Presiden ingatkan PERBANKAN Turunkan Suku Bunga Kredit!

JAKARTA—Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perbankan nasional serius menurunkan suku bunga kredit karena suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate sudah turun hingga 100 basis poin (bps) sejak Juli 2019.

Lalu Rahadian
redaksi@koransolo.co

Hal itu diungkapkan Presiden di depan para bankir saat membuka acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan. Rabu (6/11). ”Saya mengajak untuk memikirkan serius menurunkan suku bunga kredit,” kata Jokowi.
Menurut Presiden, perbankan di negara lain sudah banyak yang menurunkan suku bunga kredit perbankan mereka. Hal itu sebagai tindak lanjut atas kebijakan bank sentral negara lain yang menurunkan suku bunga acuan.
Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate sebanyak 100 bps menjadi 5% per akhir Oktober. Dengan kondisi tersebut, dia menilai perbankan nasional harus segera menindaklanjuti dengan menurunkan bunga kredit. ”Masak negara lain sudah turun, turun, turun, kita BI rate [BI 7 days reverse repo rate] sudah turun, banknya belum. Saya tunggu,” ungkap Jokowi.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia, suku bunga kredit bank umum cenderung turun dalam empat tahun terakhir. Hanya, penurunannya memang tidak tajam. Sebagai gambaran suku bunga kredit untuk modal kerja pada 2015 rata-rata 12,48% per tahun. Sedangkan pada Agustus 2019, suku bunga tersebut telah bergerak turun menjadi 10,40% per tahun.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyindir perbankan yang masih nyaman memberikan pembiayaan kepada nasabah besar dan melupakan nasabah kecil. “Saya mengajak bapak ibu semuanya jangan hanya membiayai yang besar-besar saja,” kata Jokowi.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia berjumlah 60 juta. Mereka membutuhkan pembiayaan perbankan agar bisa berkembang dan naik kelas.
Sementara itu, sejumlah perbankan memastikan telah menurunkan suku bunga kredit. Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Panji Irawan, mengatakan perbankan pasti menurunkan suku bunga jika pasar bergerak ke arah tersebut.
Bank Mandiri telah menurunkan suku bunga kredit di sejumlah segmen seperti kredit pemilikan rumah (KPR), korporasi, dan trade finance. ”Kalau untuk KPR saya rasa secara year-to-date 25 bps-50 bp sudah turun,” kata dia.
Persaingan Pasar
Tak hanya itu, penurunan suku bunga juga dilakukan perbankan karena persaingan pasar yang sengit. Bahkan Panji menyebut bank dalam kondisi banting-bantingan diskon bunga kredit.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berjanji segera menurunkan suku bunga kredit. Direktur Utama BRI, Sunarso, mengatakan penurunan suku bunga kredit akan dilakukan perseroan paling cepat satu bulan setelah penurunan BI 7 days reverse repo rate. Hal itu karena menyesuaikan tenor deposito terendah.
“[Suku bunga kredit] pasti akan turun, tinggal time lag-nya itu berapa, dan mempercepat time lag itu banyak caranya. Tergantung tadi, apabila kita bisa temukan cara yang lebih efisien. Contoh suku bunga turun hari ini, tapi kita kan masih punya dana yang tenornya paling cepat satu bulan. Artinya itu masih butuh transmisi dan waktu,” tutur Sunarso.
Di sisi lain, lambatnya penurunan suku bunga kredit disinyalir terjadi karena persoalan likuiditas. Menurut Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani, persoalan likuiditas membuat bank menunda penurunan suku bunga kredit.
“Kenapa? Karena ternyata persaingan suku bunga dana dan SBN [surat berharga negara] cukup besar. SBN kan 15%, pajaknya kemudian bunganya sekarang dari 6,8% sampai 7%. Tapi deposito [suku bunganya] 5% dan LPS [Lembaga Penjaminan Simpanan] menetapkan 5,75%,” kata Aviliani.
Menurut Aviliani, seluruh otoritas sebaiknya mendiskusikan bersama persoalan suku bunga yang berbeda antara SBN dan simpanan berjangka untuk mencari solusi suku bunga kredit murah (Maria Elena/Detik/JIBI)