DUGAAN POLITIK UANG PILKADES NGABEYAN Polisi Temukan Indikasi Pelanggaran

WONOGIRI—Polisi menemukan indikasi pelanggaran dalam kasus dugaan praktik politik uang dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Ngabeyan, Sidoharjo, Wonogiri, September lalu.
Polisi akan melaksanakan gelar perkara untuk menentukan bisa tidaknya penyelidikan naik menjadi penyidikan.
Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Purbo Ajar Waskito, kepada Koran Solo, Kamis (7/11), menyampaikan pihaknya sudah meminta keterangan semua pihak terkait, seperti tim sukarelawan Didik Andriatno selaku pengadu, kedua teradu, dan sejumlah saksi lainnya. Purbo menyebut selama langkah itu dilaksanakan penyelidik menemukan indikasi pelanggaran yang diduga dilakukan teradu. Namun, polisi hingga sekarang belum menyimpulkan karena masih menghimpun alat bukti. Saat ditanya bentuk indikasi pelanggarannya apa, Purbo belum dapat menyampaikannya sebelum ada hasil gelar perkara.
”Kesimpulan akan diambil melalui gelar perkara. Ada dua kemungkinan, kalau tidak cukup alat bukti aduan bisa dihentikan. Sebaliknya, kalau kasus ini cukup bukti bisa ditingkatkan menjadi penyidikan,” kata Purbo mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati saat dihubungi Koran Solo.
Terkait progres penanganan kasus serupa di Sugihan, Bulukerto, Purbo menginformasikan penyelidik juga sudah meminta keterangan pengadu, teradu, dan saksi. Dia mendapat kabar bahwa pengadu, Kasto, akan mencabut aduan. Namun, hingga November ini belum ada pencabutan aduan secara resmi. Terlepas dari hal itu polisi masih terus menyelidikinya selama aduan belum dicabut. Ditanya alasan pengadu ingin mencabut aduan, Kasatreskrim masih akan mempelajari penyelidikan terlebih dahulu.
Menanggapi hal itu, Kasto saat dimintai konfirmasi Koran Solo menyatakan tidak pernah menyampaikan kepada polisi bahwa dirinya akan mencabut aduan. Dia menegaskan sama sekali tidak berniat mencabut aduannya. Calon kades yang kalah dalam kontestasi Pilkades Sugihan itu mengaku tak gentar meski dua saksi yang diajukan malah berbalik tak mengakui menerima barang atau uang yang disebutnya dari cakades terpilih, Murdiyanto. Selain itu, keduanya justru menuduh Kasto merekayasa kasus. Kasto mengaku sebelumnya sudah mencium gelagat mereka yang tidak baik.
”Sebelum dimintai keterangan polisi kedua saksi saya tak bisa saya hubungi. Sampai sekarang pun saya belum bisa bertemu lagi dengan mereka. Kalau mereka berbalik arah enggak masalah. Nanti akan terbukti pada waktunya,” ulas Kasto.
Seperti diketahui, Satreskrim Polres Wonogiri menerima dua aduan kasus dugaan politik uang dalam Pilkades Ngabeyan dan Sugihan tak lama setelah pemungutan suara, 25 September lalu. Kasus di Ngabeyan diadukan tim sukarelawan cakades yang kalah dalam kontestasi, Didik. Sukarelawannya menuding dua orang bermain uang agar warga memilih kompetitor Didik, Pardi. Salah satu orang tersebut saat itu tercatat sebagai anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Setelah kasus itu mengemuka panitia pilkades mengganti KPPS bersangkutan. (Rudi Hartono)