Pernikahan Go Green Mendunia

Pernikahan dengan konsep go green atau ramah lingkungan menjadi tren di Amerika Serikat dan Eropa karena bisa memangkas biaya sekaligus berkontribusi melestarikan lingkungan. Pakar berpendapat gerakan sederhana ini mampu membuat perubahan pada lingkungan. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Sepasang pengantin yang berasal dari Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Kira Meskin dan Yanif Schiff memilih konsep pesta pernikahan go green untuk merepresentasikan hobi mereka berdua yaitu berkebun, mendaur ulang sampah dan membuat pupuk kompos. Konsep pesta pernikahan go green ini dirancang mulai dari venue hingga bagaimana tamu undangan berangkat.
Pertama, mereka berdua berangkat bersama 25 tamu undangan menggunakan sepeda untuk menuju ke venue resepsi di Salvage One. Venue tersebut juga menjual elemen furnitur bekas pakai. Sementara itu, penata bunga pernikahan mereka adalah vendor yang mengalokasikan bunga bekas mereka kepada berbagai lembaga nirlaba yang merombak bunga bekas pakai menjadi hiasan tempat tidur di ruang perawatan, rumah fakir miskin dan rumah sakit. Vendor undangan pernikahan adalah vendor yang menggunakan kertas daur ulang.
“Saya tidak pernah menganggap pesta pernikahan ini [pesta pernikahan dengan konsep go green] lebih mahal daripada pesta pernikahan biasa, tetapi kemungkinan tambahan biaya juga menurut kami memberi hasil yang setimpal,” kata Schiff dilansir dari Independent.co.uk beberapa waktu lalu.
Merujuk data Department Agriculture USA, sekitar 30% hingga 4% persediaan makanan di Amerika menjadi limbah. Oleh karena itu, mereka menggunakan vendor FIG Catering yang melayani 50 hingga 70 pesta pernikahan setiap tahunnya. Katering ini meminimalkan penggunaan buffet keluarga dan menggunakan porsi makan per orang dengan harga 100 dolar atau sekitar Rp1,4 juta hingga 250 dolar (sekitar Rp3,5 juta). Penyediaannya pun diatur pas per satu orang, tidak lebih dan tidak kurang.
Sedangkan perabot pesta pernikahan, menggunakan vendor yang menyediakan barang-barang dari pernikahan sebelumnya alias persewaan. Begitu juga dengan baju pengantin. Bahkan untuk bumbu pesta yang meriah, yaitu confetti, mereka menggunakan confetti dengan bahan baku yang mudah terdegradasi.
Dilansir dari buku berjudul Green Bride Guide karya Kate Harrison, seorang pakar lingkungan, mengatakan pesta pernikahan rata-rata menghasilkan sampah sebanyak 400 pon atau setara 181 kilogram yang berkontribusi menyumbang sebanyak 63 ton CO2. Dengan perkiraan 2,5 juta pernikahan per tahun, maka ada sekitar satu miliar pon sampah (500.000 ton), setara dengan emisi yang dihasilkan sekitar empat orang dalam setahun, hanya dalam satu hari.
Penelitian yang dilansir dari Huffpost.com menyebutkan biaya pernikahan rata-rata di Amerika Serikat berkisar 28.000 dolar (sekitar Rp395 juta), untuk jumlah yang setara dengan acara enam jam. Selama enam jam itu, pernikahan menghasilkan sekitar 400-600 pon atau sekitar 181 kilogram hingga 272 kilogram. Sampah itu berasal dari daftar tamu sekitar 100-120 orang.
Dalam bukunya, Kate Harrison mengatakan angka-angka itu kemungkinan besar meningkat melihat tren pesta pernikahan saat ini. Penting bagi pasangan yang menikah untuk benar-benar memikirkan jejak hari istimewa mereka. Terutama ketika ada begitu banyak alternatif go green di luar sana. “Biaya pernikahan konvensional semakin meningkat,” kata dia.
Kate merupakan pendiri dari Green Wedding Professional. Dalam web resmi Green Wedding Professional, dikatakan biaya pernikahan konvensional semakin meningkat, sehingga kini ada sekitar 70% calon pengantin yang memilih pesta pernikahan go green sebagai alternatif. Dalam kesempatan wawancaranya dengan Biconi.com, beberapa tahun silam, Kate mengatakan memilih konsep pesta pernikahan go green selain dapat turut serta menyelamatkan lingkungan, juga dapat menghemat biaya pernikahan sebesar 40%.
Menjadi Tren
“Orang-orang membuat keputusan pembelian berdasarkan masalah lingkungan,” kata Gerald Prolman, pendiri OrganicBouquet.com, penjual bunga organik online. Prolman mengatakan web-nya telah melipatgandakan penjualannya setiap tahun sejak dimulai pada 2001, bahkan dia menambahkan bisnis grosir untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
“Apakah itu makanan atau kapas atau bunga, orang-orang bertanya, bagaimana pekerja pertanian diperlakukan? Siapa yang menghasilkan produk? Bagaimana lingkungan terpengaruh dalam proses itu?,” kata Prolman dilansir dari Nytimes.com.
Eric Fenster, pemilik Back to Earth, sebuah perusahaan katering organik di Berkeley, mengatakan ketika ia memulai bisnisnya pada 2001, kliennya hampir seluruhnya terdiri dari kelompok keadilan sosial dan kelompok nirlaba lingkungan. Akan tetapi pasar itu telah berkembang besar menjadi sepertiga dari bisnisnya.
Majalah-majalah pengantin juga langsung mengenali tren itu, bahkan sebuah situs online baru, Portovert.com muncul untuk melayani pengantin dan pengantin pria yang paham lingkungan. Millie Bratten, pemimpin redaksi majalah Brides, mengatakan sebelum 2007 minat terhadap pernikahan ramah lingkungan telah berkembang dari keinginan untuk menggabungkan beberapa elemen ramah lingkungan, seperti menu vegan, mempekerjakan katering yang menggunakan bahan-bahan lokal, menghias dengan tanaman pot yang dapat ditransplantasikan dan menggunakan lilin berbasis kedelai daripada lilin berbasis minyak bumi.