Penyusutan Terparah Air Waduk Mulur Petani Ikan Merugi

SUKOHARJO—Debit air Waduk Mulur, Bendosari, Sukoharjo, menurun drastis terdampak kemarau panjang. Waduk dalam keadaan kering dan hanya menyisakan sedikit air berdampak tidak terpenuhinya kebutuhan bagi pertanian dan perikanan.

Indah Septiyaning W.
redaksi@koransolo.co

Bahkan lahan kering dimanfaatkan sebagian warga untuk ditanami jagung. Camat Bendosari Paulina Yuli Kusuma Wardani mengatakan, stok air di Waduk Mulur memang berkurang drastis dampak dari kemarau panjang. Menurutnya air akan mulai terisi saat musim penghujan datang yang diperkirakan mulai bulan ini.
“Air di Waduk Mulur sangat diharapkan karena banyak manfaatnya. Seperti pertanian, perikanan bahkan sering dipakai petugas dari tim gabungan melakukan latihan bersama penanggulangan bencana alam,” ujarnya, Minggu (3/11).
Dia mengatakan musim kemarau panjang sangat berdampak pada kondisi Waduk Mulur. Hal ini pun berpengaruh terhadap pasokan air untuk lahan pertanian di wilayah Bendosari. Tak hanya itu karena kondisi kering bahkan warga bisa mengakses tanah dasar di Waduk Mulur yang sangat jarang terjadi mengingat saat musim hujan debit air sangat banyak dan membahayakan.
”Petani ikan karamba di sini juga sangat dirugikan. Selama musim kemarau ini banyak ikan mati akibat suhu udara sangat tinggi dan stok air terbatas,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Nettty Harjianti mengatakan kondisi tempat tampungan baik baik Dam Colo, Nguter dan Waduk Mulur, Bendosari masih kering. Debit air mengalami penurunan drastis. Kalaupun masih tersisa air jumlahnya sangat sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan perikanan jelas tidak mungkin mencukupi. Kebutuhan baru terpenuhi menunggu hujan turun.
”Kondisi Waduk Mulur memang sangat memprihatinkan akibat kekeringan. Tanah menjadi kering dan terlihat retakan karena tidak adanya air,” katanya.
Kemarau panjang juga berimbas pada petani ikan karamba di Waduk Mulur. Alhasil produksi ikan tidak bisa berjalan maksimal hingga petani ikan mengalami kerugian mencapai Rp25 juta.
Ketua Kelompok Mina Makmur Catur Joko Prayitno mengatakan jika kekeringan tahun ini termasuk yang terparah. Sebab air waduk menyusut secara signifikan sehingga berpengaruh pada produksi ikan. ”Dulu setiap karamba bisa diisi 3.000 ikan. Sekarang hanya 300 sampai 700 ikan saja,” katanya.
”Sekarang panen ikan saja susah. Kalau air penuh bisa lima ton ikan dipanen dalam sebulan. Di musim kering ini paling satu ton ikan itu juga gak maksimal. Karena bobotnya kurang dan kebanyakan ikan mati,” imbuhnya.