TARIK SISWA RP1,2 JUTA Demi UN SMPN 3 Sragen Dilaporkan ke Ombudsman

MOH. KHODIQ DUHRI

SRAGEN— Orang tua siswa Kelas IX SMPN 3 Sragen berinisial YT mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Jawa Tengah. Dia keberatan karena pihak sekolah meminta tarikan Rp1.275.000 untuk pengadaan perangkat komputer, persiapan ujian nasional (UN) dan pelepasan siswa Kelas IX.
Pada Sabtu (5/10) lalu, YT mengaku diundang untuk menghadiri pertemuan orang tua siswa di sekolah anaknya. Pada saat itu, diberitahukan sekolah membutuhkan tambahan 40-45 unit perangkat komputer untuk mendukung pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Untuk membeli tambahan unit komputer itu, masing-masing siswa dibebani Rp650.000. Dalam pertemuan itu juga disampaikan bujet pembelian satu perangkat komputer itu senilai Rp5,5 juta dengan spesifikasi prosesor Dual Core, Ram 2 GB dan LCD ukuran 16 inchi.
“Bagi saya uang Rp5,5 juta itu bisa digunakan untuk membeli komputer dengan prosesor Core i5. Kalau yang dibutuhkan setara Dual Core, saya kira Rp5,5 juta itu kemahalan. Walau dalihnya sisanya untuk membeli karpet dan pengadaan AC untuk ruang laboratorium, tetap saja itu kemahalan,” jelas YT saat ditemui Koran Solo di rumahnya, Selasa (8/10).
Selain diminta membeli komputer, orang tua siswa juga diminta membayar Rp625.000 untuk kegiatan persiapan UN serta pelepasan siswa Kelas IX. Dengan begitu, masing-masing siswa diharuskan membayar total Rp1.275.000. Adapun dana senilai Rp625.000 itu akan digunakan untuk membiayai beberapa kegiatan seperti malam bina imam dan taqwa (mabiq) sebanyak dua kali, doa bersama, try out, simulasi atau geladi bersih UNBK, seminar parenting, refreshing siswa, pembelian buku siap UN, pelepasan siswa, dan lain-lain.
Merasa tidak terima dengan tarikan uang itu, YT lantas mengadu ke Ombudsman Jateng pada Sabtu siang. YT sudah melaporkan langsung masalah itu kepada Kepala Perwakilan Kantor Ombudsman Jateng, Siti Farida.
Dihubungi terpisah, Siti Farida membenarkan telah menerima pengaduan dari orang tua siswa terkait dugaan pungutan sekolah tersebut. “Secara detail belum bisa dipastikan [itu pungutan]. Tentu kami akan lakukan verifikasi awal, kemudian memeriksa dokumen, klarifikasi [ke pihak sekolah], investigasi hingga pemeriksaan akhir,” jelas Siti Farida.
Kepala SMPN 3 Sragen, Sriyono, membenarkan rencana pembelian 40-45 unit komputer untuk mendukung pelaksanaan UNBK. Menurutnya, saat ini SMPN 3 Sragen baru memiliki 40 unit komputer. Supaya bisa menyelenggarakan UNBK secara mendiri, sekolah harus memiliki komputer sebanyak minimal 1/3 dari jumlah siswa IX yang mencapai 212 siswa.
“Karena keterbatasan jumlah komputer itu, dalam dua tahun terakhir, kami tidak bisa menyelenggarakan UNBK secara mandiri. Mau tidak mau kami harus nebeng [menumpang] di lab. SMKN 2 Sragen. Sampai saat ini, SMPN 3 Sragen merupakan satu-satunya SMP negeri di Sragen yang belum bisa menyelenggarakan UNBK secara mandiri karena keterbatasan jumlah komputer,” jelas Sriyono.
Dalam rangka menyiapkan siswa menghadapi UN, kata Sriyono, sekolah meluncurkan program Sukses UN. Draf kegiatan sudah disampaikan kepada orang tua siswa mulai dari mabiq sebanyak dua kali, doa bersama, try out, simulasi atau geladi bersih UNBK, seminar parenting, refreshing siswa, pembelian buku siap UN, dan lain-lain. (JIBI)