KOMODITAS PERKEBUNAN Industri Pengolah Kopi Enggan Ekspansi

JAKARTA—Kendati potensinya tergolong tinggi, pelaku industri pengolahan kopi enggan melakukan ekspansi produksi lantaran khawatir dengan ketersediaan
bahan baku.

Andi M. Arif
redaksi@koransolo.co

Ketua Bidang Kopi Speciality dan Industri BPP Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, meramalkan pada 2023-2025 konsumsi bubuk kopi akan menjadi dua kali lipat atau menjadi sekitar 640.000 ton per tahun.
Dengan kata lain, akan ada defisit bubuk kopi 240.000 ton sekitar 3 tahun-5 tahun mendatang. Walau demikian, Moelyono menyatakan para pelaku industri enggan ekspansi produksi.
Menurut dia, para pelaku industri mengkhawatirkan kapasitas kopi petani tidak dapat memasok kapasitas produksi. Pihaknya tidak ingin mengulang sejarah yang terjadi pada industri cokelat nasional. “Industrinya sudah dibangun tapi [biji] cokelatnya tidak ada, kan konyol. Masa kami mau mengulang kejadian di industri cokelat,” ujar dia kepada Bisnis Indonesia, belum lama ini.
Menurut dia, konsumsi kopi nasional mulai mendekati kapasitas maksimal sejak 2014. Menjamurnya kafe, maraknya menu berbahan kopi di restoran dan hotel, dan perubahan gaya kerja di luar kantor menjadi pendorong pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri.
Persebaran konsumsi kopi masih terpusat di Pulau Jawa. Oleh karena itu, pihaknya akan meningkatkan konsumsi kopi di luar pulau Jawa.
Moelyono mengatakan lebih dari 50% produksi biji kopi mentah telah melalui proses hilirisasi. Hampir 60% kopi asalan dari petani telah melalui proses pengeringan (roasting), sedangkan selebihnya diserap dalam bentuk komoditas. Jika diperinci lebih jauh, industri kopi lokal memiliki kapasitas roasting sekitar 690.000 ton-700.000 ton per tahun, sedangkan penggilingan (grinding) sekitar 390.000 ton-400.000 ton.
Di sisi lain, produksi bubuk kopi ritel mendominasi hasil gilingan biji kopi yakni 70% untuk produksi kopi bubuk dengan ampas dan 20% untuk kopi bubuk tanpa ampas. Adapun, 10% dari hasil gilingan kopi dialokasikan untuk produksi minuman rasa kopi, permen rasa kopi, dan makanan serta minuman lainnya yang berbahan kopi.
Moelyono memproyeksikan utilitas grinding pada tahun ini berada di sekitar level 86,33% atau sekitar 600.000 ton. Utilitas grinding diprediksi stabil di posisi 95% pada tahun ini dengan konsumsi bubuk kopi nasional di sekitar 320.000 ton. (JIBI)