Warga Sumbung Gelar Umbul Donga Mengikat Air dengan Tumbuhan dan Doa

Kemarau panjang yang terjadi di sebagian besar wilayah di Boyolali tahun ini menggugah kesadaran menjaga lingkungan bagi beragam kelompok masyarakat. Termasuk di antaranya belasan warga Desa Sumbung, Kecamatan Cepogo, Boyolali, bersama Yayasan Anagata Merapi yang bergerak di bidang pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Mereka kembali menggiatkan reboisasi di sumber-sumber mata air di wilayah lereng timur Merapi.
Belasan warga berkumpul di joglo sekretariat Yayasan Anagata Merapi, Minggu (3/11). Tak hanya warga, sejumlah perwakilan sukarelawan, kelompok seni, dan abdi dalem Keraton Solo juga terlihat hadir. Masing-masing membawa bibit pohon pengikat air, seperti beringin, preh, bulu, dan gayam. Pohon-pohon inilah yang akan ditanam di sumber mata air Kali Butuhan, Sumbung, sebagai langkah awal penghijauan lereng timur Merapi.
Seorang abdi Keraton yang juga Juru Kunci Tapak Dalem Sumbung, Cipto Parting memimpin upacara umbul donga baraksa dengan merapal doa dan menyalakan dupa. Belasan warga menuju halaman joglo dan membentuk lingkaran. Pohon-pohon yang akan ditanam ditaruh di bagian tengah berdekatan dengan dupa. “Sebelum menanam istilahnya kita kula nuwun dulu kepada yang tinggal di Kali Butuhan,” ujar Cipto.
Cipto bercerita umbul donga sejak lama dilakukan warga lereng Merapi di Kecamatan Cepogo. Tepatnya sejak masa pemerintahan Paku Buwono (PB) X. Aktivitas kebudayaan masa lalu itu bisa dibuktikan dengan sejumlah peninggalan yang ada, seperti Situs Tapak Noto di Desa Sumbung yang diyakini sebagai telapak kaki PB X dan Pesanggrahan Pracimoharjo di Desa Paras, Cepogo yang juga digunakan PB X sebagai tempat beristirahat. Desa Paras tepat berada di sebelah Desa Sumbung.
Setelah doa selesai, warga membawa pohon ke Kali Butuhan. Jaraknya sekitar 400 meter dari joglo yayasan dengan melalui jalan setapak yang curam. Jalan itu masih berupa tanah dengan bebatuan dan tebing di sampingnya. Kali itu tampak masih mengalirkan air meski debitnya menyusut. Di sekitarnya, belasan pipa dipasang sebagai jalur mengalirkan air ke rumah-rumah warga.
Reboisasi
Ketua Yayasan Anagata Merapi, Sarsito, menjelaskan sejak erupsi 2008 ekosistem alam di sekitar lereng timur Merapi memang banyak yang rusak. Hal itu diperparah dengan kegiatan penanaman pohon pengikat air yang sempat dihentikan beberapa tahun sebelumnya. Akibatnya kini ada sekitar 300-an sumber mata air yang menyusut bahkan terancam kering. “Untuk menanggulanginya sebelum terlambat, reboisasi harus dimulai kembali,dampaknya bukan hanya sekarang, tapi 10-20 lagi,” kata Sarsito.
Tanaman yang dipilih merupakan tanaman pengikat air nonkomoditas. Tujuannya agar terhidar dari pencurian dan penebangan liar. “Kami belajar dari penghijauan yang sudah-sudah, tanaman komoditas memang rentan ditebang untuk dijual kayunya,” imbuh Sarsito.
Manajemen penghijauan pun bakal dibuat lebih rapi, seperti mencatat titik koordinat dan pohon apa saja yang sudah ditanam untuk memudahkan perawatan. Yayasan Anagata Merapi juga menjalin kerja sama dengan ratusan relawan untuk menyisir lereng timur Merapi dan menentukan lokasi penghijauan. Mereka membentuk 12 tim yang akan menyisir 12 jalur di kawasan lereng timur Merapi dengan sedikitnya 300 sumber mata air. Dari rencana itu tak kurang seribu pohon pengikat air bakal ditanam sebagai upaya reboisasi jangka panjang. “Harapannya jika mata air melimpah, maka tidak ada lagi saluran yang mongering sampai ke rumah penduduk,” ujar Sarsito. (Nadia Lutfiana Mawarni)