RENCANA 5 HARI SEKOLAH BAGI SMPN WONOGIRI Disdikbud Diminta Bijak Sikapi Pro & Kontra

WONOGIRI—Legislator Wonogiri meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengkaji lebih dalam sebelum menerapkan kebijakan lima hari sekolah bagi SMP
negeri (SMPN).

Rudi Hartono
redaksi@koransolo.co

Menurut anggota DPRD Wonogiri, Imron Rizkyarno, 28, Jumat (1/11), kebijakan tersebut akan memunculkan pro dan kontra. Politikus Gerindra itu meminta Disdikbud tak hanya mendengarkan pihak yang pro, tetapi harus juga memperhatikan pihak yang kontra. Ketua Fraksi Gerindra tersebut menilai wajar jika ada pihak yang kontra terutama dari siswa atau orang tua siswa di wilayah pelosok. Sebab, sekolah lima hari bakal mengubah kebiasaan anak.
Dia mencontohkan tak sedikit siswa yang selama ini selalu diminta membantu orang tua bekerja di ladang, tempat usaha, atau di rumah setelah pulang sekolah siang. Dengan adanya kebijakan sekolah lima hari berarti siswa tersebut bakal tak bisa membantu orang tua mereka lagi sepulang sekolah.
Permasalahan lain yang bisa muncul, yakni anak menjadi malas belajar saat sore atau malam hari, sebab mereka sudah merasa capai setelah belajar dari pagi hingga sore. Selain itu tidak menutup kemungkinan anak justru merasa leluasa bermain di luar rumah, lantaran waktu libur semakin panjang. Alih-alih menghabiskan waktu libur bersama keluarga, anak malah bermain bersama teman-temannya entah ke mana.
“Kalau sekolah enam hari seperti biasanya, siswa bisa mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Kegiatan-kegiatan seperti itu penting juga buat anak agar mereka berkegiatan positif dan belajar berorganisasi. Kalau sekolah sampai sore pukul 15.30 WIB atau bahkan 16.00 WIB misalnya, dan hanya sampai Jumat apakah siswa nanti tetap bisa mengikuti kegiatan ekstra kurikuler? Kalau kegiatan ekstra kurikuler dilaksanakan Sabtu semua pas anak libur, sama saja sekolah enam hari,” kata anggota DPRD Wonogiri termuda asal Girimarto itu.
Imron berharap Disdikbud menguji cobanya terlebih dahulu sebelum kebijakan benar-benar diterapkan secara efektif. Tak hanya di kawasan kota, tetapi juga perlu diuji coba di wilayah pinggir. Uji coba sebaiknya disertai dengan penyesuaian kegiatan ekstra kurikuler untuk mengetahui memungkinkan tidaknya kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin-Jumat sepulang sekolah.
Rencana penerapan kebijakan tersebut menjadi perbincangan di Instagram yang berisi pengguna akun asal Wonogiri. Ada pengguna medsos yang menyatakan setuju ada pula yang tak setuju. Pengguna akun yang tak setuju, niiawidayati mengatakan jam pulang lima hari sekolah, yakni pukul 15.30 WIB terlalu sore. Hal itu tak masalah jika jalur sekolah dilalui angkutan umum hingga sore. Namun, bakal menimbulkan masalah jika jalur sekolah pada jam tersebut tak dilalui angkutan umum. Siswa bakal tak bisa pulang. Pengguna akun, nana_539, menyatakan setuju karena anak bakal memiliki waktu istirahat bersama keluarga lebih lama.
Seperti diketahui, Disdikbud Wonogiri merencanakan penerapan lima hari sekolah bagi SMPN. Di Kota Sukses tercatat ada 78 SMPN yang tersebar di berbagai kecamatan di kawasan kota maupun di wilayah pinggir. Saat ini Disdikbud masih menggelar poling atau jajak pendapat di seluruh sekolah. Siswa, guru, dan orang tua siswa dapat memberikan pendapat atau masukan atas rencana tersebut.