Ingin Panjang Umur? Atur Pola Makan

Pola makan sehari-hari memang menjadi penentu bagi kesehatan tubuh. Maka penting untuk memperhatikan makanan dan minuman apa yang dikonsumsi.
”Kita harus beralih dari makan untuk foto, menjadi makan untuk sehat. Karena penyakit kardiovaskular menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi, padahal itu semua bisa dicegah,” ucap Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, pakar gizi dan keamanan pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat, seperti dikutip dari Liputan6.com, Minggu (20/10).
Konsep diet sehat bisa dijadikan acuan untuk melakukan aksi terkait pangan. Aksi ini tak hanya berdampak pada kesehatan tubuh, tetapi juga pada bumi di masa depan.
”Orang harus memahami kalau dia makan sembarangan waktu muda, maka masa tuanya ia bisa menderita banyak penyakit,” jelas Ahmad dalam acara Jelajah Gizi 2019 bersama Danone Indonesia di Bogor, Jawa Barat.
Salah satu cara mencegah munculnya penyakit akibat pola makan yang buruk dapat dimulai dengan mengubah pola hidup. Seperti dengan memperbaiki pola makan dan melakukan diet sehat.
”Bagaimana cara kita mengonsumsi pangan yang sehat? Kita bisa menerapkan healthy diet dengan mengonsumsi makanan organik,” jelas Ahmad.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), selain diversifikasi pangan, cara produksi, pemasokan, hingga konsumsi makanan harus berubah sesuai dengan kebutuhan healthy diet.
”Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan healthy diet adalah makan dengan kuantitas yang cukup, aman, bergizi, dan beragam,” ucap Coorporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin.
Hal tersebut sangat berkaitan dengan konsep pangan yang yakni gizi seimbang, keamanan pangan, food waste, dan ketahanan pangan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cardiology oleh Beth Israel Deaconess Medical Center, Amerika Serikat, menyatakan bahwa setiap jenis diet sehat atau gizi seimbang bisa mengurangi cedera dan peradangan pada jantung.
“Cedera jantung mengarah pada kerusakan sel otot jantung,” kata Lara Kovell, kepala penelitian dan asisten profesor di University of Massachusetts Medical School’s Division of Cardiology, Amerika Serikat, kepada Bicycling dan dikutip Liputan6.com, belum lama ini.
Bisa disebabkan oleh serangan jantung, terlalu banyak stres pada jantung, trauma cedera atau obat, atau penyakit yang mempengaruhi struktur jantung seperti darah tinggi,” jelas Lara.
Menurut kepala penelitian itu, diet sehat adalah diet yang mengandung protein, karbohidrat, dan lemak tak jenuh. Diet itu bisa membantu menurunkan risiko terkena penyakit yang berujung pada penyakit jantung, seperti darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan obesitas.
“Makanan yang tidak diolah seperti buah utuh dan sayuran relatif rendah dalam kalori, tetapi menjadi sumber serat dan potasium yang baik. Sehingga lebih mengenyangkan dan membantu menurunkan tekanan darah,” kata Lara.
Meskipun menentukan diet yang benar-benar optimal itu sulit. Kebanyakan ahli setuju bahwa secara keseluruhan, diet yang sehat berupa gabungan protein, karbohidrat dan lemak sehat. (JIBI)