Hotel di jogja Tingkat Hunian Hotel Berbintang Sempat Lesu

JOGJA—Tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi hotel di DIY lesu dalam beberapa bulan terakhir. Jumlah pengunjung turun pada Agustus dan September 2019.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengakui hal ter­sebut. “Penyebabnya situa­si perekonomian dan stabilitas politik kemarin,” kata Deddy, Minggu (3/11).
Dia menjelaskan pada Agustus hingga September tahun ini PHRI mencatat penurunan TPK hotel dibandingkan pada bulan sebelumnya. Sementara pada Oktober mulai ada peningkatan, namun belum signifikan.
“November dan Desember berdasar reservasi yang masuk, sudah naik. Tetapi sekali lagi belum seperti yang kami harapkan. Kami harap lebih baik dibanding dua tahun kemarin,” kata dia.
Deddy meminta pemerintah membantu dengan menggalak­kan program promosi destinasi dengan melihat pangsa pasar. Selain itu, mengarahkan kegiatan-kegiatan berskala nasional dan internasional ke DIY.
Deddy menyebut tantangan ke depan mengelola hotel semakin berat, apalagi dengan kenaikan upah minimum provinsi (UMP), iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat memengaruhi beban biaya oper­asional, sementara harga jual kamar belum bisa menyesuaikan beban biaya itu.
“Hal itu karena kue yang diperebutkan masih sedikit sehingga menjadikan persaingan ketat. Kami berharap hadirnya YIA [Yogyakarta International Airport] memberikan angin segar,” urai dia.
Sebelumnya, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) DIY yang dipaparkan Kepala BPS DIY, Johanes De Britto Priyono, mengatakan TPK hotel di DIY pada September 2019 mencapai 51,60% atau turun 7,40 poin dibandingkan TPK Agustus 2019 yang tercatat 59,00%.
“Jika dibanding dengan TPK September 2018 yang tercatat 59,01%, TPK September 2019 mengalami penurunan 7,41 poin. TPK tertinggi pada Sep­tember 2019 tercatat pada hotel bin­tang lima yang mencapai 56,69%, dan TPK terendah ter­catat pada hotel bintang satu yaitu 36,62%,” jelas dia. (Herlambang Jati Kusumo/Harian Jogja)