E-RETRIBUSI Alat Tapping Rusak Tak Hanya di Pasar Klewer

MARIYANA RICKY P.D.

SOLO—Tersendatnya penarikan retribusi pe­manfaatan los/kios secara elektronik (e-retribusi) tidak hanya terjadi di Pasar Klewer.
Dua pasar tradisional lain, yakni Pasar Ngudi Rejeki Gilingan dan Pasar Gede juga mengalami kendala yang sama. Alat penarik retribusi elektronik atau tap reader machine (TRM) tak berfungsi optimal akibat gangguan sinyal. Buntutnya, para pedagang menunggak membayar retribusi hingga ratusan ribu rupiah tergantung lama tunggakan.Mereka mendapat surat tagihan untuk melunasi pembayaran hingga maksimal pada 25 Desember mendatang.
Salah seorang pedagang sepatu di Pasar Ngudi Rejeki Gilingan, Andika, mengaku baru melunasi tagihan retribusi sejak Maret hingga Oktober lalu senilai Rp700.000-an. “Rusaknya sejak April lalu, baru beres beberapa pekan ini. Ya, sinyal mesin masih hilang-timbul tapi enggak separah sebelumnya,” kata dia saat berbincang kepada Koran Solo, Senin (11/11).
Bersambung
ke hal 6 Kol. 1
Andika mengaku tunggakan tersebut tak hanya dialaminya, namun mayoritas pedagang. Salah seorang rekan pedagang bahkan menunggak hingga Rp1,4 jutaan. Nilai itu merupakan retribusi yang belum dibayarkan sejak tahun lalu.
“Ya, mereka banyak yang acuh saat menerima surat tagihan. Karena nilainya sangat besar. Memang per hari hanya Rp3.000, tapi akumulasinya jadi banyak. Sementara pasar semakin sepi. Apalagi yang di lantai II, sudah banyak yang enggak jualan,” keluh Andika.
Terpisah, salah seorang pedagang Pasar Gede, Wiharto, menyebut kerusakan TRM terjadi beberapa kali. Pada Maret lalu, alat itu rusak selama empat bulan yang lantas diperbaiki pada Juli. Sesudahnya, alat kembali rusak pada September yang kemudian kembali normal beberapa pekan lalu.
“Empat bulan itu teman-teman enggak bisa tapping. Lalu beberapa hari kemarin dapat laporan lagi alatnya enggak stabil. Kadang bisa, kadang enggak. Pembayaran jadi tersendat,” kata dia.
Kabid Pengelolaan Pendapatan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Erni Susiatun, mengakui TRM sempat mengalami pembenahan pada April-Mei lalu, namun saat ini alat sudah beroperasi normal. Surat tagihan yang dikirimkan kepada pedagang merupakan mekanisme rutin. Nominal tagihan yang dikirimkan kepada masing-masing pedagang bervariasi menyesuaikan lama tunggakan. Pembayaran tagihan itu bisa dicicil, hingga tenggat yang sudah ditetapkan.
“Sambil melunasinya, tagihan bulan berjalan tetap dihitung seperti biasa. Tagihan retribusi yang belum dibayarkan itu disesuaikan dengan aturan dan tidak dikenakan denda,” kata dia. (JIBI)