Setiap Kamis, ASN Karanganyar Berbaju Warok

KARANGANYAR—Baju tani atau baju warok menjadi pakaian dinas harian (PDH) adat setiap Kamis bagi ASN di lingkungan Pemkab Karanganyar.
Peraturan mulai berlaku Kamis (7/11) berdasar Surat Edaran (SE) Bupati Karanganyar No. 025/7296.17 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian (PDH) Adat Bagi Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Surat ditandatangani Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karanganyar, Sutarno. SE dibuat menindaklanjuti Surat Gubernur Jawa Tengah No.065.5/0019836 tanggal 12 September 2019 tentang Pakaian Adat atau Tradisional.
Ketentuan menggunakan PDH adat sebagai berikut. PDH adat bagi pria, terdiri dari baju hacinco atau baju tani atau warok warna hitam serta celana hacinco/tani/warok warna hitam, ikat kepala atau iket, dan sepatu sandal. PDH Adat bagi wanita, terdiri dari baju kebaya model kutu baru dengan bahan dan warna bebas tetapi tidak boleh brokat, bawahan kain jarit dengan motif atau warna bebas, warna hijab menyesuaikan bagi pegawai wanita berhijab, bagi pegawai wanita yang tidak berjilbab rambut disanggul sederhana atau dicepol, dan mengenakan sandal.
Sekda Kabupaten Karanganyar, Sutarno, menyampaikan kebijakan itu dibuat dalam rangka melestarikan pakaian adat di Kabupaten Karanganyar. ”Itu menindaklanjuti dari provinsi sebagai pelestarian adat budaya. Kami menyemangati ASN ikut melestarikan budaya dengan mengenakan pakaian adat. Pengadaan masing-masing pribadi. Kami enggak mengoordinasi,” tutur Sutarno saat ditemui wartawan di sela-sela acara, Rabu (6/11).
Pantauan Koran Solo di Pasar Jungke Karanganyar, sejumlah pedagang pakaian mengaku kehabisan stok pakaian hacinco. Padahal sejumlah ASN yang berburu pakaian. Sutarno menyampaikan Pemkab memberikan kelonggaran pada hari pertama. ”Selanjutnya tata tertib pakaian dinas ASN kan harus ditaati. Pakaian dinas hari Kamis kan batik. Ini mulai tanggal 7 November [Kamis] pakai itu [pakaian hacinco],” tutur dia.
Lestarikan Budaya
Peraturan itu berlaku untuk pegawai Disdikbud hingga tingkat sekolah, DKK hingga tingkat UPT RSUD dan UPT Puskesmas, dan pegawai kecamatan hingga kelurahan/desa. Di sisi lain, penggunaan pakaian dinas bagi pegawai yang melaksanakan tugas operasional/lapangan pada Satpol PP, Dishub PKP, BPBD, tenaga medis dan paramedis, diatur OPD masing-masing sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PDH hari lain menyesuaikan Perbup No.2/2019 tentang Pedoman Pakaian Dinas. Hari Senin mengenakan PDH warna keki, Selasa mengenakan batik, Rabu mengenakan pakaian putih-hitam, Kamis yang sebelumnya mengenakan batik diganti pakaian hacinco, dan Jumat mengenakan pakaian olahraga. Koordinator Lingkungan (Korling) Kelurahan Tegalgede, Sunarto, bersama beberapa rekan kerja ke Pasar Jungke Karanganyar untuk membeli pakaian hacinco. ”Ya bagus melestarikan budaya. Enggak repot, tetapi memang dadakan. Setahu saya model pakaian jawara. Celana cingkrang dan pakai sandal gunung,” ujar dia.
Rekan kerja Sunarto, Megawati, mengaku sudah menyiapkan pakaian adat untuk Kamis. Dia akan mengenakan kebaya kutu baru dengan kerudung warna senada. Menurut dia, kebijakan itu tidak menyulitkan karena sudah memiliki stok kebaya kutu baru di rumah. Sementara itu, sejumlah pedagang di Pasar Jungke Karanganyar mengaku kewalahan memenuhi permintaan pakaian hacinco sejak dua hari terakhir.
Harga satu setel pakaian hacinco bervariasi dari Rp75.000-Rp170.000 tergantung ukuran dan bahan. Satu setel pakaian hacinco terdiri dari baju, celana, dan iket. Pedagang pakaian itu menjual hacinco saban hari tetapi pembeli tidak banyak. Berbeda dengan dua hari terakhir. Pembeli mencapai puluhan orang per hari. Pemilik Kios Pak Waluyo, Waluyo, menyampaikan kulak pakaian hacinco ke Pasar Klewer.
”Ini kulak lagi karena stok habis. Biasanya enggak ada yang beli, kecuali beli untuk oleh-oleh ke luar Jawa, Jakarta. Biasanya sedia 30 setel, ini jadi 100 setel lebih. Sudah dua hari kurang terus. Saya bisa menjual 50 setel per hari,” ujar dia. (Sri Sumi Handayani)