Memanen Sayur di Tempat Terdingin Bumi

Sejumlah misi perusahaan swasta dan NASA menciptakan proyek menanam dan memanen sayuran di medan ekstrem di Benua Antartika. Proyek ini juga bertujuan untuk uji coba menanam sayuran di ruang angkasa untuk upaya mengatasi kekurangan sayuran. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Benua Antartika ada di Kutub Selatan Bumi. Di tempat ini suhu udara bisa mencapai -99 derajat Celsius dan menjadi tempat terdingin di Bumi. Fakta tersebut membuat Antartika tak bisa dihuni kehidupan manusia kecuali beberapa belas orang peneliti yang hanya sementara waktu di sana. Tak banyak makhluk hidup di Antartika, hanya beberapa saja termasuk mikroorganisme (lihat grafis).
Namun, para peneliti yang tinggal di Stasiun Neumayer III Jerman di Antartika, baru-baru ini berhasil memanen sayuran yang ditanam di sana. Hasil panen pun cukup lumayan, terdiri dari 3,6 kilogram sayuran bahan salad termasuk 18 buah mentimun dan 70 lobak.
Bahan-bahan salad yang tampak lezat ditanam di laboratorium bernama EDEN-ISS itu diproduksi tanpa pupuk, sinar Matahari atau pestisida. Sebab sayuran ditanam menggunakan teknik hidroponik. Alih-alih menggunakan tanah, akar sayuran diletakkan di air yang kaya nutrisi dan pencahayaan LED yang dioptimalkan meniru kondisi Matahari.
“Setelah menabur benih pada pertengahan Februari, saya harus berurusan dengan beberapa masalah yang tidak terduga, seperti kegagalan sistem kecil dan badai terkuat selama lebih dari satu tahun, kata Paul Zabel, seorang insinyur yang terlibat dengan proyek itu, dilansir dari interestingengineering.com belum lama ini.
Panen sayur ini hanyalah awal dari misi The German Aerospace Center, yang mengoordinasikan proyek ini. Lembaga ini memiliki rencana untuk meningkatkan produksi sehingga mereka dapat memanen empat hingga lima kilogram sayuran dalam seminggu. Proyek ini juga memiliki aplikasi menarik untuk menanam makanan dalam kondisi keras lainnya.
The International Space Station (ISS) juga telah mencoba pertanian skala kecil tanpa pupuk atau sinar Matahari.
Pada 2015 astronot Scott Kelly menumbuhkan beberapa jenis selada di stasiun luar angkasa. Proyek berbasis Antartika ini terlihat berkembang dari sayuran hijau ke sayuran lain termasuk lobak, tomat, mentimun, paprika, dan bahkan bumbu dapur. Mempelajari cara menanam makanan dalam kondisi sulit sangat penting untuk misi potensial di masa depan ke Mars.
Gioia Massa dari NASA mengatakan semakin jauh manusia menjauh dari Bumi, semakin besar kebutuhan untuk menumbuhkan tanaman makanan, daur ulang atmosfer, dan manfaat psikologis. “Saya pikir sistem tanaman akan menjadi komponen penting dalam jangka waktu panjang skenario eksplorasi,” kata Massa.
Baik proyek Antartika dan ISS menggunakan lampu LED berwarna berbeda untuk merangsang pertumbuhan. Lampu merah dan biru bercampur untuk membuat cahaya merah muda yang diperlukan tanaman untuk melakukan fotosintesis.
“Panjang gelombang biru dan merah adalah panjang minimum yang diperlukan untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik,” kata Ray Wheeler dari Kantor Program Penelitian dan Teknologi Eksplorasi NASA.
Wheeler mengatakan gelombang itu mungkin yang paling efisien dalam hal konversi daya listrik. LED hijau membantu meningkatkan persepsi visual manusia tentang tanaman, tetapi mereka tidak mengeluarkan cahaya sebanyak merah dan biru.
Proyek lain yang menggunakan sistem serupa adalah Square Roots, sebuah permulaan pertanian yang didanai oleh Kimbal Musk. Perusahaan menggunakan kontainer pengiriman yang dilengkapi dengan sistem hidroponik untuk menanam makanan di ruang kota kecil. Misi ini bertujuan untuk mengurangi transportasi barang segar yang merusak lingkungan dan mendorong orang untuk makan makanan lokal.
Planet Mars
Dilansir dari futurism.com belum lama ini, proyek ini sedang menguji bagaimana tanaman dapat tumbuh tidak hanya di tempat-tempat yang ekstrem di Bumi, seperti kutub dan gurun. Akan tetapi juga dalam kondisi yang tidak bersahabat dari planet lain (diharapkan memberi manusia sayuran segar ketika mereka menjajah bulan, Mars, dan lain-lain).
NASA memperkirakan bahwa perjalanan ke Mars hingga kembali ke Bumi akan membutuhkan ribuan pon makanan. Empat anggota kru dalam misi tiga tahun akan membutuhkan lebih dari 24.000 pon (10.886 kilogram) makanan untuk makan tiga kali sehari.
Jika proyek itu dapat memulai kebun aeroponik ketika mereka mendarat, dan mensintesis persediaan lain (seperti nutrisi dan air) dari tanah di rumah baru mereka, maka mereka dapat memperluas pasokan makanan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun tanpa membawa beban tambahan makanan di atas kapal.
Memiliki sayuran segar di Mars atau planet lain juga dapat memiliki efek kesehatan yang penting. Produk segar mengandung antioksidan yang diharapkan NASA dapat membantu melindungi astronot terhadap radiasi, apalagi mereka harus mengonsumsi banyak nutrisi seperti Vitamin C yang hilang ketika buah dan sayuran dikeringkan.
Menurut AP, kru Neumayer berencana untuk memanen empat hingga lima kilogram (8,8 hingga 11 pon) buah dan sayuran per minggu. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, percobaan akan menunjukkan fakta bahwa astronot dapat menanam berbagai sayuran di luar angkasa dan di Mars daripada yang saat ini dibudidayakan di ISS. (salsabila@harianjogja.com)