MAJU PILKADA SOLO LEWAT JALUR INDEPENDEN Rudy Ultimatum Gibran

Enggak usah dicabut. Langsung dicoret. Kalau sudah punya kartu tanda anggota [KTA] PDIP, dia kan menyatakan masuk keluarga besar PDIP dan akan
taat dan patuh pada
keputusan partai.”

SOLO—Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengultimatum Gibran Rakabuming Raka apabila maju lewat jalur independen dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah Solo.

MARIYANA RICKY P.D.
redaksi@koransolo.co
Rudy, sapaan akrabnya, menegaskan apabila Gibran nekat maju lewat jalur independen harus menerima konsekuensinya. Konsekuensi itu adalah dicoret sebagai kader partai banteng bermoncong putih itu.
“Enggak usah dicabut. Langsung dicoret. Kalau sudah punya kartu tanda anggota [KTA] PDIP, dia kan menyatakan masuk keluarga besar PDIP dan akan taat dan patuh pada keputusan partai. Hla kalau masuk ke independen, berarti tidak menghargai statement dia sendiri to. Tapi, kalau mau independen, ya boleh-boleh saja. Itu hak asasi manusia ikut pesta demokrasi. Karena sudah nyalon di luar PDIP, artinya tidak mengakui dirinya sebagai anggota partai lagi to,” kata dia, Jumat (11/10).
Menurut Wali Kota Solo itu, jika seseorang telah masuk menjadi anggota PDIP sudah semestinya mengikuti aturan kepartaian. Selain itu, anggota juga harus aktif dalam berbagai kegiatan partai.
“Kalau sudah jadi anggota partai ya harus mengikuti pendidikan politik. Sudah tahu partai politik belum? Kalau belum ya belajar dulu. Politik itu apa coba ditanya dulu. Partai politik itu apa? Kalau sudah anggota partai, kalau ada program partai ya harus aktif mengikuti,” kata dia lagi.

Rudy kemudian mencontohkan kariernya dalam kepartaian yang dimulai dari anggota, bakordes, kordes, korcam, hingga akhirnya menjadi pucuk pimpinan partai di tingkat kota. “Saya selalu pesan kepada kader saya, siap kecewa, siap dikecewakan. Kalau belum siap itu, jangan.”
Ihwal manuver politik Gibran maupun lawan lain pada pilkada tahun depan, Rudy mengaku tidak mempermasalahkan. Kendati rekomendasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP belum turun, ia meyakini pasangan Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa bakal menang.
“Kami siap. Calon berapa pun, kami siap menyukseskan dan memenangkan tentunya. Saya enggak perlu pakai modal duit kok. Militansi teman-teman PDIP lumayah gede. Dan selama saya memimpin PDIP di Solo, kursi legislatif dari 24 naik jadi 30. Artinya masyarakat merasakan perubahan,” tegasnya.
Ambil Formulir
Sementara itu, pengacara Henry Indraguna mengambil formulir dukungan calon perseorangan di KPU Solo. Dia mengaku belum mempunyai pasangan cawali/cawawali. Tapi dia ingin berduet dengan Gibran. Dia menilai Gibran merupakan sosok ideal bagi Kota Solo ke depan.
Menurut dia, sudah saatnya generasi tua Solo nglenggana menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada kaum milenial atau anak muda yang kreatif.
Henry bertemu komisioner KPU Solo. Dia menanyakan beberapa hal terkait syarat maju pilkada Solo dari jalur perseorangan. Seperti jumlah minimal dukungan calon pemilih hingga persyaratan lainnya. Nurul dan kawan-kawan menjelaskan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi Henry. Di antaranya dukungan minimal 8,5 persen dari jumlab DPT Pemilu terakhir Solo sebanyak 421.999 orang. Dijelaskan pula dukungan tersebut harus berasal dari setidaknya tiga wilayah kecamatan di Solo. ”Tahap penyerahan syarat dukungan paslon 11 Desember 2019 sampai 5 Maret 2020. Tapi kami tetap berikan penjelasan kepada Pak Henry dan tim karena menjadi kewajiban kami untuk melayani,” kata Nurul.
Sementara itu, selain pengacara kondang Henry Indraguna ada dua kelompok lain yang membidik jalur perseorangan dalam Pilkada Solo 2020. Informasi itu dicuatkan Ketua KPU Solo, Nurul Sutarti, saat diwawancarai wartawan seusai menyerahkan formulir dukungan calon perseorangan kepada Henry Indraguna di Kantor KPU Solo, Jumat.
“Yang sudah datang langsung untuk berkonsultasi dan mengambil formulir dukungan memang baru Pak Henry. Tapi ada beberapa elemen yang berkonsultasi melalui ponsel, di antaranya dari Pospera dan jaringan Tikus Pithi,” tutur Nurul.
Menurut dia, jaringan Tikus Pithi Hanoto Baris kemungkinan mengusung pasangan Bagyo Wahyono-F.X. Supardjo. Sedangkan untuk elemen Pospera belum diketahui siapa paslon yang akan mereka usung sebagai cawali-cawawali.
Nurul menyatakan pihaknya siap memberikan informasi kepada siapa pun yang membutuhkan informasi terkait Pilkada 2020, termasuk persyaratan jalur perseorangan. Pelayanan diberikan via ponsel maupun datang langsung ke KPU. Kendati belum pernah ada cawali-cawawali dari jalur perseorangan sepanjang sejarah Pilkada Solo, tapi sudah menjadi kewajiban KPU melayani masyarakat. “Sesuai slogan KPU melayani, kami berikan informasi yang dibutuhkan,” kata dia.
Berdasarkan ketentuan, menurut Nurul, untuk bisa maju dari jalur perseorangan paslon cawali-cawawali harus didukung sedikitnya 35.870 orang. Jumlah tersebut sebesar 8,5 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu tahun 2019.
Selain itu dukungan harus berasal dari sedikitnya tiga wilayah kecamatan di Solo atau 50 persen dari suatu daerah. Tapi menurut Nurul tidak ada ketentuan yang mengatur jumlah minimal dukungan di masing-masing wilayah kecamatan itu.
Artinya untuk konteks Kota Solo, dukungan untuk cawali-cawawali independen boleh didominasi dari salah satu atau dua kecamatan saja. Sedangkan untuk kekurangan dukungannya bisa diambilkan dari satu atau dua kecamatan lainnya.
Ihwal pernyataan dukungan per orang, Nurul mengatakan tidak perlu disertai dengan meterai Rp6.000. Tapi meterai dipakai saat pembendelan (pengelompokan) per kelurahan atau kecamatan. Dengan demikian dari aspek biaya lebih efisien.
Komisioner KPU Solo lainnya, Kajad Pamudji Joko Waskito, menambahkan pernyataan dukungan dari warga harus disertai fotokopi KTP elektronik. KPU akan menerjunkan tim untuk memverifikasi faktual berkas persyaratan tersebut. (Kurniawan/JIBI)