Arang Aktif si Penawar Racun

Sejumlah tanaman seperti bambu, zaitun dan kelapa dapat dimanfaatkan sebagai zat arang aktif, penetralisasi racun yang ramah lingkungan. Kekinian zat arang berevolusi dalam berbagai produk sehari-hari. Meskipun begitu, ada dosis yang harus ditepati agar efek negatif tidak terjadi. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

Penggunaan arang aktif pertama yang didokumentasi­kan tercatat, sejak 3750 Sebelum Masehi (SM), ketika pertama kali digunakan oleh orang Mesir untuk melelehkan bijih untuk membuat perunggu. Kemudian pada 1500 SM, orang Mesir juga menggunakannya untuk mengobati penyakit usus, menyerap bau yang tidak enak serta untuk menulis di papirus.
Dilansir dari Sappohill.com, pada 400 SM, Hindu Kuno dan Fenisia menemukan zat antiseptik arang aktif dan mulai menggunakannya untuk memurnikan air. Praktik terkenal yang mereka lakukan adalah menyimpan air arang aktif dalam tong yang telah hangus untuk setiap pelayaran panjang.
Baru pada 50 setelah Masehi, dokter zaman Yunani Kuno, Hippocrates dan Pliny memimpin jalan penggunaan arang aktif dalam pengobatan. Mereka mulai menggunakannya untuk mengobati berbagai penyakit seperti epilepsi, klorosis dan vertigo. Setelah pemberangusan ilmu pengetahuan selama abad kegelapan, arang muncul kembali pada 1700-an dan 1800-an digunakan untuk perawatan medis, baik untuk zat penyerap cairan dan gas serta disinfektan.
Beberapa kegunaan populer selama periode waktu ini termasuk tapal yang terbuat dari arang dan remah roti atau ragi (disukai oleh tentara dan ahli bedah angkatan laut) serta bubuk arang untuk mengurangi borok busuk, keasaman di perut dan bahkan mimisan ketika subsulfat dari besi gagal untuk menyembuhkannya. Pada 1900 arang mulai dijual sebagai pelega tenggorokan, biskuit dan pasta gigi.
Saat ini arang ­aktif di­gunakan dalam aplikasi praktis di rumah sakit dan rumah tangga, untuk orang-orang dan hewan peliharaan.
Di fasilitas me­dis di seluruh dunia, arang diguna­kan dalam penyaringan masker untuk teknisi laboratorium, teknisi mesin dialisis hati dan ginjal dan bahkan sebagai penanda dalam operasi kanker payudara (di antara banyak aplikasi lainnya).
Sama seperti arang yang telah digunakan untuk membantu menghilangkan racun yang dicerna oleh manusia, dokter hewan juga menggunakan arang sebagai penawar racun bagi hewan, seperti ketika anjing memakan cokelat. Arang aktif telah menemukan tempatnya dalam penggunaan sehari-hari, seperti digunakan dalam saringan udara, pemurnian air, dan dalam produk termasuk sabun.
Ada alasan me­ngapa arang aktif banyak digunakan untuk produk konsumsi sehari-hari.
Arang aktif da­lam sabun misalnya, berasal langsung dari tanaman bambu. Ketika bambu dibakar dan tidak ada oksigen yang cukup untuk pembakaran sempurna, karbon di dalam bambu akan menyaring batu bara yang tersisa. Aktivasi terjadi ketika arang dimasukkan ke uap dan secara dramatis meningkatkan luas permukaan molekul karbon di dalamnya.
Molekul karbon ini kemudian mengembangkan kantung dalam, atau pori-pori arang yang membantu menangkap kotoran dan minyak yang tidak diinginkan.
Arang aktif berasal dari bambu, tumbuhan ini sering digunakan sebagai pengganti kayu dan menawarkan manfaat penetralisasi melalui karbonnya yang ramah terhadap Bumi dan berkelanjutan.
Tidak hanya menyerap kotoran melalui molekul karbonnya, arang aktif juga dapat menyedot kotoran di dalam permukaan hingga ke lapisan atas permukaan, misalnya pada kulit. Oleh karena itu, arang aktif dapat bermanfaat bagi banyak orang yang memiliki kondisi kulit ringan, seperti jerawat dewasa. Arang aktif juga merupakan exfoliator lembut yang membantu menghilangkan sel kulit mati tanpa merusak kulit atau mengeringkannya.
Tetap Aman
Dilansir dari Healthline.com, arang aktif dianggap aman dalam banyak kasus, dan reaksi merugikan dikatakan jarang teradi. Efek samping negatif yang terjadi masih dikatakan umum, seperti mual dan muntah. Hal tersebut ditulis dalam jurnal berjudul Use of Activated Charcoal in Acute Poisonings: Clinical Safety and Factors Associated with Adverse Reactions in 575 Cases karya Amigo M dan kawan-kawan.
Selain itu, konstipasi dan feses hitam adalah dua efek samping lain yang biasa dilaporkan ketika arang aktif digunakan sebagai penawar darurat untuk racun. Namun ada risiko arang dapat masuk ke paru-paru daripada lambung. Biasanya gejala negatif terjadi pada seseorang ketika dia mengonsumsi arang aktif dan muntah atau mengantuk. Risiko itu membuktikan arang aktif hanya boleh diberikan kepada individu yang cocok.
Merujuk jurnal berjudul Administration of Oral Activated Charcoal in Variegate Porphyria Results in a Paradoxical Clinical and Biochemical Deterioration karya Hift RJ dan kawan-kawan, arang aktif dapat memperburuk gejala pada individu dengan porfiria (penyakit metabolisme langka) dan penyakit genetik langka yang memengaruhi kulit, usus dan sistem saraf. Dalam kasus yang sangat jarang, arang aktif juga telah dikaitkan dengan penyumbatan lubang usus.
Arang aktif juga dapat mengurangi penyerapan obat-obatan tertentu. Oleh karena itu, orang yang menggunakan obat harus berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum meminumnya. Hal ini ditulis dalam jurnal berjudul Activated Charcoal for Acute Overdose: a Reappraisal karya Juurlink DN.
Oleh karena itu, mereka yang tertarik mencoba arang aktif sebagai penawar zat racun dan penghilang bau dapat dan menemukan berbagai pilihannya di situs perbelanjaan dan wajib mengikuti instruksi dosis dari ahli medis.
Kini suplemen arang aktif dapat ditemukan dalam bentuk pil atau bubuk. Ketika diambil sebagai bubuk, arang aktif dapat dicampur dengan air atau jus nonasam. Arang aktif juga bisa meningkatkan asupan air dan dapat membantu mencegah gejala sembelit. (salsabila@harianjogja.com)