PENCEMARAN SUNGAI BENGAWAN SOLO Bupati: Jangan Sampai Antarkepala Daerah Gelut!

SRAGEN—Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) segera mengatasi masalah pencemaran air di Sungai Bengawan Solo.
Penegasan itu Bupati Yuni saat ditemui Koran Solo di sela-sela kesibukannya di Hotel Surya Sukowati, Rabu (6/11). Terkait masalah pencemaran air di Sungai Bengawan Solo tepatnya di wilayah Sragen, kata Bupati, Pemprov Jateng sudah berkirim surat kepada Pemkab Sragen untuk mengecek kondisi di lapangan. Setelah menerima surat itu, Bupati langsung memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menerjunkan tim guna mengamati dan mengambil sampel air di Sungai Bengawan Solo.
“Setelah kita periksa, ternyata pencemaran Sungai Bengawan Solo itu bukan dari kita [pabrik di wilayah Sragen]. Pencemaran itu dari pabrik-pabrik yang ada di atas atau hulu dan tidak masuk wilayah Sragen. Kita yang ada di Sragen hanya terkena dampaknya. Dampak dari pencemaran air di Sungai Bengawan Solo itu sudah jadi masalah lintas kabupaten dan kota. Itu sebabnya, provinsi harus menyelesaikan masalah ini,” terang Bupati.
Pencemaran air di Sungai Bengawan Solo membuat ribuan ikan mati sejak sepekan terakhir. Tidak hanya itu, air di Sungai Bengawan Solo juga berwarna hitam kehijauan dengan rasa yang cukup pahit. Rasa pahit dan aroma tidak sedap itu kerap dirasakan oleh para penambang pasir di dasar Sungai Bengawan Solo, tepatnya di kawasan Masaran dan Sidoharjo.
Yuni menilai, pencemaran air di Sungai Bengawan Solo itu bisa memicu konflik antarkepala daerah jika tak kunjung diselesaikan. Pasalnya, pencemaran air di daerah hilir ditengarai akibat tidak maksimalknya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dari perusahaan atau industri di daerah hulu di kabupaten lain. Atas dasar itu, Pemprov Jateng diharapkan bisa mengambil langkah tegas supaya masalah pencemaran air di Sungai Bengawan Solo itu tidak berlarut-larut.
“Provinsi harus turun tangan. Segera saja temukan masalah dan cari solusinya. Jangan sampai berlarut-larut. Jangan sampai terjadi antarkepala daerah malah gelut dhewe [bertengkar sendiri]. Terus bagaimana nanti?” selorohnya.
Sementara itu, Kepala DLH Sragen, Samsuri, belum bisa memastikan kandungan zat berbahaya dalam sampel air yang diambil di Sungai Bengawan Solo. Sampel air itu telah diserahkan ke Laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret.
“Kami mempercayakan kepada Lab MIPA UNS yang sudah terakreditasi. Hasilnya bisa diketahui kapan? Saya belum bisa memastikan,” ucapnya. (Moh. Khodiq Duhri)