INFRASTRUKTUR Sopir Truk Ancam Tak Lewat Tol

SEMARANG—Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan menggunakan jalan tol kalau tarif dinaikkan.

Imam Yuda Saputra
redaksi@koransolo.co

Hal itu akan mereka lakukan jika pemerintah benar-benar menaikan tarif tol dalam waktu dekat ini atau pada 2020 mendatang. Anggota dan pengurus asosiasi telah mendengar rencana penaikan tarif tol itu, termasuk ruas-ruas tol di Jawa Tengah.
Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD Aptrindo Jateng dan DIY), Bambang Widjanarko, sudah mendengar kabar rencana penaikan tarif tol itu. Kenaikan tarif tol itu rencananya diumumkan setelah pelantikan Presiden Joko Widodo pada 20 Oktober mendatang.
”Iya, saya sudah dengar [kenaikan tarif tol]. Pemerintah sebenarnya kurang bijaksana. Tarif saat ini sudah tinggi, kok mau dinaikan lagi, padahal pelayanan masih kurang. Masih ada beberapa ruas yang macet dan prasarananya tidak memadai,” ujar Bambang kepada Espos, Rabu (9/10), di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Bambang menilai kenaikan tarif tol itu akan sangat memberatkan para pengusaha truk. Omzet pengusaha truk akan menurun drastis jika armada melintasi tol setelah tarif dinaikkan. Oleh sebab itu, asosiasi siap menginstruksikan para sopir untuk tidak melintasi jalan tol.
”Katanya pengusaha truk diimbau agar menggunakan tol. Kami sedang menguji coba dan mengalkulasi untung ruginya. Truk kami kan untuk usaha, bukan plesiran. Jadi apa pun yang dikonsumsi harus dianggap komponen yang dihitung agar bertahan dalam persaingan usaha,” kata Bambang.
Ia mengatakan kalau pemerintah tetap akan menaikkan tarif tol, asosiasi berpendapat lebih baik truk tidak menggunakan jalan tol. Kenaikan tarif tol ini memang belum sepenuhnya disosialisasikan pemerintah. Meski demikian, jika mengacu UU No. 38/2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah No. 15/2005 tentang Jalan Tol, tarif tol akan naik pada akhir 2019 ini.
Dua Tahun
Dalam aturan itu disebutkan evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun sekali oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) berdasarkan tarif lama yang disesuaikan dengan pengaruh inflasi.
Direktur Utama PT Jasamarga Semarang-Batang selaku pengelola jalan tol Semarang-Batang, Arie Irianto, membenarkan akan ada penyesuaian tarif di sejumlah ruas tol pada tahun depan. Meski demikian, penyesuaian tarif itu tidak berlaku untuk tol Semarang-Batang.
”Sesuai UU No. 38/2004 dan PP No. 15/2005 tentang Jalan Tol akan ada penyesuaian tarif akibat inflasi selama dua tahun, tapi kami baru beroperasi pada Januari 2019. Jadi baru kena penyesuaian tarif pada 2021 nanti,” ujar Arie.