BI Masih Optimistis Perekonomian Lebih Baik

SOLO—Bank Indonesia (BI) masih optimistis perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, yang diperkirakan masih berlanjut, tidak akan membuat perekonomian domestik terpuruk.
Pada akhir 2019, BI memperkirakan perekonomian tetap tumbuh 5,08%, sedikit lebih baik dibandingkan kondisi semester I/2019 yang hanya tumbuh 5,06%. “BI akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait lainnya untuk memastikan tersedianya ruang bagi institusi keuangan untuk meningkatkan fungsi intermediasi sehingga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” papar anggota Dewan Gubernur BI, Erwin Rijanto, dalam peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan No 33 September 2019 di Hotel Alila Solo, Rabu (27/11).
Erwin yang menjadi keynote speaker dalam acara itu mengakui melemahnya perekonomian global sebagai dampak perang dagang akan menekan harga komoditas karena menurunnya permintaan. Meskipun demikian, BI yakin stabilitas sistem keuangan Indonesia masih terjaga.
Optimisme itu di antaranya didorong membaiknya kinerja investasi terkait penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN). Selain itu, BI menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dengan tetap memastikan stabilitas sistem keuangan.
“Dari sisi penyaluran kredit, kebijakan makroprudensial diarahkan untuk menunjang sektor-sektor utama perekonomian domestik serta sektor yang berwawasan lingkungan. Kebijakan makroprudensial BI lainnya akan dievaluasi secara periodik, termasuk berkoordinasi dan bersinergi dengan otoritas lainnya,” ujar dia.
Direkur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung, menjelaskan tekanan perang dagang masih memengaruhi pertumbuhan ekonomi global. Dampaknya terhadap sektor ekonomi domestik adalah konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi yang tumbuh melambat.
“Meskipun demikian, kemampuan bayar korporasi masih terjaga, tapi interest coverage ratio [ICR/kemampuan perusahaan memenuhi utang] korporasi sedikit menurun,” papar dia.
Selain itu, ketahanan perbankan terjaga, meski di beberapa aspek cenderung melambat. Misalnya, permintaan kredit dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). “BI7DRR [BI 7-day (Reverse) Repo Rate/suku bunga acuan] telah diturunkan 100 basis poin. Begitu pula dengan GWM [giro wajib minimum/simpanan minimum bank yang ditempatkan di BI] telah diturunkan,” imbuh dia. (Farida Trisnaningtyas)