Fokus Menyiapkan Pasar

Akbar Evandio
redaksi@jibinews.co

Menilik persiapan menuju era Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) yang akan berlangsung setidaknya setahun dari sekarang, para pemangku kepentingan berlomba-lomba menyiapkan berbagai pendukung seperti regulasi, rencana investasi, produk dan teknologi, serta kesiapan pasar.
Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto mengatakan bahwa investasi, proses produksi, serta pendukung dalam rencana penerapan KBL diharapkan mampu berkembang baik dengan dukungan Peraturan Presiden No.55/2019 yang mencakup klausul pemberian sejumlah insentif.
“Industri otomotif, khususnya KBL sama seperti industri lainnya tentu memiliki rantai proses yang cukup kompleks dari hulu ke hilir. Berbagai insentif yang mungkin dapat muncul dari Perpres No.55/2019 tentu akan memberikan dampak positif bagi investasi,” katanya.
Dia menjelaskan, jika berkaca pada roadmap Kementerian Perindustrian di mana 20% dari 1,69 juta pasar otomotif Indonesia pada 2025 akan mulai terisi oleh KBL, setidaknya akan ada 338.000 unit KBL yang berpotensi beredar di pasar.
Namun, berdasarkan data pemberian insentif terhadap KBL di beberapa negara, ternyata tingkat komposisi perkembangan jumlah KBL masih bisa dibilang tidak terlalu tinggi. China, Belanda, dan Amerika Serikat masih berkutat di sekitar angka 3%. Komposisi KBL pun berbanding dengan jenis kendaraan lain dan Norwegia merupakan negara yang menunjukkan tingkat keberhasilan program itu cukup tinggi mencapai 40%.
Menurutnya, selain menyiapkan produk dan juga teknologi untuk mendapatkan penetrasi yang optimal, dibutuhkan juga kesiapan pasar. Perpres yang ada akan dapat mendorong pertumbuhan pengadaan KBL dan teknologinya, tetapi akan lebih optimal apabila pasar juga disiapkan.
“Artinya, harus ada yang memikirkan tingkat marketability, dengan begitu akan ada kecocokan yang tepat antara produk yang disediakan dengan kebutuhan pasar sehingga penetrasinya sempurna.”
Menurut dia, para Agen Pemegang Merek (APM) di Indonesia dalam 10 tahun ini sudah memasarkan KBL rata-rata berjenis kendaraan listrik hibrida atau hybrid electric vehicle (HEV). Penetrasi pasarnya belum cukup tinggi. Artinya, ada tantangan besar untuk mencapai target peta jalan (roadmap) pada 2025 dengan optimal.
Saat ini, setidaknya ada lebih dari 5.400 pengguna jenis KBL di Indonesia atau tak sampai 1% dari total kendaraan yang ada. Menurutnya, apabila pasar bisa disiapkan dalam setahun ini, maka pada saat dimulainya era KBL, pelaksanaan dan penerimaannya akan lebih optimal.
KBL akan memberikan benefit seperti biaya operasional (running cost) murah dan juga perawatan yang lebih mudah. Namun, dia menggarisbawahi, beberapa kekhawatiran seperti harga yang relatif tidak murah, kesiapan infrastruktur di berbagai daerah, kemudahan penggunaan stasiun pengisian yang cepat juga menjadi perhatian dan persiapannya juga perlu dimatangkan.
“Salah satu yang menjadi tugas kami di APM adalah untuk dapat membuat marketability di level yang baik antara pilihan produk dan kebutuhan. Dalam mata rantai industri ini, kami berada di tengah antara produsen dan market,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya akan memilih produk dan teknologi KBL yang tepat sesuai dengan kebutuhan pasar dan berbagai kondisi lainnya.
Era Energi Bersih
Mercedes-Benz Indonesia menjadi salah satu pabrikan mobil yang serius dalam menunjang infrastruktur elektrifikasi kendaraannya. Perusahaan asal Jerman itu telah menginisiasi tren mobil listrik dengan membangun dua stasiun pengisian daya (charging station).
Deputy Director Sales Operations and Product Management PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MDBI) Kariyanto Hardjosoemarto mengatakan, era kendaraan listrik merupakan suatu keharusan dan tidak dapat dihindari lagi. Mulai dari pemain, pemerintah, dan pasar harus mengikuti tren, untuk membangun lingkungan yang lebih bersih dan bebas emisi.
“Inisiatif Mercedes-Benz yang pertama adalah membuka charging station di Plaza Indonesia dan di CIBIS Nine Building, Jl. T.B. Simatupang. Itu sebagai bentuk kampanye dan edukasi agar ketika mobil ini berada di jalan, segala infrasturktur penopangnya berjalan beriringan,” ungkapnya.
Menurut dia, Mercedes-Benz bakal mulai memasarkan mobil listrik rakitan atau completely built up (CBU) sebagai pelopor pembelajaran agar memberikan gambaran penanganan komponen dan sebagainya sebelum bisa dirakit di Indonesia.
“Berbicara skala bisnis, KBL ini masih dapat dikatakan sebagai permulaan, belum diketahui seberapa besar volume pasarnya. Jadi, perlu pelajari segala penunjangnya, sebelum memilih jalur produksi,” lanjutnya.
Varian mobi listrik Mercedes-Benz yang siap masuk ke pasar Indonesia antara lain E350i, 3rd gen plug-in hybrid, S560i, C300i, dan akan menyusul E300i. Namun, dari segi harga jual belum ditentukan karena masih menunggu insentif pajak kendaraan listrik dari pemerintah.
“Kami lihat Perpres [No.55/2019] sebagai payung hukum sudah baik, akan diikuti pelaksanaannya oleh kementerian terkait untuk mengeluarkan aturan pelaksanaannya. Pemerintah tentunya memiliki orientasi menuju era KBL, dan kami juga siap berpartisipasi,” ujarnya
Dia optimistis kendaraan listrik nantinya akan memenangkan pasar sehingga seluruh pihak siap beralih menuju industri kendaraan listrik yang menunjang energi bersih. “Edukasi pasar adalah hal yang penting. Saya yakin, semua elemen, pemerintah, juga pemengang pasar melakukan market education melalui pendekatan yang baik dan semua pihak dapat berkolaborasi untuk mewujudkan era clean energy.” (JIBI/Bisnis Indonesia)