LINGKUNGAN HIDUP Menggali Inspirasi Mengelola Sampah Elektronik

Perlombaan kemunculan alat-alat elektronik paling canggih juga mendorong jumlah sampah elektronik di dunia semakin menggunung. Jepang sebagai salah satu negara maju telah menerapkan berbagai sistem manajemen sampah elektronik, termasuk mewajibkan perusahaan elektronik raksasa mendaur ulang produknya sendiri. Sistem ini memberi inspirasi negara lain. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.
redaksi@koransolo.co

Jumlah sampah elektronik (e-waste), diprediksi akan terus bertambah setiap tahunnya. Menurut data dari PBB, masyarakat dunia telah menghasilkan 44,7 juta ton sampah elektronik pada 2016. Dilansir dari Liputan6.com, angka ini terus menanjak antara 3% hingga 4% setiap tahun. Dan pada 2021 nanti, jumlah sampah elektronik akan diperkirakan mencapai 52 juta ton.
Peralatan elektronik termasuk ponsel pintar termasuk perangkat bermaterial Bahan Berbahaya dan Beracun atau limbah B3. Beberapa bahan berbahaya yang terdapat di dalam barang elektronik bekas adalah Arsenic, PCBs dan Kadmium. Zat tersebut memiliki efek samping negatif masing-masing untuk tubuh manusia.
Arsenic misalnya, risiko yang bisa ditimbulkannya bukan semata gangguan metabolisme di dalam tubuh manusia ataupun hewan, ini juga dapat mengakibatkan keracunan bahkan kematian. Lalu ada PCBs yang zatnya akan persisten di lingkungan, dan mudah terakumulasi dalam jaringan lemak manusia dan hewan.
Akibatnya akan mengganggu sistem pencernaan hewan laut dan organisme karena zat itu bersifat karsinogenik. Sementara itu, Kadmium, yang biasa digunakan untuk pelapisan logam, terutama baja, besi dan tembaga, bersifat iritatif bagi kulit manusia.
Dilansir dari japantimes.co.jp, berdasar data PBB jumlah limbah elektronik terbesar dihasilkan di Amerika Serikat dan China, yang secara bersama-sama menyumbang 32% dari total. Negara ketiga yang paling boros volume limbah elektronik adalah Jepang yang membuang total 2,2 juta ton pada 2013.
Jepang merupakan salah satu negara yang bergelut dengan permasalahan limbah elektronik. Hal ini merupakan dampak dari masif dan cepatnya perkembangan teknologi untuk berbagai perangkat elektronik yang ada di negara mereka. Namun Jepang adalah negara pertama yang memberlakukan daur ulang sampah elektronik, dan sistem di sini lebih baik daripada di banyak negara.
Meski begitu, Jepang hanya mengolah sekitar 24 hingga 30 persen dari limbah elektroniknya, Pemerintah melaporkan bahwa pada 2013 ada 556.000 ton limbah elektronik dikumpulkan dan diolah di Jepang pada 2013, tetapi itu hanya menyumbang seperempat dari total limbah.
Di sisi lain, dengan meningkatnya penjualan barang elektronik dan siklus hidup yang lebih singkat produk elektronik masyarakatnya, masalah limbah elektronik tidak akan membaik dalam waktu dekat.
Jepang tak kehabisan akal. Pemerintah terus menciptakan inovasi-inovasi baru untuk mendukung regulasi pengolahan limbah elektronik. Pada November 2017 silam, Jepang telah mempersiapkan langkah untuk mengatasi persoalan limbah elektronik, yaitu meluncurkan proyek bernama Tokyo 2020 Medal Project.
Sejak 2017, para komite mengumpulkan sampah elektronik yang terbuat dari 100 persen logam. Tujuannya untuk membuat 5000 medali emas, silver dan bronze untuk Olimpiade dan Paralimpiade.
“Kami sangat berterima kasih pada kontribusi semua orang dalam proyek ini, kami harap proyek yang mendaur ulang sampah elektronik untuk berkontribusi pada lingkungan ini akan menjadi warisan dari Olimpiade Tokyo 2020,” kata situs resmi Olimpiade Tokyo 2020, dilansir dari thelogicalindian.com.
Ada 1741 kota di Jepang yang berpartisipasi dalam proyek ini. Jumlah itu setara dengan 90% dari jumlah kota di Jepang. Melalui kota-kota itu, komite berhasil mengumpulkan 78.985 ton sampah elektronik dan mengolahnya melalui proses pembongkaran, pengekstrakan dan penyempurnaan. Hasilnya adalah 32 kilogram emas, 3.500 kilogram silver dan 2.200 kilogram perunggu.
Logam-logam itu kemudian diberikan kepada desainer medali Olimpiade asal Jepang, Junichi Kawanishi yang memenangi kontes desain medali. Cara penanganan sampah elektronik dengan mengolahnya menjadi medali olimpiade bukan lah yang bertama, pada 2016, Olimpiade Rio di Brazil juga menggunakan cara ini. Sebanyak 30% dari medali perunggu dan silver mereka berasal dari daur ulang logam.
Namun Tokyo 2020 Medal Project adalah kali pertama masyarakat di suatu negara berpartisipasi langsung dalam proses daur ulang sampah elektronik, yaitu dengan menyumbangkan sampah elektronik mereka. Olimpiade Tokyo akan dilaksanakan pada Juli hingga Agustus 2020.
Di Amerika Serikat, sistem manajemen sampah elektronik juga sudah menyamai level Jepang. Dilansir dari Forbes.com, negara itu berhasil mengumpulkan 3,5 juta ton sampah elektronik. Sebanyak 70% kemudian didaur ulang dan dijual kembali sebagai komoditi. Seperti stainless steel, alumunium, koper, dan logam mulia untuk membuat papan sirkuit, gelas dan plastik.
Perusahaan Elektronik
Dilansir dari Liputan6.com, sejak 2001 melalui Japanese Home Appliance Recycling Law, pemerintah Jepang memang telah mewajibkan perusahaan elektronik yang ada di Negeri Matahari Terbit ini untuk mendaur ulang produk lama mereka. Salah satu perusahaan yang terkenal konsisten mematuhi aturan ini adalah Panasonic Eco Technology Center atau Petec yang ada di Kota Amagasaki, Jepang.
Dilansir dari website resmi Petec, perusahaan ini menggandeng beberapa agen pengumpul sampah elektronik resmi di berbagai kota. Agen resmi merupakan agen penjualan elektronik Petec. Kemudian masyarakat bisa mengumpulkan barang elektronik tidak terpakai milik mereka seperti televisi, kulkas dan mesin cuci kepada agen resmi itu.
Saat menyerahkan sampah elektronik mereka, mereka diwajibkan mengisi kupon dan membayar sejumlah biaya. Biaya ini nantinya akan digunakan Petec untuk membayar biaya pengumpulan, biaya transportasi agen menuju ke tempat pengolahan sampah elektronik dan tentu saja biaya mendaur ulang sampah-sampah elektronik itu.
Awalnya, Petec tidak memberi syarat apapun kepada masyarakat selain biaya, namun suatu fenomena terjadi. Sampah-sampah elektronik yang dikumpulkan kebanyakan masih berisi barang. Misalnya kulkas yang dikumpulkan masih berisi banyak bunga es dan makanan busuk, sehingga membuang waktu petugas untuk membersihkannya. Bahkan mesin cuci juga berisi setrika bekas dan barang lainnya.
“Demi efisiensi dan kualitas tinggi dari hasil daur ulang, diharapkan mengembalikan barang elektronik bekas sesuai dengan kondisinya saat baru dibeli dan serahkan pada agen resmi,” tulis website resmi Petec yang mewajibkan masyarakat membersihkan barang bekas elektronik mereka sendiri.
Kemudian di pabrik mereka, produk-produk rumah tangga yang telah usang disulap menjadi plastik untuk membuat meja dan kursi atau gantungan baju. Bahkan, dijadikan campuran aspal untuk jalan raya.
Secara ekonomis, daur ulang sampah elektronik memang tidak murah. Selain padat modal, masyarakat Negeri Sakura juga harus membayar untuk barangnya yang mau didaur ulang dengan membeli vocer di toko serba ada terdekat. Namun, berkat dukungan yang kuat dari pemerintah dan kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap lingkungan sistem seperti ini mampu untuk terus berjalan di Jepang.
Tak hanya Petec saja yang melakukan sistem daur ulang ini, sejumlah merek elektronik untuk produk rumah tangga buatan Jepang yang mendistribusikan produknya secara global, juga melakukan cara ini. Misalnya Sanyo, Toshiba, Hitachi, Sony dan Sharp. (salsabila@harianjogja.com)