Padi Unggulan Kabupaten Klaten Permintaan Benih Padi Rajalele Tinggi

KLATEN—Animo petani menanam varietas padi rajalele Srinuk dan Srinar cukup tinggi. Sejak diluncurkan Oktober lalu, para petani berbondong-bondong mempertanyakan ketersediaan benih ke petani peneliti serta Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten.
Pengembangan varietas padi rajalele Srinuk dan Srinar itu merupakan hasil kerja sama Pemkab Klaten dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sejak 2013. Penelitian memanfaatkan teknologi nuklir dengan metode mutasi genetik benih padi rajalele indukan.
Dari hasil mutasi genetik diperoleh calon varietas yang memiliki umur panen lebih singkat dan postur tanaman lebih pendek dibandingkan rajalele indukan. Dari umur panen 155 hari menjadi 110 hari. Sementara, ketinggian batang tanaman dari 160 sentimeter menjadi sekitar 115 sentimeter.
Setelah melalui proses seleksi, dua calon varietas rajalele yakni Srinuk dan Srinar akhirnya lolos sidang pelepasan varietas pada 27 Juni 2019. Pemkab memutuskan varietas itu menjadi varietas lokal atau benih padi hanya bisa ditanam di Klaten agar menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Bersinar. Varietas baru padi rajalele itu diluncurkan pada 22 Oktober 2019.
Sementara itu, selama proses penelitian, sejumlah petani Klaten digandeng sebagai peneliti. Salah satu petani peneliti yakni Nusanto Herlambang dari Desa Gempol, Kecamatan Karanganom.
Nusanto mengakui sejak diluncurkan dia kebanjiran permintaan benih rajalele Srinuk dan Srinar. Hampir saban hari, sekitar empat orang mendatangi Desa Gempol serta rumahnya mempertanyakan benih padi tersebut. “Ada yang mewakili kelompok ada pula yang mewakili KTNA. Selain datang ke rumah ada yang langsung datang ke penggilingan padi milik kelompok,” kata Nusanto saat ditemui Koran Solo di rumahnya, Kamis (7/11).
Permintaan tersebut tak bisa dipenuhi Nusanto lantaran masih ada tahap perbanyakan benih. Proses perbanyakan benih dilakukan Pemkab melalui lahan-lahan yang dijadikan penangkaran. “Akhirnya ketika ada yang datang saya hanya bisa memberikan sosialisasi saja,” urai dia.
Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti, juga mengakui animo petani tinggi untuk segera menanam dua varietas baru padi rajalele tersebut. Hanya, benih padi itu tak bisa serta merta disebarkan ke petani setelah dinyatakan lolos sidang pelepasan varietas. (Taufiq Sidik Prakoso)