NASIB BUS AKDP Bus Solo-Sragen Hidup Segan Mati Tak Mau…

Moh. Khodiq Duhri

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah unit bus antarkota dalam provinsi (AKDP) di koridor Solo-Sragen makin berkurang. Sulitnya mendapat penumpang menjadi alasan di balik perusahaan otobus (PO) tidak memperpanjang izin beroperasi.
PT Harta Sanjaya yang sebelumnya tercatat sebagai operator pemegang izin trayek paling banyak dengan delapan unit bus hanya memperpajang izin beroperasi untuk empat unit bus. Namun, dari empat bus itu, hanya ada satu unit bus yang melayani penumpang dari Terminal Tirtonadi-Terminal Pilangsari pulang dan pergi (PP).
“Terus terang kalau mengoperasikan empat bus secara bersamaan, kami berat di ongkos. Bisa dibilang, satu unit bus itu terpaksa kami jalankan. Kalau bisa memilih, sebenarnya kami lebih baik tidak mengoperasikan semua bus. Tapi, bagaimana nanti dengan nasib penumpang? Walau berat, kami tetap melayani penumpang meski dengan satu unit bus,” ujar perwakilan PT Harta Sanjaya, Joko Sumpeno, saat ditemui Koran Solo di kantornya, Selasa (22/10).
Ada banyak faktor mengapa bus jurusan Solo-Sragen kesulitan mencari penumpang. Meningkatkan daya konsumtif warga terhadap kendaraan pribadi membuat kendaraan umum seperti bus jarang dilirik. Selain itu cukup banyak penumpang yang memilih naik bus jurusan Surabaya-Solo ketimbang bus Sragen-Solo karena lebih cepat sampai tujuan. Ini karena bus Surabaya-Solo hanya berhenti di tempat-tempat tertentu dan tidak buang-buang waktu untuk ngetime di pinggir jalan demi menunggu penumpang. Munculnya aplikasi online Gojek dan Grab yang memanjakan penumpang seakan kian menenggelamkan nasib operator lokal seperti Harta Sanjaya. Karena lebih banyak menanggung buntung dari pada untung, PT Harta Sanjaya lebih fokus pada pelayanan jasa transportasi untuk keperluan pariwisata.
“Bus AKDP Solo-Sragen yang kami miliki berkapasitas 52 penumpang. Bahan bakarnya sangat boros. Harus ganti oli secara rutin. Harus rutin ganti onderdil yang aus, juga ganti ban yang mulai tipis. Dari sopir, kami cuma dapat setoran Rp150.000/hari. Pendapatan dari hasil narik penumpang itu jelas tidak bisa menutup biaya operasional,” papar Joko Sumpeno.
Angin Segar
Kabar akan diberlakukannya aglomerasi angkutan umum di Soloraya oleh Pemprov Jateng menjadi angin segar bagi operator bus lokal. Harta Sanjaya menyambut baik rencana penerapan aglomerasi angkutan tersebut. Joko mengakui pelayanan kepada penumpang di jalur Solo-Sragen sejauh ini belum optimal. Cukup banyak penumpang yang mengeluh karena bus terlalu lama ngetime di beberapa tempat sehingga mereka tidak segera sampai ke tempat tujuan.
“Aglomerasi akan menjadi jawaban atas masalah moda transportasi khususnya di Soloraya. Kenyamanan penumpang sangat diutamakan. Sebagai operator lokal, kami tidak perlu pusing memikirkan besarnya dana operasional karena ada subsidi dari pemerintah. Dengan memiliki delapan izin trayek di jalur Solo-Sragen, kami mendapat jatah empat unit bus di program aglomerasi. Spesifikasinya seperti apa, kami masih menunggu petunjuk dari konsorsium,” ucap Joko Sumpeno.
Kabid Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen, Bintoro Setiyadi, mengatakan Sragen mendapat dua jatah koridor dalam program aglomerasi angkutan. Dua koridor itu meliputi Terminal Tirtonadi Solo-Terminal Pilangsari Sragen dan Terminal Tirtonadi Solo-Sangiran-Sumberlawang. Khusus koridor kedua menjadi program prioritas yang akan direalisasikan pada pertengahan 2020.
“Yang perlu disiapkan sekarang salah satunya adalah ketersediaan bus feeder sebagai penunjang koridor dalam program aglomerasi. Bus jurusan Sragen-Gemolong perlu peremajaan karena sudah tua. Bus Sragen-Gabugan-Sumberlawang dan Masaran-Plupuh-Sangiran perlu dihidupkan kembali. Dengan adanya aglomerasi, kami berharap bisa membangkitkan gairah pengusaha transportasi lokal yang beroperasi di jalur penopang koridor utama,” papar Bintoro.