Bentuk Ekosistem Wisata Baru

Pemerintah mencanangkan program destinasi pariwisata superprioritas untuk mendorong pertumbuhan di sektor pariwisata. Program tersebut diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan dan membentuk ekosistem pariwisata yang lebih baik.

Novita Sari Simamora & Akbar Evandio
redaksi@jibinews.co

Pengembangan destinasi wisata prioritas yang sebelumnya dikemas dalam program 10 Bali Baru dinilai menjadi langkah positif, meski dalam perkembangannya lebih memfokuskan ke klaster superprioritas.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani mengatakan pengembangan destinasi wisata superprioritas membutuhkan keseriusan yang super.
“Soalnya, kenyataan di lapangan tidak semudah membangun destinasi wisata saja. Harus ada keseriusan untuk pengembangannya,” katanya.
Menurutnya, upaya untuk mendorong destinasi wisata superprioritas agar menjadi selevel Bali tidaklah mudah. Dia menyebutkan ada tiga hal penting yang harus ditangani dengan serius yakni, pertama, harga tiket pesawat yang perlu dicermati mengingat kondisinya menjadi daya tarik tersendiri.
Kedua, promosi yang masih dinilai kurang sehingga tidak sampai ke target sasaran. Ketiga, diperlukan program terintegrasi salah satunya dengan mengemas paket wisata, penataan agenda atraksi budaya dan sejarah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. “Perlu atraksi yang rutin untuk menghidupkan kawasan pariwisata, apalagi kalau itu daerah prioritas,” ujarnya.
Hariyadi mencontohkan, kunjungan wisata ke Candi Borobudur meningkat setiap tahun karena destinasi itu telah menjadi salah satu destinasi superprioritas dan sudah mendunia.
Selanjutnya, pekerjaan rumah pemerintah justru pada tiga destinasi wisata superprioritas lainnya yakni Danau Toba, Mandalika, dan Labuan Bajo yang masih perlu mendapatkan pendorong untuk menarik kunjungan lebih banyak.
Pengembangan destinasi pariwisata prioritas diharapkan mendongkrak perjalanan wisatawan domestik mencapai 300 juta perjalanan, serta 25 juta kunjungan dari mancanegara pada 2024.
PHRI optimistis kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke destinasi superprioritas bakal meningkat. Hanya saja, hal itu bisa tercapai dengan catatan pengelola kawasan pariwisata mampu menciptakan destinasi yang terintegrasi dan bisa diakses dengan mudah disertai dengan fasilitas yang mendukung.
Pemerintah juga dituntut untuk memaksimalkan promosi yang bekerja sama dengan stakeholders untuk menciptakan ekosistem wisata yang baik.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Nunung Rusmiati menilai, program 10 Bali Baru yang kini telah diperbarui menjadi program pengembangan pariwisata superprioritas makin meneguhkan peran asosiasi untuk meningkatkan promosi wisata, khususnya ke daerah nonprioritas.
“Kami harus tetap memperhatikan potensi destinasi lainnya. Promosi Bali Baru tetap dikemas sesuai dengan karakteris­tik tiap daerah. Semua memiliki kombinasi alam dan budaya yang itu akan dieksplorasi,” ungkapnya.
Komitmen Promosi
Rusmiati memahami bahwa pemerintah harus memilih dan fokus pada pengembangan destinasi wisata prioritas. Namun, Asita tetap berkomitmen untuk melakukan promosi ke provinsi yang tidak mendapatkan prioritas, kemudian menginformasikan bahwa destinasi wisata lainnya tetap mendapatkan dukungan pemerintah.
Pengembangan destinasi wisata yang tidak menjadi prioritas dinilai menjadi salah satu kesempatan saat perhatian tertuju pada sektor pariwisata. Destinasi wisata nonprioritas bisa meningkatkan diri secara kualitas untuk mendorong pemerataan sektor pariwisata nasional.
Menurutnya, potensi Bali Baru pun cukup merata sehingga semua destinasi wisata memiliki peminatnya masing-masing. “Sejauh ini, kunjungan wisatawan mancanegara paling dominan berasal dari Malaysia, China, Singapura, dan Australia.”
Asita berharap Kementerian Pariwisata berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan berupaya mendorong penambahan rute penerbangan langsung ke destinasi prioritas tersebut.
Rusmiati menilai, tantangan Bali Baru maupun destinasi wisata superprioritas terletak pada sarana seperti agen perjalanan dan akomodasi, juga kesiapan prasarana berupa infrastruktur serta akses telekomunikasi yang mumpuni.
Menurutnya, kebutuhan fasilitas yang ramah bagi pengunjung, khususnya disabilitas, menjadi catatan penting. “Asita berharap adanya program di setiap destinasi prioritas dapat menarik kunjungan hingga 4 juta wisatawan mancanegara setiap tahun. Sinergi antarlembaga dan stakeholders terkait bisa menjadi ruang untuk saling mengisi dan mendukung dalam upaya pengembangan pariwisata nasioal. (JIBI/Bisnis Indonesia)