Pencemaran Udara dari PT RUM Bau Busuk Kian Parah

SUKOHARJO—Masyarakat yang rumahnya berjarak puluhan kilometer dari pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, masih mencium bau busuk pada
Kamis (7/11).

Bony Eko Wicaksono
redaksi@koransolo.co

Padahal, Pemkab Sukoharjo telah meminta manajemen PT RUM untuk menghentikan sementara kegiatan produksi sembari melakukan pembenahan pengelolaan limbah udara secara tuntas.
Bau tak sedap tak hanya merebak di sejumlah desa di wilayah Nguter melainkan daerah yang jaraknya puluhan kilometer dari lokasi pabrik serat rayon seperti Bendosari dan Polokarto. Sebagian warga yang berdomisili di Bendosari dan Polokarto mencium bau busuk pada Rabu (6/11) malam hingga Kamis pagi.
Mereka terbangun dari tidur gara-gara menghirup bau busuk yang menyengat hidung. Bau busuk itu merebak selama puluhan menit. “Saya tak membayangkan bagaimana menderitanya warga Nguter yang rumahnya berjarak kurang dari satu kilometer dari pabrik. Tadi malam, bau tak sedap cukup parah. Saya sampai terbangun dari tidur,” kata seorang warga Desa Polokarto, Kecamatan Polokarto, Ratmi, saat berbincang dengan Koran Solo, Kamis.
Biasanya, limbah udara itu terbawa angin dan tercium warga yang rumahnya jauh dari pabrik pada malam hari dan pagi hari. Bau busuk yang merebak itu mengganggu masyarakat terutama pada malam hari. Mereka harus memakai masker di dalam rumah untuk melawan bau busuk hampir setiap malam.
Kondisi serupa muncul pada Kamis pagi. Bau busuk kembali merebak saat masyarakat melakukan aktivitas sehari-hari. “Wong cilik hanya bisa sambat dan ngudarasa kepada Allah SWT. Kami mencium bau busuk pada Kamis sekitar pukul 09.00 WIB. Kami susah bernapas gara-gara bau tak sedap,” timpal Parti, warga Desa Manisharjo, Kecamatan Bendosari.
Parti menilai manajemen PT RUM tak serius menuntaskan pembenahan pengolahan limbah udara. Padahal, pemerintah telah berulang kali melayangkan surat resmi agar manajemen PT RUM menghentikan sementara kegiatan produksi. Artinya, manajemen PT RUM dinilai tak mengindahkan surat dari pemerintah.
Warga terdampak limbah udara PT RUM direncanakan bakal menggelar Salat Istighasah di Masjid Al-Furqon, Nguter, Sukoharjo, pada Kamis malam. Mereka ingin meminta pertolongan Allah SWT agar terhindar dari bencana kerusakan lingkungan hidup.
Pemkab Sukoharjo telah dua kali menerbitkan surat resmi yang berisi permintaan penghentian sementara kegiatan produksi. Pemkab kali pertama menerbitkan surat resmi pada 28 September 2018 yang ditandatangani Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya. Dalam surat itu disebutkan manajemen PT RUM diminta menghentikan sementara uji coba produksi sembari melakukan pembenahan untuk menghilangkan limbah udara.
Kali terakhir, Pemkab menerbitkan surat resmi pada 26 Oktober yang berisi permintaan pengurangan jumlah produksi serat rayon selama sepekan. Apabila selama sepekan masih muncul bau busuk, manajemen PT RUM diminta menghentikan sementara kegiatan produksi sembari kembali melakukan pembenahan pengelolaan limbah udara.
“Hasil pengecekan instansi terkait bakal dilaporkan kepada Bupati Sukoharjo. Kami ingin menciptakan iklim investasi yang kondusif namun warga juga berhak mendapatkan perlindungan dari pemerintah,” kata Sekda Sukoharjo, Agus Santosa.
Sementara itu, Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, mengatakan telah memasang blower baru di sekitar alat Waste Water Treatment Plant (WWTP) atau instalasi pengolahan air limbah. Limbah diolah melalui tiga tahap, yakni kimia, fisika dan biologi. Selain itu, manajemen RUM langsung menutup WWTP dengan plastik agar emisi gas H2S tidak terbawa angin.
Manajemen PT RUM telah mengurangi jumlah produksi sesuai permintaan pemerintah. “Blower di WWTP yang rusak diperkirakan menjadi sumber munculnya limbah udara. Sudah kami ganti dan pasang blower baru serta menutup WWTP dengan plastik. Hasilnya cukup signifikan,” kata dia.