Menuruni Lereng Secepat 100 Km/Jam

Liputan6.com/AP
melayang: Pemain ski asal Swiss, Killian Peier, melayang di udara pada putaran percobaan turnamen Four Hills Ski Jumping ke-65 di Innsbruck, Austria, pada Januari 2018.

Ski jumping adalah olahraga bagi para pemberani yang dipraktikkan hanya di beberapa negara saja. Jerman menjadi yang terdepan di olahraga ini dan berada di pering-
kat atas.
Ski jumping dimasukkan dalam Olimpiade Musim Dingin untuk kali pertama pada 1924 dan dipertandingkan pada setiap Olimpiade Musim Dingin sejak saat itu.

Olahraga yang berbahaya dan butuh keahlian teknis ini dijalani secara profesional oleh hanya beberapa ribu orang.
Para pelompat ini menuruni lereng dengan kecepatan hampir 100 km/jam.
Setiap lompatan dibagi menjadi empat bagian: in-run, take-off, penerbangan, dan pendaratan. The Grobe Olympiaschanze adalah bukit olympic ski jumping di ujung selatan Jerman yang merupakan sedikit dari 100 bukit lokasi ski jumping di seluruh dunia.
Ski jumping juga dikenal dengan freestyle ski atau ski gaya bebas. Olahraga ini mengedepankan nyali dan aksi akrobatik yang mengundang decak kagum penonton dan juri.
Versi lain menjelaskan olahraga ekstrem ini ada sejak 1930-an. Ketika itu para atlet dari Norwegia melakukan beberapa aksi akrobatik ketika menggelar latihan di area ski Pegunungan Alpen dan ski lintas alam. Setelah itu, aksi ini kemudian populer.
Pada 1960-an, ski jumping mulai dipandang sebagai salah satu jenis olahraga yang memiliki prospek tinggi, tapi juga sangat berbahaya. Olahraga ini hanya punya sedikit aturan dan berisiko besar membuat para atlet cedera.
Penggemar olahraga ini terus berdatangan hingga akhirnya pada 1980-an dimulailah seri pertama kejuaraan freestyle ski dan dilanjutkan pada 1986 dengan kejuaraan dunia freestyle ski. (liputan6.com/superadventure.co.id)