HARBOLNAS 2019 Asosiasi Awasi Diskon Fiktif

JAKARTA—Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memastikan akan mengawasi platform belanja online peserta Hari Belanja Nasional (Harbolnas) 2019 agar memberikan diskon yang sebenarnya, bukan diskon fiktif.

Dionisio Damara
redaksi@koransolo.co

Diskon fiktif diterapkan pelaku bisnis online untuk menarik perhatian konsumen. Pengawasan terhadap diskon fiktif untuk memastikan konsumen benar-benar diuntungkan dengan event belanja tahunan yang menawarkan diskon 35% hingga 90% tersebut.
Selain itu, pada Harbolnas 2019 penyelenggara memberikan porsi spesial bagi produk lokal dengan menyediakan hari khusus yakni pada 11 Desember. Tahun ini, penyelenggara menargetkan nilai transaksi mencapai Rp7,8 triliun atau meningkat 14% dibandingkan transaksi tahun lalu.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/11), mengatakan idEA sebagai koordinator Harbolnas 2019 memastikan diskon yang diberikan bukanlah diskon fiktif. Asosiasi ini akan mengawasi para peserta Harbolnas dalam memberikan diskon.
”Kami tidak ingin ada pemain yang berpikir pendek dan berniat mengambil untung dengan segala cara. Misalnya dengan diskon fiktif,” tutur pria yang akrab disapa Untung itu.
Selain diskon fiktif, idEA juga akan mengawasi diskon besar-besaran, namun barangnya tidak ada. Melalui langkah itu, dia berharap tidak ada peserta/penjual Harbolnas yang secara sengaja melakukan praktik promosi yang tidak etis.
“Bisa penggelembungan harga, bisa juga memberikan diskon besar tapi barangnya nggak ada sebenarnya. Jadi hal-hal itu tidak boleh dilakukan,” tegas dia.
Meski begitu, Untung mengakui untuk mengawasi ratusan platform yang menjadi peserta Harbolnas sulit. Untuk itu, dia mengarahkan pembeli mengalami hal tersebut untuk memberikan notifikasi keberatan dengan bukti akurat kepada platform bersangkutan. Jika langkah tersebut tak membuahkan hasil, pembeli bisa mengirimkan notifikasi kepada idEA.
”Tahun ini kami akan tambah poin yaitu buat satu email di mana ketika konsumen mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan dengan platform, kami dorong mereka menyelesaikan dengan platform dulu. Kalau tak selesai-selesai bisa email ke kami, nanti kami akan bantu,” jelas Untung.
Hukuman Sosial
Apabila melalui bantuan idEA tak membuahkan itikad baik dari platform/penjual peserta Harbolnas, idEA akan menerbitkan daftar platform yang menyeleweng itu. ”Jadi ini hukuman sosial karena ini bisnis reputasi. Kalau reputasi rusak maka selesai sudah,” ujar dia.
Dia menambahkan nilai transaksi Harbolnas selalu menunjukkan tren kenaikan. Pada 2017 Harbolnas mencatatkan nilai transaksi Rp4,8 triliun, sedangkan pada 2018 meningkat menjadi Rp6,8 triliun. Tahun ini idEA menargetkan nilai transaksi Rp7,8 triliun.
Terkait peserta, Harbolnas tahun ini menargetkan 300 peserta. Sampai saat ini sudah ada 170 platform yang telah mendaftarkan diri, di antaranya Lazada, iLotte.com, Elevania, Zalora, BukaLapak, dan Mitra Adiperkasa (MAP). Pendaftaraan masih dibuka sampai satu bulan ke depan.
Untung menjelaskan idEA ingin membuka jejaring baru dengan melibatkan banyak sektor dalam Harbolnas 2019. Salah satu yang menjadi fokus ialah partisipsi pelaku grocery. ”Tak hanya produk gaya hidup atau produk-produk elektronik, kami ingin semua bisa dipasarkan secara luas dan mudah melalui digital. Kami juga berharap platform yang memasarkan hasil alam bisa bergabung,” tutur Untung.
Atas dasar pertimbangan itu, pada Harbolnas 2019 penyelenggara menyediakan satu hari khusus, yakni pada 11 Desember, untuk promo produk lokal. Produk lokal meliputi kerajinan hingga hasil bumi seperti produk pertanian dan perikanan. Langkah tersebut merupakan kelanjutan Harbolnas 2018 yang mencatatkan setidaknya 46% barang yang terjual merupakan produk lokal.
”Tahun ini kami menyisipkan satu hari, 11 Desember, untuk produk lokal saja dan hasil bumi lokal,” imbuh dia.
Perencana keuangan, Aidil Akbar Madjid, mengingatkan konsumen agar memanfaatkan Harbolnas sesuai kebutuhan, bukan keinginan. ”Balik lagi, belanja itu sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Ketika saya butuh tas baru karena tas lama sudah rusak, maka itu kesempatan memanfaatkan Harbolnas,” kata Aidil. (Detik/JIBI)