KEBERSIHAN LINGKUNGAN Memikirkan Solusi Limbah Cangkir Kopi

Tiap tahun ada miliaran cangkir kopi kertas dan plastik yang dibuang ke alam. Meledaknya bisnis penjualan kopi belakangan ini menjadi pemicu. Siapa yang harus mengerem jumlah sampah plastik cangkir kopi? Siapa harus peduli? Berikut ini ulasannya dirangkum wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI)
Maya Herawati dan Salsabila Annisa Azmi dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Cangkir kopi sekali pakai muncul dari jutaan kafe di sudut-sudut kota di dunia. Perkiraan jumlahnya cukup mencengangkan. Situs greenbiz.com menyebut jumlah sampah plastik cangkir minuman mencapai 600 miliar per tahun.
Jumlah itu, tiap tahun masih didongkrak dengan banyaknya diskon yang bertebaran di kedai kopi. Ironisnya, potongan harga yang diberikan tidak terlalu besar ketika pembeli membawa cangkir sendiri.
Cangkir kopi sekali pakai tidak bisa didaur ulang dengan sistem normal sebab cangkir kopi sekali pakai terbuat dari pulp dan plastik dengan kandungan polyethilene liner yang susah diuraikan.
Lalu apa solusinya? Tentu saja kedai kopilah yang pertama harus terlibat. Sebagai hulu dari datangnya sampah plastik kopi kedai kopi harus menyadari hal ini dan ikut andil meminimalkan jumlah sampah cangkir kopi sekali pakai.
Tahun ini sebuah penelitian dilakukan di Skotlandia, menemukan cara efektif memangkas jumlah sampah cangkir kopi sekali pakai. Syarat utamanya kedai kopi harus berani terlibat dan menanggung risiko melambatnya penjualan.
Penelitian percobaan ini dilakukan oleh lembaga Zero Waste Scotland. Mereka menggandeng sejumlah kafe dan meminta menerapkan cangkir kopi sekali pakai berbayar. Tiap kali pelanggan membeli kopi atau teh untuk dibawa pulang, cangkir kopinya dikenakan tambahan biaya. Cara ini mirip dengan tas kresek berbayar di Indonesia, meskipun hasil akhirnya berbeda.
Kafe-kafe yang ikut dalam percobaan juga diminta menyetop pemberian diskon. Mereka akan mendapatkan harga normal dan bahkan diskon ketika menggunakan cangkir yang bisa dipakai kembali (dengan kata lain minum di tempat atau membawa cangkir sendiri).
Hasilnya, rata-rata 50% pelanggan memilih untuk menggunakan cangkir yang bisa dipakai ulang, dengan cara membelinya di kafe, minum di tempat dan membawa dari rumah.
Temuan ini tentu saja mungkin diterapkan di negara manapun, termasuk di Indonesia. Asalkan pemilik kafe menyadari pentingnya melakukannya.
Cara yang dijajal Zero Waste Scotland itu pernah diterapkan oleh kedai kopi Starbucks di Inggris pada 1998. Mereka menawarkan diskon pada konsumen yang menggunakan cangkir portabel yang bisa dipakai ulang (tumbler) sebagai alternatif penggunakan cangkir sekali pakai untuk pembelian takeaway (dibawa pulang).
Diskon itu terus meningkat mulai dari 10%, menjadi 25% pada 2008, kemudian meningkat dua kali lipat menjadi 50% pada 2016. Namun penjualan take away masih rendah. Akhirnya pada 2014, mereka menawarkan tumbler seharga 1 euro, sayangnya hanya 1,8% konsumen yang menggunakannya.
Cangkir dari Bambu
Sebuah gerakan alternatif mengurangi sampah plastik cangkir kopi datang dari startup E Coffee Cup. Sang founder, David McLagan menyebut jargon daur ulang adalah cara konyol yang bisa dipakai pelanggan untuk memaafkan diri mereka, lalu terus menggunakan cangkir kopi sekali pakai.
“Meskipun kita [manusia] bisa mendaur ulang 100 persen [yang pada kenyataannya mustahil dilakukan pada cangkir kopi berbahan plastik], hal itu baru bisa menjadi jawaban [persoalan],” kata McLagan seperti dilansir Forbes.
Bisnis McLagan yang berpusat di Amsterdam, Belanda ini berfokus pada menciptakan produk indah yang bisa dipakai ulang. Idealisme mereka tentu mengurangi gunung sampah plastik cangkir kopi.
Pada 2014, E Coffee Cup memulai proyek menciptakan cangkir kopi yang terbuat dari serat bambu, tepung jagung dan damar. Desainnya menyerupai cangkir kopi kertas yang umum digunakan, namun tidak berbau plastik atau logam saat digunakan.
“Saat kami memulai [memasarkan cangkir bambu] pada 2014, orang-orang menyukai produk kami dari sisi nilai estetiknya, di situlah kami merasa sedikit bingung sebab ada persoalan [gunungan sampah plastik cangkir kopi] yang hendak kami coba pecahkan. Bukan tanpa alasan, sebab banyak yang berpikir gelas kopi sekali pakai bisa didaur ulang, jadi kenapa harus membawa cangkir sendiri?”
Kini penjualan cangkir kopi buatan E Coffee Cup terus tumbuh. Perusahaan ini juga baru saja mendapat suntikan dana dari Triodos, bank yang berpusat di Belanda dan bersiap untuk mendongkrak pertumbuhan bisnis hingga US$20 juta pada tahun anggaran 2019-2020.
Di Asia, produk gelas kopi dari bambu E Coffee Cup banyak ditemukan di kafe di sudut-sudut kota Hong Kong. Sedangkan di Eropa E Coffee cup sudah mulai menjadi tren. (redaksi@harianjogja.com)