Kemacetan Lalu Lintas, Menurunkan Kualitas Hidup

Jakarta kembali masuk dalam daftar kota termacet di Asia Tenggara menurut survei Asian Development Bank 2019. Kemacetan di kota-kota besar merugikan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Investasi pada pembangunan infrastruktur sering dianggap sebagai sebuah solusi jangka panjang, namun sebuah riset mengatakan perbaikan infrastruktur justru akan menambah kemacetan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

Menurut Asian Development Outlook 2019 oleh Asian Development Bank (ADB), dari 45 negara anggota ADB ada beberapa kota yang paling padat karena kemacetan. Hasilnya, tiga kota di wilayah Asia Tenggara dinilai sebagai kota paling padat karena kemacetan.
Studi itu mengukur biaya kemacetan yang dihabiskan masing-masing negara dengan berfokus pada waktu yang hilang oleh para pengemudi dalam perjalanan mereka, biaya pengoperasian kendaraan dan tingkat polusi udara. Informasi tambahan juga dikumpulkan melalui data perjalanan yang diproyeksikan oleh Google Maps.
Dilansir dari Mashable, tiga kota di Asia Tenggara dengan kemacetan terparah itu adalah Manila (Filipina) memiliki nilai kemacetan sebesar 1,5; Kuala Lumpur (Malaysia) 1,4 dan Yangon (Myanmar) 1,38. Semua nilai itu di atas rata-rata nilai kemacetan negara-negara bagai catatan, nilai kemacetan rata-rata adalah 1,24. Di bawah negara-negara itu, ada Bandung dan Jakarta (Indonesia) yang memiliki nilai kemacetan sebesar 1,2.
Meskipun kemacetan hanya berarti perjalanan lebih lama. Namun berdasarkan laporan survei tersebut, efek kemacetan perkotaan dapat menurunkan kualitas hidup karena mobilitas yang terhambat. Kemacetan lalu lintas suatu kota juga bisa merugikan pemerintah setiap harinya.
Menurut studi Japan International Cooperation Agency (JICA), saat ini Filipina merugi setidaknya US$67 miliar karena kemacetan lalu lintas. Diperkirakan kerugian ini akan meningkat menjadi US$104 miliar pada 2035 apabila pemerintah tidak melakukan pembenahan.
Sedangkan dilansir dari Liputan6.com, kemacetan Jakarta dan sekitarnya yang dianggap sebagai kerugian Indonesia, merugikan pemerintah sebesar Rp56 triliun per tahun atau sekitar US$4 miliar.
Bank Dunia mengungkapkan untuk DKI Jakarta saja, total kerugian yang hilang akibat kemacetan lalu-lintas mencapai US$2,6 miliar atau sekitar Rp36,8 triliun. Jakarta juga masuk dalam daftar sepuluh kota dengan kemacetan lalu-lintas tertinggi di dunia. Bahkan berdasarkan Indeks Kemacetan Lalu-lintas TomTom, Jakarta adalah kota dengan kemacetan tertinggi di antara 18 kota besar di seluruh dunia.
“Dengan estimasi tambahan waktu sebesar 58 persen yang diperlukan untuk setiap perjalanan, ke manapun dan kapanpun di Jakarta,” ujar Global Director for Urban and Territorial Development, Disaster Risk Management and Resilience Bank Dunia, Sameh Wahba dalam laporan Bank Dunia berjudul Mewujudkan Potensi Perkotaan Indonesia.
Disebutkan kota-kota kecil lain di Indonesia, seperti Padang dan Jogja, juga bahkan mengalami kemacetan. Seperempat waktu perjalanan hilang akibat kemacetan lalu-lintas. Presiden Joko Widodo belakangan ini juga gencar melakukan investasi infrastruktur kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan di Jakarta dan kota-kota kecil metropolitan.
Menambah Kemacetan
ADB juga melakukan survei penyebab dari kemacetan lalu lintas yang tinggi dari tiga kota Asia Tenggara tersebut. Ada masalah yang sama pada tiga kota itu yaitu kurangnya metode transportasi umum yang efisien dan terjangkau.
Namun peningkatan fasilitas angkutan umum tidak berarti mengurangi kemacetan. Sebuah studi pada 2016 yang dilakukan oleh dua peneliti dari Universitas Ton Duc Thang Vietnam mengidentifikasi beberapa variabel lain yang berkontribusi pada keputusan masyarakat untuk menggunakan transportasi umum di Kota Ho Chi Minh, Vietnam.
Dilansir dari theaseanpost.com, kenyamanan, jarak perjalanan, biaya perjalanan, pendapatan, pernikahan status, jumlah anak, norma sosial dan keselamatan semuanya memainkan peran vital dalam keputusan memilih alat transportasi.
Belum selesai sampai di situ, seperti yang dicatat oleh ADB, ada kemungkinan bahwa peningkatan kapasitas jalan ketika transportasi publik diperbaiki akan mendorong tambahan pengemudi, sehingga mendorong kemacetan kembali ke tempat semula sebelum perbaikan dilakukan.
Bukti tentang dampak aktual transportasi umum pada kemacetan beragam, dan para peneliti di Amerika Serikat (AS) telah menemukan bukti bahwa meningkatkan angkutan umum tidak serta merta mengurangi kemacetan di kota-kota AS. Sementara memperluas angkutan massal kereta api akan mengurangi kemacetan. Hal ini tidak sama dengan perluasan ruang bus. (salsabila@harianjogja.com)