Mengejar Target Kandungan Dalam Negeri

Riset yang dilakukan pemerintah pada 7 tahun silam berbuah manis dan telah menelurkan produsen mobil dan motor listrik lokal. Kendati begitu, rerata tingkat komponen dalam negeri industri mobil listrik masih di bawah 50%.
Sejumlah perusahaan lokal mulai fokus pada pengembangkan kendaraan listrik. Mereka di antaranya adalah PT Mobil Anak Bangsa dan PT Solo Manufaktur Kreasi yang merakit dan memproduksi mobil listrik, serta PT Gesits Technologies Indo yang memproduksi motor listrik.
Presiden Direktur PT Mobil Anak Bangsa (MAB) Leonard menuturkan bahwa perseroan sedang menyiapkan dua unit mobil listrik untuk Paiton, perusahaan pembangkit listrik asal Jepang dan satu mobil lagi dalam proses untuk memperoleh rekomendasi uji tipe ke Kementerian Perhubungan. Dua bus elektrik itu akan selesai pada November 2019. Bus ini dibanderol sekitar Rp4 miliar—Rp5 miliar per unit
Bila dua unit bus ini rampung, maka MAB akan mendatangkan komponen mobil listrik dari China untuk merakit sekurangnya 30 unit bus. Bus listrik ini didatangkan untuk memenuhi komitmen dari Perum Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek.
Sasaran pasar MAB adalah korporasi, perusahaan dan pemerintah yang memberikan fasilitas antarjemput bagi karyawan. Bus berukuran 12 meter ini ditawarkan ke Pemda Jawa Timur dan Jawa Barat. Untuk luar Pulau Jawa, perseroan akan menawarkan bus elektrik berukuran 8 meter.
Tantangan terbesar dalam bisnis mobil elektrik adalah keterbatasan komponen dalam negeri. Komponen yang tidak tersedia di Indonesia antara lain, chassis, baterai, dan motor listrik.
Kini MAB menggandeng Universitas Indonesia dan Universitas Semarang untuk mendesain chassis, sedangkan besi batangan masih diimpor dari China. Sementara itu, bagian badan mobil berasal dari Indonesia.
Dia mengakui bahwa untuk saat ini, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) masih 35%—40% dan direncanakan bakal naik bertahap menuju 60% pada 2023 sesuai dengan keputusan presiden.
Strategi yang dilakukan MAB untuk mampu bersaing adalah mengikuti regulasi Undang-Undang tentang Lalu Lintas yang menyatakan bahwa bus berukuran 12 meter harus memiliki berat sekitar 8 ton. Tantangan yang dihadapi oleh bus elektrik adalah bobot yang lebih berat dibandingkan dengan bus berbahan bakar fosil.
Tantangan Industri
Dalam kesempatan terpisah, CEO PT Gesits Technologies Indo (GTI) Harun Sjech mengungkapkan bahwa pihaknya menerima pemesanan motor listrik yang masih sesuai dengan target yang ditetapkan. Dalam catatan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), GTI menargetkan dapat memasarkan 60.000 unit motor listrik pada tahun ini.
GTI mengincar pasar fleet (armada) dari perusahaan dan lainnnya. Manajemen perseroan mengklaim, animo masyarakat terhadap motor Gesits sangat baik.
“Untuk saat ini, kami fokus dengan kualitas produk dan delivery ke customer. Gesits tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan semua pihak, termasuk korporasi. Jika sudah ada rencana yang lebih konkret, kami akan sesegera mungkin menginformasikan hal ini,” katanya.
Kini, tantangan yang dihadapi oleh perseroan, pertama adalah terbatasnya edukasi publik mengenai motor listrik sebagai substitusi dari motor konvensional.
Kedua, mengubah kebiasaan orang yang biasanya mengisi motor dengan bensin, sekarang dengan menggunakan charging listrik. Sementara itu, untuk mendukung produksi motor listrik, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk. (SLIS) memberikan pinjaman kepada entitas anak usaha yakni PT Juara Bike.
Sekretaris Perusahaan Gaya Abadi Sempurna Wilson Teoh menuturkan, perseroan memperoleh dana intial public offering (IPO) senilai Rp57,5 miliar, manakala sebanyak 65% dari dana tersebut akan diberikan dalam bentuk pinjaman kepada Juara Bike dan sisanya untuk pembelian bahan baku impor.
Hingga saat ini, produksi sepeda motor listrik Juara Bike sudah mencapai 300 unit. Namun, produksi akan digenjot pada tahun depan, dengan target produksi 6.000—8.000 unit per bulan.
Manajemen perseroan optimistis permintaan atas produk kendaraan listrik memberikan peluang pasar yang besar baik dari sisi pangsa di dalam negeri maupun pasar ekspor.
Namun, ada beberapa risiko yang perlu diantisipasi pelaku usaha di sektor ini, seperti perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah sehubungan dengan impor, risiko ketergantungan pada produsen bahan baku dan risiko perubahan teknologi.
Risiko lainnya yakni risiko perubahan tingkat suku bunga dan risiko terkait sensitivitas perubahan kurs valuta asing yang juga dialami beberapa sektor lainnya.
Risiko lain yang bakal muncul adalah tingginya kandungan impor. Untuk meminimalisir risiko, maka perseroan berencana mengurangi komponen impor dalam sepeda motor.
Sampai dengan saat ini, TKDN sepeda motor listrik yang diproduksi oleh Juara Bike masih 40% dan bakal ditambah pada tahun berikutnya.
Saat ini, kebijakan untuk pelaku industri kendaraan berbasis listrik telah diatur dalam Peraturan Presiden No.55/2019 tentang Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.
Wilson menilai, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah yakni mempercepat penyelesaian perencanaan dan segera menyediakan aturan turunan dari kebijakan tersebut. (JIBI/Bisnis Indonesia/Novitas Sari Simamora)