat banyak,” ujarnya saat diwawancara Koran Solo di Laboratorium Material FT UNS, Jumat (13/9).
Di sisi lain, tulang sapi sebagai bahan untuk pembuatan bone graft sangat melimpah jumlahnya di Solo dan sekitarnya. Bahan ini bisa didapat dari di rumah-rumah pemotongan hewan (RPH). Sehingga jika produk ini ke depan dapat dimanfaatkan masyarakat, kelangsungan bahan bakunya terjamin.
Joko menjelaskan dalam pembuatan bone graft ini diawali dengan pembelian tulang segar dari RPH Jagalan, Solo.
Selanjutnya dilakukan demineralisasi dan deproteinisasi (menghilangkan kandungan mineral dan protein). Ini dilakukan dengan cara penjemuran sinar matahari selama sekitar tiga hari.
“Setelah tulang benar-benar kering, dilakukan perebusan hingga tiga kali. Kemudian tulang itu dipotong-potong berbentuk kubus berukuran 10mm x 10mm x 10mm,” imbuh dosen Jurusan Teknik Mesin yang menyelesaikan pendidikan doktoral bidang Biomedical Engineering (rekayasa biomedis) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.
Kubus bone graft ini kemudian dipanaskan di dalam oven dengan suhu yang dinaikkan secara bertahap sampai 1.200 derajat Celcius. Dalam proses pemanasan ini, ukuran bone graft ini akan mengecil hingga sekitar separuh dari sebelumnya. “Bone graft inilah yang nantinya digunakan untuk mengisi celah tulang patah yang akan disatukan, sebelum dokter memperkuatnya dengan pen,” imbuhnya.
Dia menambahkan material bone graft juga dapat terserap tubuh manusia. Syaratnya adalah biokompatibel, yakni setelah terpasang tidak timbul infeksi atau peradangan, serta tumbuh tulang baru/kalus. Sel-sel tulang masuk ke pori-pori (terlihat dengan mikroskop). “Semua pernah kami ujicobakan kepada tikus putih dan syarat itu terpenuhi.” (JIBI)