Kasus Penganiayaan 3 Pemuda di Sukoharjo Terungkap

SEMARANG—Aparat Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng) akhirnya mengungkap kasus penganiayaan terhadap tiga pemuda di Kabupaten Sukoharjo, Kamis (31/10) dini hari.
Penganiayaan yang terjadi di dua lokasi yang berbeda, yakni di depan pabrik PT Sami Surya Indah (SSI), Desa Pandeyan, dan di Jl. Solo-Sukoharjo, Desa Telukan, Grogol, Sukoharjo, itu ternyata dilatarbelakangi perseteruan antarperguruan silat.
“Motifnya karena beda kelompok. Jadi para pelaku ini mencari orang yang bukan dari kelompoknya. Ada dendam lama perguruan,” ungkap Direktur Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol. Budhi Haryanto, saat dijumpai Semarangpos.com (grup media Koran Solo) di Mapolda Jateng, Kota Semarang, Senin (4/11).
Ketiga korban, yakni Nombon Susilo (NS), 19, warga Krajan RT 002/RW 001, Dusun Ngile, Kecamatan Tulakan, Pacitan, Jawa Timur (Jatim); Nugroho Eko Putro (NEP), 21, warga Kemiri RT 014/RW 006, Desa Juwiring, Kecamatan Juwiring, Klaten, dan Nurul Burhanudin (NB), 23, warga Tanggung RT 007/RW 009, Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, dianiaya para pelaku karena mengenakan baju berlambang perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Nombon dikeroyok para pelaku saat berada di depan PT SSI, Desa Pandeyan. Sedangkan, Nugroho dan Nurul mengalami nasib serupa saat berada di warung yang terletak di sebelah selatan Balai Desa Telukan, Grogol.
Akibat aksi pengeroyokan itu, para korban mengalami luka sayatan akibat serangan senjata tajam. Untungnya, nyawa ketiga korban itu berhasil diselamatkan setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Budi menyebutkan pelaku penganiayaan itu berjumlah sekitar 50 orang. Namun, hingga saat ini pihaknya baru meringkus 11 orang tersangka, yang berinisial PT, HA, YP, R, S, B, PH, AE, DI, J, dan EG.
“Ke-11 tersangka ini memiliki peran yang berbeda-beda. Tapi total pelakunya mencapai 50 orang lebih. Yang belum tertangkap masih terus kita buru, tapi sebaiknya ya menyerahkan diri saja,” imbuh Budhi.
Lahan parkir
Para tersangka itu diduga berasal dari perguruan silat SH Winongo. Mereka melakukan aksi kekerasan karena dipicu perebutan lahan parkir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Solobaru, dengan kelompok para korban yang berasal dari PSHT dan organisasi laskar.
“Yang kita hadirkan di sini [telah diringkus] berasal dari 3 kelompok, SH Winongo, PSHT, dan juga Laskar. Kita enggak tebang pilih,” tegas Budhi.
Dari 11 orang yang diringkus aparat Polda Jateng itu, beberapa di antaranya harus mengalami luka tembak di bagian kaki. Budhi berdalih penembakan dilakukan karena tersangka berusaha melarikan diri.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jateng, Kombes Pol. Iskandar Fitriana Sutisna, mengatakan para tersangka dikenai pasal berlapis atas tuduhan melakukan tindak kekerasan secara massal hingga menyebabkan korban mengalami luka-luka.
“Pertama, Pasal 170 atau Pasal 351 dengan ancaman 5 tahun penjara. Kami juga kenakan Pasal 335 atau 363 KUHP, ancamannya 5 tahun 6 bulan penjara. Dan terakhir, Pasal 1251 UU Darurat ancamannya 10 tahun penjara,” tegas Iskandar. (Imam Yuda S./Semarangpos.com/JIBI)