Debit Air Minim Pintu Air Dam Colo Dibuka Januari

SUKOHARJO–Kondisi Dam Colo, Nguter, Kabupaten Sukoharjo memprihatinkan dengan debit air masih minim.

Indah Septiyaning W.
redaksi@koransolo.co

Datangnya musim penghujan hingga kini belum mampu menambah debit air sehingga berdampak pada tak beroperasinya saluran Dam Colo Timur maupun Colo Barat.
Pengoperasian kembali Dam Colo Timur pasca ditutup per 15 September lalu diperkirakan baru dilaksanakan pada Januari mendatang. Hal ini menunggu kondisi stok air di Waduk Gajar Mungkur memungkinkan untuk mengaliri saluran Dam Colo.
Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Jigong Sarjanto mengatakan pembukaan pintu air DAM Colo Timur masih belum bisa ditentukan. Hingga kini intensitas hujan belum tinggi sehingga stok air di Waduk Gajah Mungkur minim.
”Sesuai jadwal mestinya penutupan Dam Colo hanya satu bulan. Jika dihitung dari tanggal penutupan Dam Colo Timur pada 15 September, mestinya 15 Oktober sudah dibuka. Tapi karena belum ada hujan maka Dam Colo Timur belum dioperasikan kembali,” kata dia ketika berbincang dengan Koran Solo, Kamis (28/11).
Dia mengatakan pengoperasian kembali Dam Colo Timur menunggu persediaan air di Waduk Gajah Mungkur terpenuhi. Celakanya daerah tangkapan air di Wonogiri seperti daerah Tirtomoyo, Baturetno, Pracimantoro, Giritontro dan beberapa wilayah di Pacitan yang mengalir ke Waduk Gajah Mungkur belum turun hujan. Padahal daerah tangkapan air di Wonogiri baru turun hujan dua hingga tiga pekan setelah kawasan Sukoharjo. Secara otomatis persedian air di Waduk Gajah Mungkur masih harus menunggu lebih lama.
”Sekarang saja intensitas hujan belum tinggi. Padahal selisihnya sampai tiga minggu dari Sukoharjo. Otomatis pembukaan pintu air juga mundur jauh,” katanya.
Ihwal nasib petani aliran Dam Colo Timur, Jigong meminta mulai mencari sumber-sumber air alternatif. Meskipun kini kondisi sumber-sumber air alternatif seperti sumur pantek dan lainnya sudah mulai menipis persediannya. Keberadaan sumur pantek sebelumnya sangat diharapkan oleh petani agar bisa mendapatkan air. Namun karena dampak kemarau panjang hingga menyebabkan debit berkurang bahkan mengering.
“Kalau kondisi sekarang sumur pantek harus diperdalam agar bisa dapat air jelas cukup menyulitkan petani. Sebab butuh modal besar lagi,” lanjutnya.
Dengan kondisi seperti ini, Jigong mengatakan banyak petani membiarkan sawahnya bera atau tidak ditanami. Sedangkan sebagian petani lainnya menjual tanah sawah ke perajin batu bata agar tetap bisa mendapatkan penghasilan. Kondisi saat ini mulai dikhawatirkan berdampak pada kesejahteraan petani sebab tidak mendapatkan penghasilan akibat sawah kering. Selain itu juga berpengaruh pada produksi padi di Sukoharjo.
“Panen padi dari petani Dam Colo Timur juga menjadi bagian penting produksi padi Sukoharjo. Kalau sekarang saja tidak bisa tanam maka dikhawatirkan berpengaruh ke belakang dengan mudurnya panen dan itu juga membuat produksi bekurang,” lanjutnya.
Salah satu petani di wilayah Pranan, Kecamatan Polokarto, Raharjo, 62, mengaku terpaksa membiarkan sawahnya bera lantaran tak adanya air untuk tanaman padi. ”Mending saya berakan saja. Hla tekan saiki banyune urung mili [Dam Colo Timur],” katanya.
Dia berharap adanya kepastian kapan saluran Dam Colo Timur mulai dioperasikan kembali. Para petani kini menunggu kepastian itu sebelum memulai tanam padi.